Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 7. Gadis aneh dan perempuan misterius


__ADS_3

"Berhenti!" Kata Guru Hisobu, memberikan aba-aba yang Menandakan kalau latih tanding antara aku dan Shira telah selesai.


Seketika sorakan para murid yang menyaksikan juga ikut berhenti, mereka terdiam dan kebingungan.


Kemudian Aku dan Shira mendekat lalu saling membukukan tubuh sebagai tanda memberi hormat kepada lawan.


Meskipun tidak begitu lama, tetapi pertarungan itu sangat berkesan untuk ku. Karena itu adalah pertarungan pertama ku dengan Shira.


Namun murid-murid yang lain tidak bisa menerima itu. Mereka merasa kalau pertandingan itu terlalu singkat untuk dinikmati, dan meminta Guru Hisobu untuk melanjutkannya.


"Aaaah.. Guru! Apa pertandingannya sudah selesai ?" tanya salah seorang murid laki-laki dengan sedikit kesal.


"Guru Hisubo! Kami ingin melihatnya sekali lagi!" lanjut murid laki-laki lainnya yang begitu bersemangat.


Kemudian suasana pun mulai ramai kembali dengan suara berisik dari murid-murid yang ingin melihat pertandingan itu sekali lagi.


Sementara Kirei dan kedua temannya merasa risih dengan suara berisik mereka.


"Aduh kalian ini berisik sekali !" ucap Kirei merasa kesal.


"Hei kalian! Tenang lah sedikit dasar payah!" lanjut Higatsu kepada murid-murid yang lain.


"Ya ampun, rasanya aku ingin pulang saja." gumam Yoe yang mulai merasa malas untuk mengikuti akademi hari itu.


Aku dan Shira cukup terkejut dan heran dengan para murid yang tidak ingin kalau Guru Hisobu mengehentikan pertandingannya.


Karena kami merasa kalau pertandingan yang barusan itu bukanlah apa-apa, melainkan hanya pertarungan singkat hanya untuk sebagai contoh saja.


Sementara Guru Hisobu mulai sedikit kebingungan dengan para murid yang berisik.


"Semuanya tolong tenang!" ucap Guru Hisobu menyuruh semua murid untuk diam.


"Tapi Guru Hisobu…" sahut salah satu murid laki-laki.


Mendengar ada murid yang mencela perintahnya, sontak membuat Guru Hisobu kesal dan langsung saja melihat ke arah murid tersebut dengan tatapan mata yang menyeramkan.


Melihat tatapan yang mengerikan itu, lantas murid laki-laki itu pun langsung merasa takut.


"E-eh..hehe,iya baiklah Guru." ucap murid laki-laki tersebut sedikit terbata dengan ekspresi wajah yang seketika berubah menjadi pucat.


Semua murid yang melihat itu juga langsung saja terdiam dan sekejap suasana menjadi tenang, karena mereka takut dimarahi oleh Guru Hisobu.


"Terimakasih sudah bersikap dengan tenang." ucap Guru Hisobu dengan senyuman yang masih tampak menyeramkan.


"Baik…" jawab para murid serentak dengan ekspresi mereka yang kaku.


"Cukup sampai sini dulu pelajaran kita tentang teknik pedang, dan akan dilanjut nanti setelah istirahat." ucap Guru Hisobu memberitahu semua murid kalau sudah masuk waktu istirahat.


Kemudian kami semua bergegas untuk pergi istirahat. Aku dan Shira terlebih dulu meletakkan pedang kayu yang kami gunakan.


"Wah Yuuta, teknik pedangmu yang barusan itu hebat sekali." ucap Shira memuji ku.


"Ahaha… tidak juga, Kau jauh lebih hebat dari pada aku Shira. Kau dapat menghindari semua serangan ku." jawab ku merasa kalau aku masih berada jauh di bawah Shira.


"Itu tidak benar Yuuta, Kaulah yang sangat hebat karena bisa membuat seorang pangeran kerajaan terdesak sampai harus melompat jauh ke belakang untuk menghindari serangan mu." sahut Oda yang tiba-tiba sudah ada di dekat kami.


