Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 20. Seorang adik


__ADS_3

Shiiiiin !"


Terdengar suara teriakan seorang perempuan dari luar ruang perawatan, tempat Shin diobati.


*Daarrr~


Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan keras hingga membentur tembok, dan membuat orang-orang di dalam ruangan itu terkejut.


Seorang gadis perempuan yang juga merupakan murid akademi, muncul dan berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Shin.


"Shin! apa kau baik-baik saja?!" tanya gadis itu dengan panik sembari menepuk kedua pundak Shin.


Sementara Shin yang masih dalam proses pengobatan merasa sedikit kesakitan akibat tepukan yang cukup keras di pundaknya.


"Aku baik-baik saja, Velis," jawab Shin menahan sakit dengan sebelah mata yang terpejam.


"Hey Velis! jangan membuat Shin semakin menderita!" ucap seorang murid laki-laki yang datang menyusul.


Menyadari hal itu, Gadis yang bernama Velis tersebut segera mengangkat kedua tangannya dengan cepat.


"Ah, maafkan aku Shin," ucap Velis merasa bersalah.


"Shin, bagaimana keadaan mu ?" tanya murid laki-laki tersebut.


"Aku baik-baik saja Kuzu, hanya luka ringan," jawab Shin dengan santai.


"Lalu kenapa perban itu membalut tubuhmu ?" tanya murid laki-laki yang bernama Kuzu tersebut.


"bukan apa-apa," jawab Shin sembari memegang dadanya yang diperban dengan tangan kanan.


Shin memalingkan pandangannya dan melirik ke arah yang berlawanan dari Kuzu, dan velis.


Kuzu dan Velis merasa sangat bingung dan saling menatap satu sama lain, seakan saling bertanya dalam pikiran mereka.


"Hei Shin... aku tau kau sangat kuat, tapi aku heran kenapa kau tidak langsung menyelesaikan pertandingan itu dengan cepat ? bukankah dengan begitu kau tidak akan terluka seperti ini ?" tanya Kuzu yang penasaran soal pertandingan tadi.


"Ya, kau membiarkan gadis itu terus-menerus menyerang mu, sebenarnya apa yang kau pikirkan ?" lanjut Velis menambahkan pertanyaan.


Setelah mendengar pertanyaan itu, kemudian Shin memejamkan matanya sesaat dan melihat ke arah langit-langit atap ruangan dengan punggung yang menyandar ke tembok.


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan diriku terpojok dalam pertarungan, tapi jika memang seperti itu yang kalian lihat, mungkin itu memang benar," ucap Shin.

__ADS_1


Kuzu dan Velis terdiam sejenak dan mencoba untuk memahami maksud dari perkataan Shin yang ambigu.


"Apa maksudmu ?" tanya Kuzu merasa bingung.


"Apa gadis itu benar-benar menyulitkan mu ?" lanjut Velis.


"Tidak, hanya saja... ketika aku melihat wajahnya yang begitu serius saat menghadapi ku, sepintas dia terlihat seperti adik ku," jelas Shin.


"Ah, jadi kau merindukan adikmu ya?" ujar Kuzu.


"Tapi jika diperhatikan lagi, gadis itu memang sedikit mirip dengan adikmu," lanjutnya sembari memegang dagu dengan jari tangan kanannya.


"Eeeh, benarkah? memangnya seperti apa adikmu itu, Shin?" tanya Velis penasaran.


"Dia adalah gadis yang lemah..."


"Dan dia juga adalah gadis yang keras kepala..."


"Dia terus saja berusaha untuk menjadi kuat..."


"Dan sering sekali memaksakan dirinya sendiri," ucap Shin menceritakan tentang adiknya.


"Lalu kemana adikmu itu, Shin?" lanjutnya.


"Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu," jelas Shin.


Mendengar hal itu membuat Velis terkejut dan merasa bersalah karena telah menanyakan tentang adiknya.


Sementara Kuzu yang memalingkan wajahnya dengan mata terpejam, seakan berpikir bahwa tidak seharusnya Velis menanyakan hal itu.


"A-ah, Shin? maafkan aku, aku tidak bermaksud--" ucap Velis merasa bersalah.


"Tidak apa, lagi pula ini bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan," sahut Shin yang memotong perkataan Velis.


