
Setelah Aku, Oda dan juga Rin mengunjungi Shira yang berada di ruang pengobatan untuk memastikan keadaannya, kemudian kami pun kembali naik ke atas bangku penonton untuk menyaksikan pertandingan yang sedang berlangsung sembari menunggu giliran.
Karena tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan pertandingan yang sedang berlangsung, kami berjalan dengan cepat bergegas untuk segera naik ke atas bangku penonton.
Dan saat kami sudah berada di bangku penonton, Aku, Oda dan juga Rin langsung turut menyaksikan jalannya pertandingan saat itu.
"TENG!!!"
Baru saja kami melihat jalannya pertandingan, namun bell tanda berakhirnya pertandingan sudah berbunyi.
Tampak guru Hisobu yang tengah mengangkat tangan seorang murid sembari mengumumkan hasil pertandingan yang baru saja dimenangkan oleh seorang laki-laki dengan pedang dan perisai miliknya.
"Astaga, baru saja aku ingin menyaksikan pertandingan ini" ujar Oda sedikit kesal.
"Tenanglah, masih banyak pertandingan yang akan kita saksikan" sahut ku mencoba untuk menghibur Oda.
Jeda waktu antara satu pertandingan ke pertandingan yang selanjutnya adalah sekitar 15 menit.
Tak lama kemudian, guru Hisobu mengumumkan kembali tentang peserta selanjutnya yang akan bertanding.
"Pertandingan selanjutnya adalah nomor urut 9 dan 10! Kepada murid yang mendapatkan nomor urut tersebut dimohon untuk segera bersiap dan memasuki arena pertandingan."
"Eh ? Nomor urut 9 ? Itu artinya sekarang adalah giliranmu untuk bertanding, Rin."
Aku sedikit terkejut dengan pengumuman yang disampaikan tersebut dan langsung saja bertanya kepada Rin untuk memastikannya.
"Iya, kau benar.. sekarang adalah giliran ku untuk bertanding" jawab Rin dengan semangat.
"Baiklah, kalau begitu aku harus segera bersiap-siap." Lanjutnya sembari bergegas berjalan pergi.
Setelah mengetahui kalau giliran untuk dirinya bertanding di atas arena sudah tiba, Rin pun langsung saja bergegas pergi dari bangku penonton dan turun menuju ruang persiapan.
"Semangat, Rin!" ucap ku memberikan semangat kepada Rin.
"Jangan sampai kalah!" lanjut Oda yang juga memberikan semangat.
__ADS_1
Rin yang tengah berlari hanya melambaikan tangannya kepada kami, seolah memberi tahu kepada kami kalau dia akan baik-baik saja.
Setelah kedua peserta telah selesai melakukan persiapan yang cukup lama, mereka pun akhirnya keluar dari kedua sisi arena yang berlawanan.
Tampak Rin yang dengan anggunnya menggunakan busur di tangan kanannya dan beberapa anak panah di punggungnya, berjalan keluar dari sisi kiri arena.
"Dilihat dari kejauhan saja aku masih bisa melihat wajahmu yang imut, tapi entah kenapa rasanya sama seperti saat kau sedang marah"
Rin dengan raut wajah yang sangat serius dan percaya diri saat itu terlihat begitu imut, membuat ku merasa bangga namun juga sedikit tergelitik ketika sekilas aku teringat dengan raut wajah Rin yang sama pada saat dia sedang marah.
Namun aku sangat terkejut saat mengetahui siapa seorang murid yang menjadi lawan tanding Rin.
Dari sisi kanan arena, berjalan keluar seorang murid laki-laki berambut putih yang terlihat sangat tangguh dengan samurai yang berada di tangan kirinya.
Tak seperti pertandingan sebelumnya antara murid perempuan yang bertanding dengan murid perempuan lainnya,
sedangkan di pertandingan kali ini Rin yang harus berhadapan dengan seorang murid laki-laki.
"Ooy... Apa-apaan ini ? Kenapa lawan Rin adalah seorang laki-laki ? Ini tidak adil" ujar Oda yang merasa heran dan juga kesal.
Dengan segera aku langsung berlari turun menuju ke dalam arena untuk menemui guru Hisobu.