Mendengar Oda yang tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan membuat ku sedikit terkejut dan langsung melihat ke arahnya yang ternyata bersama Rin.


"Aku sangat kagum dengan kehebatan kalian berdua, terutama kau Yuuta." ucap Rin memuji kami berdua, dengan wajah yang begitu dekat dengan ku dan senyum yang sangat indah.


Melihat ekspresi wajah Rin yang begitu senang dan sangat dekat, jelas membuatku sangat malu dan memalingkan pandangan untuk menyembunyikan wajah ku yang mulai me-merah.


Dengan sikap ku yang seperti itu, membuat Shira dan Oda tertawa. Sementara Rin juga ikut tertawa kecil meskipun dia sedikit kebingungan dengan Shira dan Oda yang tertawa.


Setelah itu kami berempat pergi dari ruangan itu untuk beristirahat. Kami pun pergi ke kantin akademi untuk makan siang bersama.


Sementara itu di istana kerajaan, sedang ramai kabar dari pelayan kerajaan tentang hilangnya Tuan Putri raja.


Raja memerintahkan seluruh pelayan dan beberapa prajurit untuk mencari Tuan Putri.


Saat kami sedang asik makan bersama, seorang gadis kecil yang cantik dan berambut pirang datang menghampiri kami.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukan mu, kakak." kata gadis tersebut dengan semangat.


Mendengar perkataan itu sontak membuat kami melihat kearahnya, dan membuat kami berempat terkejut.


Terutama Aku, Rin dan juga Oda karena perkataan dari gadis itu yang menyebut kakak.


"Kakak ?" tanya Oda.


"A-aah, semuanya perkenalan ini Aiko, dia adalah adik ku." Shira terkejut dengan kedatangan gadis itu dan memperkenalkannya kepada kami.


Setelah mengetahui siapa gadis itu, jelas membuat kami bertiga semakin terkejut. Karena seorang Putri raja datang langsung di hadapan kami.


Serentak kami pun langsung berdiri dan membungkukan tubuh kami kepada sang Putri raja.


"Maaf atas kelancangan kami Tuan Putri !" ucap ku, Oda dan juga Rin bersamaan.


Dia pun tertawa kecil dengan senyumannya dan berkata. "Fhu..Fhu..Fhu.. Tidak apa-apa, kalian tidak perlu melakukan itu wahai kesatria yang pemberani." jawab gadis itu yang bernama Aiko, dengan kedua tangannya di pinggang.


"Itu benar, kalian bertiga duduklah kembali." ucap Shira yang kemudian menyuruh kami untuk duduk.


"Baiklah." jawab kami bersamaan lalu kembali duduk.


"Aiko, bagaimana kau bisa berada di sini ? Bukan kah harusnya kau tetap berada di istana ?" tanya Shira yang sedikit mengkhawatirkan adiknya.


Lagi-lagi gadis itu mengeluarkan tawa kecilnya yang aneh.


"Fhu..Fhu..Fhu.. Kakak, tentu saja aku ke sini untuk mencari mu dan mengajak mu untuk bermain dengan ku." jelasnya.


"Aiko, ini bukan saatnya bermain. Lagi pula ini adalah akademi, tempat untuk orang-orang belajar dan berlatih." jawab Shira mencoba untuk menjelaskan kepada adiknya.


"Sekarang kakak sedang tidak belajar kan ?, jadi kakak bisa bermain dengan ku." sahut Aiko yang keras kepala.


"Tetap saja tidak bisa dasar keras kepala, ini adalah tempat belajar. jadi, kembalilah ke istana sekarang juga." ucap Shira menyuruh adiknya kembali.


"Tidak mau!!! Kalau begitu, mulai hari ini aku akan mengikuti akademi dan belajar bersama kakak!" ucap Aiko yang sedikit kesal.


"Ya ampun anak ini." ujar Shira dengan lesu.