"Saat itu aku dan adikku sedang latihan berburu di hutan dekat desa kami, namun entah dari mana tiba-tiba saja muncul serigala yang sangat besar dengan mata merah menyala menyerang kami," lanjut Shin menceritakan sedikit masa lalunya.


"Aku mencoba menyelamatkan adikku dengan bertarung melawan serigala itu,


tapi sayangnya saat itu aku belum cukup kuat dan aku pun terjatuh lemas. Ketika serigala itu mencoba untuk menyerang ku lagi, adikku berteriak memanggil namaku sambil berlari ke arah ku"


"Saat itu aku sangat terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa, ketika dia melindungi ku dan menerima luka yang sangat dalam di punggungnya akibat serangan dari cakar serigala itu"

__ADS_1


"Namun tak lama kemudian, ayah dan paman ku datang menyelamatkan kami. Namun sayangnya Serigala buas itu dapat melarikan diri dengan cepat," ucap Shin yang secara tidak sadar meremas selimut yang menutupi kakinya.


"Cukup Shin, aku mengerti perasaanmu," ujar Velis memelas.


"Yah.. Jadi begitulah kenapa aku tidak langsung menyelesaikan pertandingan tadi dengan cepat, itu karna aku tidak ingin merasa melukai adikku sendiri," jelas Shin.


"Meskipun begitu, kau tetap saja seperti ingin membunuh gadis itu dengan menggunakan teknik rahasia keluargamu,"bantah Kuzu.


"Asal kau tahu, sejujurnya aku sedikit ragu saat serangan terakhir itu. Hanya saja aku tidak ingin dikalahkan oleh seorang gadis," ucap Shin.


"Yah, begitulah Shin yang kami kenal," sahut Kuzu dengan senyum lebar di wajahnya.


Sementara itu, pertandingan di atas arena masih berlanjut.


Nampak kedua murid laki-laki yang tengah bertarung di atas arena pertandingan, dengan elemen sihir yang dimiliki masing-masing.


Di satu sisi adalah dari class Knight dengan elemen tanahnya, dan di sisi yang lain adalah dari class Valkyrie dengan elemen apinya.


Murid Valkyrie itu terus menyerang dari jarak jauh dengan sihir Api miliknya, sedangkan Murid Knight yang masih kuat dengan pertahanannya, tampak sedang mencari celah untuk menyerang balik.


Pertarungan yang ketat dan antusias dari murid-murid di bangku penonton, yang terus memberikan semangat dengan bersorak-sorai membuat pertandingan tampak sangat menarik.


Namun di tengah keramaian itu, terlihat dua orang murid laki-laki yang nampaknya tidak begitu tertarik dengan pertandingan itu.


Mereka adalah Oda dan Shira, yang masih memikirkan keadaan teman mereka yaitu Rin dan juga Yuuta.


"Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka," ujar Oda dengan wajah murungnya.


"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi aku yakin kalau Rin akan tersadar sebentar lagi dan mereka akan baik-baik saja," ucap Shira mencoba untuk menenangkan Oda.


"Kau benar, tapi jika dilihat dari serangan yang dilakukan oleh murid laki-laki tadi, sepertinya bukan serangan biasa," ucap Oda penasaran.


"Itu adalah salah satu teknik rahasia milik keluarga mereka, diwariskan secara turun-temurun dan hanya merekalah yang bisa melakukan teknik itu," jelas Shira.


"Kedengarannya hebat, tapi kenapa dia sampai menggunakan teknik rahasia itu hanya untuk melawan seorang gadis perempuan?!" tanya Oda sedikit kesal.


"Teknik itu biasanya hanya dilakukan untuk lawan yang kuat, jika dia sampai menggunakan teknik rahasia untuk berhadapan dengan Rin, itu artinya Rin adalah lawan yang tangguh," jelas Shira.


"Lagi pula kita memiliki tim medis kerajaan yang hebat, mereka itu adalah para magi yang sudah sangat terlatih. Jadi jangan khawatir, Rin pasti akan baik-baik saja," lanjutnya meyakinkan Oda.


"Baiklah aku mengerti," jawab Oda dengan perasaan yang sudah mulai tenang.

__ADS_1


__ADS_2