Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 31. Iblis hewan buas


__ADS_3

Rembulan tampak bersinar terang di atas langit malam yang cerah, meskipun tanpa adanya bintang yang menemaninya.


Namun di tengah suasana malam yang damai itu, terjadi suatu keributan di satu tempat.


*Whuuuss~


*Whuuuuss~


*Sreeekk~


*Ctiiing!!!


*Creeesshh!!!


Semak-semak yang bergoyang, daun-daun yang berjatuhan, dan juga batang pohon yang tergores akibat satu serangan.


Pertarungan yang sangat sengit pun terjadi, antara aku dengan iblis hewan buas yang muncul di hutan dekat rumah.


Mahkluk itu terus menyerang dengan sangat agresif, bukan hanya tenaganya yang kuat tapi juga gerakannya yang begitu cepat.


Pola serangan yang tidak beraturan membuatku sedikit kesulitan untuk melawan ataupun melakukan serangan balik.


"Ini gawat, sebaiknya aku mundur!" ujar ku.


Sembari terus menghindar dari setiap serangan yang dilakukannya, aku bergerak mundur untuk keluar dari area hutan.


*Sreeeesshhh~


Aku melompat keluar dari atas tangkai pohon yang besar dan mendarat di tengah padang rumput dekat hutan itu.


"Sepertinya di sini adalah tempat yang pas untuk bertarung," ujar ku.


Aku menggiring mahkluk itu keluar dari hutan supaya dia tidak bisa lagi masuk ke dalam semak-semak.


Mahkluk itu menggeram dan terdiam sejenak, lalu dia mengangkat kepalanya dan menatap langit, seakan seperti memandang bulan yang sedang purnama.


Aku sama sekali tidak tahu tentang apa yang sedang ia lakukan, tetapi saat tiba-tiba saja aura yang tidak mengenakan itu menjadi terasa lebih kuat.


Bulu-bulunya seakan mekar dan melolong dengan keras, hingga membuat bulu kuduk ku juga ikut berdiri.


"Apa yang terjadi?" tanya ku.


Mungkin aku sudah melakukan kesalahan saat membawanya ke sini, mahkluk itu malah bertambah semakin kuat saat berada langsung di bawah sinar bulan.


"Aaah!!! ini bukan saatnya untuk takut!" ujar ku menegaskan diri dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Baiklah, aku harus fokus!"


Dengan menarik nafas panjang, aku mengalirkan energi alam di seluruh tubuh ku untuk meningkatkan kekuatan ku.


Seketika aura tidak enak yang kurasakan sebelumnya tidak lagi terasa olehku, seakan seperti menghilang.

__ADS_1


*Graaaaahk!!!


Mahkluk itu mulai menyerang ku lagi dengan bergerak sangat cepat dan melesatkan cakarnya ke arahku.


*Ctiiing!!!


Merasakan adanya bahaya yang datang, aku membuka mata dan dengan sigap menangkis serangan itu dengan pedang.


Meskipun mahkluk itu bertambah kuat saat dibawah sinar bulan, namun kekuatan dari energi alam ku mampu untuk mengimbanginya.


Terbukti dengan serangannya yang tidak sekuat seperti sebelumnya, dan aura intimidasi yang tidak lagi kurasakan.


Mahkluk itu kembali menyerang dengan gaya bertarungnya yang liar, menyerang secara brutal dan tempo serangan yang sulit untuk ditebak.


Serangan yang membabi buta dari mahkluk iblis hewan buas dan juga kepekaan terhadap bahaya yang ku miliki, membuat pertarungan itu menjadi sangat sengit.


Serangan demi serangan terus dilancarkan satu sama lain, membuat cukup banyak luka gores yang menyayat kulit di tubuh dan wajah keduanya.


Tetesan-tetesan darah yang bercipratan dan jatuh membasahi rumput di padang, seakan tidak ada jeda dalam pertarungan itu.


Sampai berada di titik keduanya mulai merasa lelah, dan aku ingin segara mengakhiri pertarungan itu dengan membunuhnya.


Mahkluk itu melakukan serangan dengan mengayunkan cakaran tangan kanannya, dan dengan cepat aku menunduk kebelakang sembari memutar tubuhku untuk melakukan tendangan menyapu ke atas.


