Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 42. Balas budi


__ADS_3

Pagi hari yang seharusnya menjadi pagi yang santai, berubah menjadi pagi yang penuh dengan kejutan dan kecemasan.


Kami semua bergegas pergi setelah membereskan barang-barang yang kami bawa, untuk menuju ke tempat Shin dan yang lainnya berada.


"Sebalah sana!" Ucap Rin, menunjuk ke suatu arah.


"Tempat itu kan?" Gumam ku, ketika melihat tempat yang ditunjuk Rin adalah sebuah Goa yang kemarin aku dan yang lainnya datangi.


Tanpa pikir panjang, kami semua bergegas masuk ke dalam Goa tersebut.


"Kana!" Panggil Frey, memberikan isyarat.


"Aku mengerti!" Sahut Kana, yang kemudian menggunakan sihir apinya untuk menerangi jalan.


Tak lama kemudian akhirnya kamipun sampai di ujung Goa tersebut, dimana itu adalah tempat yang sama pada saat kami bertarung melawan monster harimau kemarin.


"Itu mereka!" Ucap Rin.


Seketika, Kana menyulutkan sihir apinya pada setiap obor yang menempel di atas dinding-dinding Goa tersebut.


Tampak Shin dan juga Tetsu yang terbaring di atas tanah, dengan kedua rekan mereka yaitu Lusiana dan Vira yang sedang berusaha menyembuhkan luka-luka mereka.


"Lusiana! Vira! Bagaimana keadaan mereka berdua?" Tanya Rin, saat mengehentikan langkahnya.


"Rin?! Syukurlah kau sudah kembali," ujar Vira, yang terlihat sangat kelelahan.


"Emh! Aku berhasil mendapatkan bantuan dari kelompok lain," ucap Rin, setelah menganggukkan kepalanya.


Sesaat setelah itu, sihir penyembuhan milik Lusiana dan juga Vira seketika berhenti.


"Maaf, hanya segini saja yang bisa kami lakukan, kami sudah tidak memiliki Mana yang cukup untuk menggunakan sihir lagi," ucap Lusiana.


"Kalian berdua sebaiknya istirahat saja, serahkan sisanya kepada kami!" Ucap Frey, yang mencoba membantu.


"Oh, Frey? Terimakasih sudah mau membantu kami," ujar Lusiana, yang tersenyum tipis.


"Dasar bodoh! jangan memaksakan dirimu sendiri," tegas Kana.


"Hmm? Kana? Tak ku sangka kau juga datang ke sini," sahut Lusiana, ketika menyadari sepupunya juga datang untuk membantunya.


"Hmh! A-aku kesini hanya karena mereka yang memintanya," ucap Kana, yang memalingkan wajahnya.


Melihat sikap Kana yang tidak mau berterus terang seperti itu, membuat Luciana hanya membalasnya dengan tertawa kecil.


"Lukanya cukup parah, bahkan jika aku menyembuhkannya itu tidak akan cukup," ujar Mio, setelah memeriksa keadaan Shin dan Tetsu.


"Kalau begitu, aku akan memberi sinyal bantuan kepada para pengawas ujian!" Ucap Kana.


"T-tapi, bukankah dengan begitu mereka akan gagal?" Tanya Mio, merasa khawatir.


"Yah, tapi itu masih jauh lebih baik dari pada mereka harus kehilangan nyawa," sahut Kana.


Seketika semuanya terdiam karena rasa bimbang yang membuat pikiran mereka menjadi bingung.


"Aku punya ide," ujar ku.

__ADS_1


Tatapan tajam yang penuh dengan perasaan terkejut, seketika tertuju padaku ketika mereka mendengar hal itu.


"Kita akan mengirim sebuah sinyal bantuan seperti yang dikatakan oleh Kana, dan saat para pengawas datang, bawalah ini bersama kalian!" Ucap ku, yang kemudian melemparkan sebuah gulungan kepada Luciana.


"Hah?! Ini kan?!" Ujar Lusiana, begitu terkejut ketika menyadari apa yang ditangkapnya.


"Gulungan kerajaan?!" Gumam Vira.


"Hmmm begitu ya, tapi apa kau yakin?" Tanya Frey.


"Hanya itulah satu-satunya cara agar mereka bisa lolos ujian ini," jelas ku.


"Yuuta? Kenapa kau melakukan itu? Kau dan kelompok mu sudah susah payah untuk mendapatkan itu," ucap Rin, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tidak apa Rin, aku akan menemukannya lagi nanti! Hihi," sahut ku, meyakinkan Rin.


"Yah, lagi pula aku masih ingin menghabisi monster-monster itu," ujar Kana.


"Dan kita masih memiliki waktu yang cukup untuk itu," lanjut Frey.


"Aku ikut saja," ujar Julian juga, dengan nada datar.


Perasaan senang dan haru seketika timbul di dalam hati ku, ketika melihat tanggapan dari mereka yang menyetujui tindakan ku itu.


"Teman-teman?" Ujar Rin, yang menatap kami berlima.


"Terimakasih!" Ucapnya sangat senang, dengan setitik air mata yang timbul ketika ia memejamkan matanya.