Tiba-tiba datang para prajurit bersama salah satu pelayan kerajaan ke dalam kantin, dan mengajak Tuan Putri untuk kembali ke istana.


"Maafkan kami pangeran, kami datang ke sini untuk menjemput Tuan Putri yang tiba-tiba saja menghilang dari istana." ucap pelayan tersebut.


Dengan kedatangan para prajurit kerajaan, membuat para murid lain teralihkan perhatiannya.


"Apa ? Jadi kau ke sini tanpa seizin dari ayah atau ibu ?" tanya Shira terkejut.


Gadis itu, Aiko. hanya diam dengan tertawa.


"U-uwehehe."


Kemudian muncul seorang Perempuan dengan sihir teleportasinya, dia adalah Penyihir kerajaan.


Meskipun mana di dalam diriku tidak aktif, tetapi aku dapat merasakan kekuatan yang besar dan misterius dari Penyihir tersebut.


"Maafkan aku pangeran, ini salah ku karena telah membiarkan Tuan Putri mengetahui jalan rahasia untuk keluar dari istana beberapa waktu lalu.


"Aku tidak tahu kalau ingatan Tuan Putri sudah sangat baik walaupun masih sekecil itu, dan menggunakan rute itu untuk pergi keluar istana seorang diri." jelas Penyihir itu dengan sangat hormat.


"Ah, marlin… tidak apa, kau datang tepat waktu. Kalau begitu, tolong kau bawa Aiko kembali ke istana bersama dengan para prajurit dan pelayan." jawab Shira yang kemudian meminta dia untuk membawa adiknya kembali ke istana.


"Eh, tidak! Aku tidak ingin kembali! Aku ingin bersama kakak!" kata Aiko dengan keras.


"Baiklah Pangeran, maaf atas kekacauan yang terjadi di sini." jawab Penyihir tersebut.


Sekejap Penyihir itu melihat ke arah kami bertiga dan tersenyum, seakan menyapa kami sebelum akhirnya dia pergi bersama para Prajurit dan pelayan lalu menghilang dengan sihir teleportasi miliknya.


Semua orang yang berada di kantin saat itu sangat terkejut dengan kedatangan Tuan Putri yang tidak mereka sadari. Dan para prajurit, pelayan, bahkan seorang Penyihir kerajaan sampai datang untuk menjemputnya.


Kemudian kami semua pun melanjutkan waktu istirahat kami. Tak lama setelah itu bel pun berbunyi, dan semua murid kembali melanjutkan pelajaran.


Kami kembali ke arena berlatih tadi dan melanjutkan latihan teknik pedang. Semuanya berlatih menggerakkan beberapa teknik pedang dengan menggunakan pedang kayu.

__ADS_1


Waktu pun terus berlalu, hari sudah mulai sore. Dan sudah tiba saatnya bagi kami untuk pulang ke rumah.


Di halaman akademi, sebelum Aku, Oda dan Rin pulang ke desa. Kami berpamitan terlebih dahulu dengan Shira, dan membiarkan beberapa hal.


"Shira, aku ingin menanyakan satu hal" kata ku.


"Baiklah, apa itu ?" jawab Shira tersenyum.


"Perempuan yang kau panggil Marlin itu, siapa dia?" tanyaku.


"Oh itu… namanya adalah Marlin, dia adalah magi kerajaan. Dia yang memimpin seluruh penyihir di kerajaan" jawab Shira dengan santai.


"Kelihatannya kau sangat serius menanyakan itu, ada apa Yuuta ?" tanya Oda penasaran.


"A-ah, tidak apa-apa aku hanya ingin tahu saja, haha" jawabku sedikit terkejut karena Oda yang menyadari hal itu.


Mereka bertiga menatap ku dengan ekspresi bingung dan rasa penasaran dengan sikap ku yang seperti itu.


"Oh iya… Rin, Oda, ayo kita pulang sebelum langit menjadi gelap" kata ku mengajak mereka berdua untuk bergegas pulang.


