Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 18. Angin kencang


__ADS_3

Setelah berhasil menghindari serangan dari teknik rahasia milik Shin, kemudian Rin terus melakukan serangan dengan melontarkan anak panahnya, Shin dengan energi sihir yang terpancar dari dalam tubuhnya berjalan santai sembari menebas semua anak panah yang melesat ke arahnya.


"Wah.. wah, ternyata kau punya murid yang sangat tangguh ya, Stela," ucap seorang Guru dari class Ranger yang bernama Hanz.


"Ya, meskipun dia sedikit pemalu tapi dia itu jenius," sahut Stela yang merupakan seorang Guru dari class Archer.


"Bukankah gadis itu berasal dari desa Marley?" tanya seorang perempuan dengan tombaknya yang bernama Megelda.


"Benar, sama seperti murid mu yang bernama Oda tadi, dan juga anak laki-laki yang satu lagi," jawab Stela.


"Oh anak itu, dia yang katanya tidak memiliki Mana itu ya?" sahut Hanz menebak.


"Aku tidak begitu ingat nama dari seluruh murid, tapi kalau tidak salah anak itu adalah salah satu dari murid mu juga kan, Kojiro?" ucap salah seorang Guru class Knight bernama Ziro.


"Ya, namanya adalah Hajime Yuuta," jawab Kojiro.


"Eh, benarkah? lalu bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja meskipun tidak bisa menggunakan kekuatan sihir?" tanya Megelda.


"Jangan khawatir," ucap Kojiro dengan pandangan yang masih fokus ke dalam arena pertandingan.


Kembali ke dalam arena pertandingan, Rin terus melakukan serangan jarak jauh dengan melontarkan anak panahnya ke arah Shin, namun Shin yang sudah mulai serius dapat menangkis semua anak panah itu dengan santainya.


Setelah melontarkan begitu banyak anak panah, sesaat Rin melirik ke arah punggungnya untuk memastikan berapa jumlah sisa anak panah yang dimilikinya saat ini.


Shin yang menyadari kelengahan Rin tersebut langsung bergerak dengan sangat cepat ke hadapan Rin.


"Ke arah mana kau melihat ?" bisik Shin.


"Apa!?" dengan cepat Rin menoleh ke arah asal suara tersebut, dan begitu terkejutnya Rin karena melihat Shin yang sudah berada tepat di hadapannya.


Rin mencoba untuk melompat ke arah belakang dan menjauhi Shin, namun Shin berhasil lebih dulu menendang perut Rin dengan sangat cepat dan kuat sehingga membuat Rin terpental jauh sampai membentur dinding tembok arena.


Melihat kecepatan dan kekuatan Shin yang hebat, seluruh murid pun terkejut kagum terhadapnya.


"Hebatnya" ucap salah seorang murid perempuan.


"Luar biasa, aku sampai tidak melihat gerakannya," ucap seorang murid laki-laki.


"Apa itu? cepat sekali," tanya Oda merasa bingung.


"Sialan Shin, dia tidak menahan diri meskipun lawannya adalah seorang perempuan," ujar ku dengan sangat kesal.


"Dengan kecepatan seperti itu, bahkan Ranger seperti ku saja akan kesulitan menghadapinya," ucap Yoe.


"Apa? jika dia sekuat itu, harusnya dia sudah menang dengan mudah dari tadi," ucap Higatsu.


Sedangkan Kirei yang hanya diem dengan raut wajah yang sedikit kesal, tidak mengalihkan pandangannya dan tetap fokus ke arena pertandingan.

__ADS_1


Sementara Rin yang tersandar pada dinding arena yang retak, tampak mengerang kesakitan sembari memegang perutnya akibat tendangan kencang oleh Shin barusan.


Kemudian Shin mengangkat katana dan mengarahkan ujung bilah nya ke arah Rin.


"Perbandingan kekuatan kita jelas sangat jauh, menyerah lah jika tidak ingin terluka parah," Ucap Shin yang ingin segera menyelesaikan pertandingan.


Rin kembali berdiri dengan kepala yang sedikit tertunduk dan tubuh yang sedikit lemas, namun seketika Rin menatap Shin dengan tajam dan mengambil anak panah nya.


Dengan kuda-kuda yang tegak dan anak panah yang berada pada busurnya, Rin sudah siap melakukan serangan.


Belum sempat mengeluarkan energi sihirnya, Rin pun dikejutkan kembali oleh Shin yang bergerak dengan sangat cepat ke hadapan Rin.


Shin mencoba untuk menyerang Rin dengan mengayunkan katana nya ke arah bagian leher menggunakan punggung bilah dan bertujuan untuk membuatnya pingsan, namun dengan sigap Rin menunduk dan melompat ke arah samping kiri nya.


Seakan tidak ingin memberi kesempatan kepada Rin untuk menyerang, Shin terus-menerus mendekat dan menyerang Rin dengan katana nya.