Semua tampak menanggapinya dengan senyuman di wajah mereka. Tak lama kemudian, Kana bergegas keluar dari Goa tersebut untuk memberikan sinyal bantuan.


Sementara Mio yang kemudian menggunakan sihir penyembuhan miliknya, untuk memulihkan kondisi Lusiana dan juga Vira. Karena hanya itu satu-satunya yang dapat Mio lakukan.


*Whuuss~


*Whuuss~


*Whuuss~


Pengawas yang melihatnya dari kejauhan langsung memahami hal itu, dan segera mengabari pengawas lainnya untuk bergerak menuju arah sinyal tersebut.


"Hey! Ada sinyal darurat, ayo kita ke sana!" Ajak pengawas yang melihatnya barusan.


"Baik!" Sahut kedua pengawas lainnya.


Kesigapan yang sangat bagus dari para pengawas ujian, dapat terlihat dari respon dan pergerakan mereka yang begitu cepat.


Setelah beberapa saat kemudian, tiga orang pengawas ujian yang juga merupakan kesatria kerajaan pun akhirnya tiba. Kecepatan penuh yang dikerahkan membuat mereka tak butuh waktu lama untuk sampai di sana.


"Apa yang terjadi di sini?" Tanya salah satu pengawas.


"Dua teman kami terluka parah, tolong bawa mereka pada tim medis," pinta Frey.


"Baiklah! Tapi, mahkluk seperti apa yang kalian hadapi sampai dua teman kalian seperti ini?" Tanya pengawas tersebut.


"Ah itu..." Ujar Frey, yang merasa sulit untuk menjelaskan.

__ADS_1


"Sebenarnya, tadi malam telah terjadi sebuah tragedi penyerangan yang dilakukan oleh monster di hutan ini," sambung Kana menjelaskan.


"Penyerangan?" Ujar pengawas tersebut, yang sedikit terkejut.


"Apa?! Yang benar saja," celetuk pengawas lainnya, merasa tidak percaya.


"Ya! Itu benar," sahut Kana, menegaskan.


"Memangnya, monster macam apa yang membuat kalian sampai seperti ini? Tanya petugas yang ketiga.


"Dia bertubuh besar dan memiliki rupa seperti Bateng, tetapi dia berjalan tegak dengan kedua kakinya sambil membawa kapak besar sebagai senjatanya," sahut Rin, menjelaskan.


"Mahkluk besar seperti banteng?" Ujar pengawas kedua.


"Dan dia membawa kapak besar?" Sambung pengawas ketiga.


Sesaat ketiga pengawas tersebut saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya mereka seakan mengetahui sesuatu.


"Tidak mungkin, jangan-jangan monster itu adalah-" ujar pengawas ketiga, tanpa menyelesaikan perkataannya.


Tampak raut wajah mereka bertiga yang terlihat cemas, namun tidak ingin mengatakan hal itu di hadapan kami.


"Baiklah, lebih baik kita segera membawa mereka pada tim medis!" Ucap pengawas pertama, yang disahut dengan anggukkan kepala kedua rekannya.


"Ini, minumlah!" Suruh pengawas pertama, yang memberikan sesuatu kepada Lusiana dan juga Vira.


"Eh? Apa ini?" Tanya Vira.


"Itu adalah ramuan dari kerajaan, untuk memulihkan tubuh kalian," jelas pengawas tersebut.


Setelah mendengar penjelasan itu, Lusiana dan juga Vira segera meminum ramuan tersebut.


Lalu kedua pengawas lainnya segera mengangkat tubuh Shin dan juga tetsu yang tak sadarkan diri, dengan menyanggah lengan mereka.


Sedangkan Lusiana dan juga Vira, sudah menjadi sedikit lebih baik setelah Mio memulihkan mereka.


"Sepertinya kau adalah rekan satu kelompok mereka ya?" Tanya petugas pertama kepada Rin.


"Ah iya!" Sahut Rin.


"Ini, minumlah!" Suruh pengawas tersebut.


"Terimakasih, tapi aku baik-baik saja," tolak Rin, dengan halus.


"Hmm baiklah, kalau begitu apakah kau akan ikut rekan-rekan mu ke tempat tim medis?" Tanya pengawas itu.


Sesaat Rin menatap Lusiana dan juga Vira. Seakan mengerti dengan niat dalam diri Rin, mereka berdua tampak mempersilahkannya dengan tersenyum dan menganggukkan kepala mereka.


"Aku akan melanjutkan ujian ini bersama mereka," tolak Rin dengan menggelengkan kepalanya, dan memilih untuk ikut bersama kelompok kami.


Sontak kami berlima dibuat terkejut oleh perkataan Rin barusan.


"Eh? Apa maksudmu Rin?" Tanya Ku, merasa heran.


"Karena kalian sudah membantu ku dan kelompok ku, maka sebagai gantinya aku akan membantu kalian untuk mencari gulungan itu," jelas Rin, dengan semangat.

__ADS_1


"Tapi, apa kau baik-baik saja?" Tanya ku lagi, yang dibalas dengan anggukkan kepala yang mantap oleh Rin.


"Baiklah! Kalau begitu, semoga beruntung," ucap Petugas pertama itu, yang kemudian bergegas pergi bersama yang lainnya


__ADS_2