"Wah benar juga, kalo tidak segera pulang aku tidak akan dapat makan malam nanti" sahut Oda yang sedikit tergesa.


Mendengar perkataan Oda yang konyol pun membuat kami tertawa dan mencairkan suasana yang tadinya sedikit serius.


"Baiklah Shira, kami pulang dulu ya. Terimakasih untuk hari ini" ucap ku pamit.


"Iya, terimakasih juga karena sudah menjadi teman latih tanding ku tadi" jawab Shira dengan senang.


"A-ahaha, itu bukan apa-apa. Lagi pula kita ini kan teman, teman itu harus saling membantu" kata ku dengan senang juga.


Kemudian kami pun berpisah, Aku, Rin dan Oda pulang ke desa dengan berjalan kaki.


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kami sampai juga di gerbang desa. Aku, Rin dan Oda berpisah di sana karena arah rumah kami berbeda.


Setibanya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan mengganti baju lalu bersiap untuk makan malam.


Dan saat malam tiba, seperti biasa aku berlatih pedang dengan Ayah ku di ruangan belakang rumah, tempat biasa kami berlatih.


Namun sebelum kami mulai berlatih, aku menanyakan kembali tentang magi yang bernama Marlin itu kepada ayah ku.


"Ayah, sebelum mulai latihan aku ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu" tanya ku dengan serius.


"Apa itu, anak ku ?"


"Tadi Tuan Putri Aiko datang ke akademi seorang diri untuk menemui pangeran Shira, lalu datang para prajurit dan seorang pelayan untuk menjemputnya, Setelah itu muncul seorang Penyihir kerajaan dengan sihir teleportasi, nama Penyihir itu adalah Marlin.


"Saat dia melihat ku, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh, seperti kekuatan besar yang misterius." kata ku menjelaskan yang terjadi di akademi.


"Yang ingin aku tanyakan, siapa sebenarnya Penyihir itu ? Kenapa aku bisa merasakan kekuatannya padahal mana di dalam diri ku tidak aktif ?" lanjut ku.


Tanpa sadar aku terlepas memberitahu Ayah tentang keadaan yang ku alami.


"Apa kau bilang ? Mana di dalam dirimu tidak aktif ?" sahut Ayah terkejut dengan apa yang terjadi pada ku.


Aku yang baru menyadari hal itu sontak sangat terkejut. Kenapa aku bisa ceroboh seperti ini ?


"M-maafkan aku ayah." kata ku dengan merasa bersalah.


Dengan perasaan tegang, takut, dan juga sedih yang bercampur aduk, Aku merasa kalau Ayah akan sangat marah dan kecewa padaku.


Aku yang tengah duduk bersimpuh kemudian menundukkan kepala dengan tubuh yang tegap dan kedua tangan yang lurus memegang lutut.


Sementara Ayah ku yang masih sedikit syok dengan keadaan ku, mencoba untuk menenangkan diri dengan menghela nafas dan sejenak memejamkan matanya sembari melipat kedua tangan.


"Terus terang saja Ayah sangat terkejut dengan kabar buruk tentang dirimu. Tapi kau tidak perlu meminta maaf seperti itu anak ku, itu bukan salah mu." ucap Ayah menenangkan ku.


"Baiklah, Ayah akan menjawab pertanyaan mu. Pertama, Penyihir yang bernama Marlin itu adalah pemimpin dari seluruh penyihir yang ada di kerajaan ini, atau yang disebut dengan Magi. Dia adalah salah satu pahlawan besar pada saat peperangan melawan Ras iblis dan menghancurkan kerajaan Vampire beberapa puluh tahun yang lalu.


"Kekuatannya memang sangat besar, sampai bisa menembus dimensi ruang dan waktu. Seorang penyihir yang hebat biasanya menyembunyikan aura kekuatan mereka. Jika kau bisa merasakannya tanpa mana di dalam diri mu, hanya ada satu kemungkinan." kata ayah menjelaskan.


"Apa itu , ayah ?"

__ADS_1


__ADS_2