"Hei Yuuta ! Kau mau kemana ?" tanya Oda yang kemudian langsung mengejar ku.
"Aku ingin menemui guru Hisobu untuk menanyakan hal ini padanya" jawab ku dengan perasaan kesal.
Saat ketika guru Hisobu ingin memulai pertandingan, dengan segera aku langsung saja meminta guru Hisobu untuk menghentikannya.
"Tunggu!" ucap ku dengan keras dari sisi arena pertandingan.
Semua orang di sana terkejut ketika melihat ku yang tiba-tiba saja masuk ke dalam arena dan menghentikan pertandingan.
Para murid yang berada di atas bangku penonton pun mulai bertanya-tanya ada apa dan siapa di dalam arena pertandingan.
"Yuuta ?"
__ADS_1
Rin menoleh ke arah ku yang muncul dari arah belakangnya dan diikuti oleh Oda yang mengejar ku.
Aku berjalan dengan cepat dan melalui Rin begitu saja, aku langsung menghampiri guru Hisobu yang berada di tengah arena.
"Yuuta ? Ada apa ?" tanya guru Hisobu yang merasa keheranan.
"Guru, apa maksudnya ini ? Kenapa kau biarkan seorang murid perempuan untuk bertanding melawan murid laki-laki ?"
Dengan perasaan kesal, aku meminta penjelasan kepada guru Hisobu tentang pertandingan yang akan segera dimulai.
"Benar guru, bukankah ini tidak adil ?" lanjut Oda.
Belum sempat guru Hisobu memberikan jawaban, suara riuh dari sorakan para murid pun terdengar sangat ramai.
"Hei! Apa yang kalian lakukan di sana ? Cepat menyingkir dari atas arena!" ucap salah seorang murid laki-laki yang berteriak keras dari atas bangku penonton.
Sementara aku hanya diam dan mengabaikan suara riuh itu, aku terus menatap guru Hisobu sembari menunggu jawaban darinya.
"Semuanya! Tolong tenang!" ucap guru Hisobu dengan lantang, menyuruh semua murid untuk tenang.
Tak lama kemudian suara riuh dari para murid pun mulai menghilang dan keadaan mulai tenang kembali.
"Dengarkan aku Yuuta, aku tidak membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Sebelum memulai pertandingan, kalian diminta untuk mengambil sebuah kertas yang berisi sebuah angka. Selain untuk menentukan urutan dari masing-masing murid, angka itu juga untuk menentukan lawan secara acak apapun hasilnya. Karena di saat pertarungan yang sebenarnya di luar sana,
kita tidak bisa memilih lawan yang akan kita hadapi" ucap guru Hisobu sedikit menjelaskan tentang alasannya membiarkan hal itu terjadi.
"Tapi guru, membiarkan seorang murid perempuan untuk melawan murid laki-laki pada saat latihan bertanding pertamanya..?" tanya Oda yang merasa belum puas terhadap penjelasan dari guru Hisobu.
"Memang tidak adil, tapi ini adalah salah satu cara untuk melatih kalian agar saat diluar sana kalian siap untuk menghadapi musuh dan juga kondisi yang tidak terduga. Selain itu, ini juga untuk pembelajaran bagi kalian tentang kelebihan dan kelemahan pada diri kalian sendiri. Supaya kalian dapat mengetahui apakah keadaan kalian lebih unggul dari musuh yang kalian hadapi atau justru kalian harus mundur dan pergi." jelas guru Hisobu dengan ringkas.
Aku hanya menurunkan pandanganku setelah mendengar penjelasan dari guru Hisobu, aku mulai sedikit mengerti tentang tujuan yang di maksud dari latihan bertanding yang dilakukan ini.
Namun meskipun begitu, tetap saja hatiku ini sangat sulit untuk menerima hal itu.
Aku tidak bisa melihat Rin untuk bertanding melawan seorang laki-laki yang jelas jauh lebih kuat darinya.
__ADS_1
Ditambah lagi aku mengetahui siapa murid laki-laki yang menjadi lawan bertanding Rin saat itu, dia adalah Shin Bareyv.