Tendangan itu pun dengan telak mengenai pipi bagian kanannya, dan membuat wajahnya terpental.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku memanfaatkan celah itu untuk menyerangnya sekali lagi.


"Wind Slash!"


Pedang yang ku gunakan itu tiba-tiba saja bersinar, seakan merespon emosi dan perasaan yang meluap-luap dari diriku.


*Sriiing!!!


*Sresssh~


Tubuh mahkluk itu langsung terbelah menjadi dua saat tebasan ku tepat mengenainya, dan membuat pedangku berlumuran akan darah.


"Hufh~"


"Hufh~"


"Aku berhasil mengalahkannya," gumam ku sembari memperhatikan mayat mahkluk itu.


Pertarungan itu cukup menguras habis energi, sehingga membuat tubuhku terasa lemas saat semuanya berakhir.


"Wah wah, kau tampak berantakan sekali," ujar ayah ku yang tiba-tiba saja muncul di belakang ku.


Sontak aku menoleh ke arahnya karena sedikit terkejut.


"Ayah?" gumam ku.

__ADS_1


"Tadinya ku pikir kau akan kalah saat lari dari dalam hutan itu," ujar ayah.


"Hufh, sangat sulit bertarung melawan mahkluk itu di dalam sana, jadi aku berfikir untuk menariknya keluar," jelas ku dengan nafas yang masih terengah.


"Tapi yang terjadi malah dia semakin kuat saat berada di bawah sinar bulan," lanjut ku.


"Yah! tentu saja, karena itu adalah mahkluk iblis serigala," ucap ayah.


"Sumber kekuatannya adalah sinar bulan, saat dia berada di bawah sinar bulan maka dia akan bertambah kuat"


"Apalagi saat bulan purnama hampir sempurna seperti ini," lanjutnya menjelaskan.


"Iya ayah, aku sama sekali tidak tahu tentang itu, karena ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan iblis hewan buas," sahut ku.


"Meskipun begitu, kau berhasil mengalahkannya," ujar ayah.


"Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan mahkluk itu berkeliaran dan masuk ke dalam desa," balas ku.


*Grrrrrhhh~


Tiba-tiba saja terdengar suara Geraman, dan banyak mata yang menyala terlihat dari dalam hutan tersebut.


"Ayah, apa itu?" tanya ku sedikit cemas.


Bagaimana tidak, dengan keadaan ku yang sudah kelelahan seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa menghadapi mahkluk sebanyak itu.


"Tenang saja, aku yang akan mengatasi mereka," ucap ayah dengan tersenyum kecil di wajahnya.


Kemudian ayah ku berjalan pelan dan melangkahi mayat dari mahkluk yang baru saja ku kalahkan sembari memejamkan matanya.


Satu tarikan nafas dan ayah membuka matanya, seketika aura yang sangat dahsyat terpancar dari dalam dirinya.


Aura yang sangat bisa ku rasakan meskipun tanpa meningkatkan kepekaan tubuh ku dengan energi alam, hingga menghembuskan angin di sekitarnya.


Hal itu berhasil untuk mengintimidasi para mahkluk tersebut, dan membuat mereka pergi menjauh dari sana.


"Hebat! mereka semua langsung pergi begitu saja," ujar ku terkagum dengan kehebatan ayah.


"Mahkluk yang baru saja kau hadapi itu, mereka selalu berkelompok, jadi kau harus berhati-hati saat berada di dalam hutan," ucap ayah memperingati ku.


"Baik ayah, aku akan lebih waspada lagi," sahut ku.


Saat semua mahkluk itu benar-benar pergi, kemudian ayah pun menurunkan kembali aura yang sangat dahsyat itu dan berbalik ke arah ku.


"Baiklah, semuanya sudah selesai! jadi ayo kita pulang," ajak ayah.


"Em!" sahut ku mengangguk.


Lalu kami berdua berjalan pulang bersama, meninggalkan Padang rumput itu.


"Oh! mana pedang yang kau bawa tadi? kau tidak merusaknya kan Yuuta?" ujar ayah menanyakan pedangnya yang ku pinjam.

__ADS_1


"Tentu saja tidak ayah, hanya saja sedikit berlumuran darah dari mahkluk itu," jawab ku sembari memberikan pedangnya.


"Aaah, aku harus membersihkannya lagi," gumam ayah dengan cemberut.


__ADS_2