
Kirei yang sudah terhempas cukup keras kini mencoba untuk bangkit kembali, baginya pertarungan adalah harga diri.
Dia akan mempertahankan harga dirinya yang tinggi dengan memenangkan pertandingan kali ini, meskipun harus bertarung dengan tertatih.
"Wah, ternyata kau masih bisa berdiri ya? padahal akan lebih baik jika kau pingsan saja tadi," ejek ku.
"Jangan sombong dulu bocah! aku masih belum selesai," sahut Kirei.
"DRAGON-"
Dengan api yang berkobar di kedua pedangnya, Kirei mengambil langkah dan berputar seiring dengan ayunan pedang yang searah.
"BLAST!!!"
Dengan selaras Kirei mengayunkan kedua pedangnya secara bersamaan dan menciptakan sebuah api seperti naga yang melesat sangat cepat ke arah ku.
Aku segera mengambil langkah dengan kaki kiri sebagai tumpuan, dan memegang katana menggunakan kedua tangan ku.
*BEZZZH~
Serangan api yang dilancarkan Kirei seketika terbelah menjadi dua saat aku mengayunkan katana secara vertikal ke atas.
"Ckkhh!"
Decak kesal Kirei yang melihat serangannya dapat di patahkan dengan mudah olehku.
"FIRE BALL!"
Kirei terus mengayunkan kedua pedangnya, dan menciptakan sebuah bola api yang melesat ke arah ku di setiap ayunannya.
*WUSHH~
*SHHHT~
*DAR!!!
Sebanyak lima bola api yang melesat secara bergantian, namun aku berhasil menghindar dan menghancurkan bola api yang terakhir.
Aku tersenyum menyeringai setelah itu, seakan berkata kalau serangan yang dilakukan Kirei sama sekali tidak berguna dihadapanku.
Semua orang bahkan para Guru dari kelima Class merasa kagum dengan kemampuan ku saat ini, dan suara gemuruh mulai terdengar dari atas bangku penonton.
"Hebat!" Riuh penonton.
"Kau yang terbaik!"
"Aaaaa! entah kenapa aku jadi menyukai anak laki-laki itu," ujar seorang murid perempuan dengan keras.
Seketika tatapan yang sangat tajam dengan aura intimidasi yang kuat terlihat dari kejauhan, itu adalah Rin yang sepertinya mendengar ucapan tersebut.
"Berjuanglah Yuuta!" teriak Rin yang seakan tidak mau mengalah.
Sedangkan itu di lantai tingkat ke dua dinding arena.
"Kekuatan yang besar, dan juga seakan dapat melihat semua serangan yang mengarah padanya, tidak salah lagi itu adalah energi alam," ujar Megelda.
"Apa?" tanya Ziro.
__ADS_1
"Oh jadi begitu, pantas saja murid terbaik Hanz sangat kesulitan menghadapinya," ucap Stella.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa menggunakan energi alam, Kojiro?" ucap Hanz.
"Mana mungkin aku bisa melakukannya, bukan aku yang mengajarinya untuk menguasai itu," jawab Kojiro.
"Tentu saja," sahut Ziro mengejek.
Seketika tatapan tajam Kojiro tertuju pada Ziro.
"Tetapi anak itu hebat juga, ku pikir tidak ada lagi yang menggunakan kekuatan itu," ucap Stella.
"Hanya orang-orang terpilih yang mampu untuk menguasai kekuatan itu, dan itu masih sangat sulit mereka," jelas Megelda.
"Sepertinya kau tahu banyak ya, Megelda?" tanya Ziro.
"Aku mengetahuinya dari buku tua yang kutemukan di perpustakaan kerajaan, di sana tertulis berbagai ras dan kekuatan yang ada di dunia ini," jelas Megelda lagi.
"Heee, sepertinya sangat menarik," ujar Ziro.
Sementara itu, Kirei yang sepertinya sedang menjaga jarak dengan ku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Hey! ada apa? jika kau tidak ingin maju maka aku yang akan menyerang mu!" ucap Ku dengan percaya diri.
Kirei hanya terdiam yang seakan sedang memikirkan suatu cara.
"Baiklah kalau begitu," ujar ku.
Aku bergerak dengan sangat cepat ke arah Kirei,
dan melakukan serangan dengan mengayunkan katana ku padanya.
Dengan reflek yang cukup baik Kirei menahan serangan ku dengan pedang yang masih diselimuti oleh api membara, namun sepertinya dia tidak sanggup untuk menerima serangan sekuat itu.