Rin yang terus saja menghindar dan mencoba untuk menjaga jarak dari Shin, berfikir kalau dirinya juga harus melakukan serangan balik untuk membuat celah.


"Wah, keadaan menjadi berbalik," ucap Higatsu.


"Cepatlah kalahkan gadis dungu itu," ujar Yoe.


Sementara itu, Rin yang terus menghindari serangan yang dilakukan oleh Shin, perlahan memfokuskan energi sihir pada tangan sebelah kanannya.


'Aku hanya mampu menggunakan sihir rapalan sebanyak tiga kali, dan aku sudah melakukannya sebanyak dua kali,'


'Jika aku melakukannya sekali lagi maka aku akan kehabisan Mana,'


'Tapi aku tidak ingin membuat Yuuta dan Oda kecewa,'


"Wahai angin yang menerpa~"


Rin mulai merapalkan sihirnya sembari terus menghindar.


"Padang rumput dikala senja~"


"Sedang apa kau?" tanya Shin yang mulai curiga dengan apa yang sedang dilakukan oleh Rin.


Namun Rin tidak memperdulikan pertanyaan yang dilontarkan oleh Shin, dia terus melanjutkan rapalan sihirnya.


"Hapuskan lah rasa sakit pada jiwa yang lelah~"


"Tidak akan ku biarkan," ucap Shin sembari mengangkat katana ke atas menggunakan kedua tangannya.


"Rampage Wind!"


"Fu Ryu!"

__ADS_1


Mereka melakukan serangan secara bersamaan dari jarak yang sangat dekat.


Dengan posisi tubuh yang sedang dalam keadaan merunduk, Rin langsung menghentakkan tangan kanan nya dengan cepat ke arah Shin dengan telapak tangan yang terbuka.


Seketika pusaran angin kencang yang membentuk setengah lingkaran muncul dan melebar di sekeliling tubuh Rin.


Sementara Shin yang kembali menggunakan teknik rahasia miliknya, untuk mematahkan serangan yang akan dilakukan oleh Rin.


Benturan energi sihir yang sangat dahsyat pun terjadi, Rin berusaha sangat keras dan menggunakan seluruh kekuatannya yang terisa.


begitu juga Shin yang menekan seluruh energi sihirnya keluar, membuat serangan dari teknik rahasia miliknya menjadi lebih kuat dan terlihat seperti kepala naga yang sedang melahap mangsanya.


"Khaaaaaaa!!!" Teriak Shin dengan begitu emosional dan terus menekan keluar energi sihir di dalam tubuhnya.


"Aku tidak akan kalah!" ucap Rin yang mulai mencapai batasnya.


Kedua energi sihir yang berbenturan terlihat sama kuat, namun tak disangka setelah beberapa saat, pusaran angin yang melingkar di sekeliling Rin mulai mengecil.


Seakan dilahap oleh serangan milik Shin, pusaran angin yang melindungi Rin perlahan mulai mengecil.


Namun seketika, tiba-tiba muncul seberkas cahaya di tengah-tengah, tepat pada titik bertemunya dua energi sihir yang saling berbenturan dan langsung saja menimbulkan ledakan yang sangat besar.


Sekali lagi, seluruh arena pertandingan kembali diterpa angin yang sangat kencang sampai menerbangkan benda-benda yang ringan seperti kertas dan kain, bahkan sampai mengangkat rok yang dikenakan para murid perempuan.


*Whuuuuzzzzz~


"Kyaaa!!!" teriak sebagian perempuan sembari menahan rok mereka supaya tidak terangkat sepenuhnya.


"Tidak, jangan lagi!" ucap Yoe merasa kesal.


"Hei Yuuta! buka lah matamu, kau harus melihatnya," ucap Oda yang justru malah mengambil kesempatan.


"Tidak! dasar bodoh!" ujar ku menolak.


Sementara itu, Shin yang sangat kuat itu pun akhirnya terkena serangan dengan dampak yang besar, sehingga membuatnya terhempas dan membentur dinding tembok arena pertandingan.


"Hei, yang benar saja, aku bisa sakit jika terus terkena angin sekencang ini," ujar Hanz.


"Hanz, kau itu memang sudah sakit dari dulu," sahut Megelda.


"Apa!?" bentak Hanz merasa kesal.


Beberapa saat kemudian angin kencang yang menerpa pun mulai mereda, beberapa dari kami menjadi berkaca-kaca karena mata kami yang menjadi kering.


Pakaian dari sebagian murid yang menjadi sedikit tidak rapih dan juga rambut yang menjadi acak-acakan seperti tak berbentuk, aku menatap aneh Oda yang tersenyum menyeringai dengan pipinya yang memerah.


"Sadar lah, dasar bodoh!" ucap ku menegur Oda sembari memukul kepalanya sekali.

__ADS_1


"Aw! Apa yang kau lakukan Yuuta? sakit tahu," sahut Oda yang mengeram kesakitan sembari mengelus kepalanya yang baru saja ku pukul.


__ADS_2