Kirei mencoba untuk melakukan serangan balik dengan menebaskan pedang yang satunya ke arah ku.
Namun dengan cepat aku menepisnya dengan mengayunkan katana, namun bukannya menahan serangan balik itu, justru malah tebasan pedang Kirei yang seakan terdorong kembali oleh ku.
'Apa?!'
batin Kirei, yang terkejut serangannya malah memantul kembali.
'Kurang Ajar!!!'
Raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat marah.
"Hhaaaaa!!!" Teriak Kirei yang terus melakukan serangan bertubi-tubi pada ku.
Serangan Kirei yang cepat ditambah dia menggunakan dua buah pedang, membuatku kesulitan untuk menyerang balik dan hanya bisa menahan semua serangan tersebut.
Aku bisa saja terus menahan serangan yang dilakukan oleh Kirei sampai dia kehabisan tenaga, namun aku juga tidak bisa berlama-lama dalam pertarungan ini.
Energi alam yang dapat ku kumpulkan masih sangat terbatas, sehingga aku harus bisa mengalahkan lawan sebelum energi alam yang ku miliki terkuras habis.
"HAAA!!! Matilah kau!!!" teriak Kirei, yang kemudian mengayunkan kedua pedangnya secara menyilang dengan sekuat tenaga.
*Craaak~
__ADS_1
*Ctrriiing!!!
Kedua pedang milik Kirei tiba-tiba saja patah setelah melakukan serangan yang sangat kuat tersebut.
Kirei tampak sangat terkejut saat melihat hal itu, dan hanya terdiam tanpa kata.
"Sudah berakhir," gumam Ku.
Aku menggunakan momen itu untuk melakukan serangan yang akan mengakhiri pertandingan kali ini.
Dengan menarik katana secara horizontal, aku memfokuskan energi pada tangan kanan dan mengalirkan nya pada katana.
"Wind Blow!"
Aku melakukan gerakan menusuk dengan katana ke arah Kirei tanpa mengenainya, seketika sihir angin menerpanya dengan sangat kuat hingga membuatnya terpental.
*WOOFHH~
*BLARRR!
Sekali lagi, Kirei yang sudah kehabisan energi membentur dinding arena dengan keras, dan itu membuatnya tak sadarkan diri.
Begitu juga dengan ku yang sudah tidak sanggup lagi untuk bertarung, karena serangan yang barusan menguras habis energi alam yang ku miliki.
Dengan nafas ter-engah dan keringat yang mengalir di wajah, aku bertanya dalam pikiran ku apakah ini sudah berakhir?
Keadaan hening sejenak, seakan semua orang tidak percaya dengan apa yang terjadi di atas arena.
Tak lama kemudian Guru Hisobu kembali memasuki arena pertandingan dan memastikan keadaan Kirei yang terkapar.
Guru Hisobu memberikan isyarat dengan menyilangkan kedua tangannya ke atas setelah mengetahui keadaan Kirei yang tak sadarkan diri, dan segera menghampiri ku.
*TENG!!!
Lonceng tanda berakhirnya pertandingan telah dibunyikan.
"Pertandingan berakhir! yang memenangkan pertandingan kali ini adalah Yuuta Hajime!" lantang Guru Hisobu mengumumkan pemenang pertandingan, sembari mengangkat tangan kiri ku.
"HIYYAAAAAAH!!!" Teriak Oda dengan sangat keras.
Dan disusul dengan Riuh murid-murid yang menonton bersorak-sorai meneriaki dan memanggil namaku.
"Rasakan itu bangsawan sombong!" teriak salah seorang murid laki-laki yang tampaknya juga tidak menyukai Kirei.
"Kau sangat hebat!"
"Tunjukan pada mereka!"
"Yuutaaaaa!!!"
Dari bawah sini, aku dibuat terharu oleh mereka yang ikut senang dengan kemenangan ku atas Kirei.
Aku menyadari kalau saat itu ada banyak orang yang menaruh harapannya padaku, dan aku merasa sangat senang karena bisa memenuhi semua harapan itu.
Oda yang sangat histeris, Rin yang sangat gembira, dan Shira yang tersenyum lebar, serta murid-murid lain yang juga berasal dari desa ikut memberi dukungan pada ku.
Semua itu memberikan ku kekuatan baru dan mendorong ku untuk menjadi lebih kuat lagi, agar bisa melindungi senyuman mereka.
__ADS_1
Aku sama sekali tidak tahu akan seperti apa jalan yang ku tempuh nanti, tapi aku tahu mereka akan menolong ku saat aku terjatuh.