
Shin, Tetsu, Lusiana, dan juga Vira. Mereka semua telah berhasil selamat dari serangan monster yang tidak kami ketahui sosoknya, dan kini mereka semua ikut bersama dengan tiga orang pengawas ujian menuju tempat tim Medis.
Sementara Aku dan kelompok ku, harus terus melanjutkan ujian yang kami jalani untuk mendapatkan sebuah gulungan kerajaan.
Kemudian Rin yang tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa, akhirnya memutuskan dirinya untuk ikut bersama kami, setelah kelompoknya menerima bantuan dan juga gulungan kerjaan yang kami berikan.
Dimulai dari Goa tersebut sebagai titik awal penjelajahan, kami melanjutkan perjalanan sedikit lebih jauh lagi untuk mengeksplorasi hutan itu.
Dengan berbekal sebuah peta yang diberikan kepada masing-masing kelompok, kami menentukan tujuan dan rute yang akan dilalui berikutnya.
"Dari yang terlihat di peta, tempat terdekat yang bisa kita tuju berikutnya adalah tempat ini," ucap Frey, sembari menunjuk kesebuah lokasi pada peta.
"Hmm? Tempat apa itu?" Tanya Mio.
"Itu seperti tanah lapang," Ujar Kana.
"Benarkah? Kalau begitu hanya akan ada rumput yang terbentang, apa kau yakin gulungan itu ada di sana?" Ucap Julian, merasa tidak yakin.
"Aku sendiri tidak yakin akan hal itu, tapi simbol ini membuat ku sangat penasaran," sahut Frey.
"Simbol?" Heran Kana.
Ikut merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Frey, kemudian kami semua mulai mendekat pada peta tersebut untuk melihat lebih jelas apa yang dimaksud barusan.
"Ah? Itu," gumam Rin, yang teringat akan sesuatu.
"Hmm? Apa kau tahu maksud dari simbol ini?" Tanya Frey, ketika menyadari respon Rin saat melihatnya.
"Ya, kalau tidak salah itu adalah simbol untuk sebuah bangunan yang tidak berpenghuni," jelas Rin.
"Bangunan? Bangunan apa itu?" Tanya Julian.
"Kalau itu, aku juga tidak tahu," sahut Rin lagi.
"Baiklah, ayo kita kesana!" Ucap ku bersemangat.
"Tunggu dulu!" Potong Kana, yang membuat kami kebingungan.
"Hm? Ada apa Kana?" Tanya Frey.
"Bukankah tempat itu mengarah ke tengah hutan ini?" Ujar Kana.
Sontak kami semua kembali memperhatikan ke dalam peta, untuk mengetahui hal itu.
"Kau benar," ujar Julian.
"Apa kau yakin kita akan ke sana, Frey?" Lanjutnya, yang kemudian menatap Frey.
"Tentu saja," jawab Frey, penuh yakin.
"Apa tidak sebaiknya kita ke tempat lain dulu? Seperti air terjun di sana," saran Mio, sembari menunjuk suatu tempat di dalam peta.
"Hmmm, aku yakin kalau tempat itu sudah lebih dulu di datangi oleh kelompok lain," sahut Frey.
"Eh? Benar juga," ujar Mio.
"Tenang lah teman-teman! yang dikatakan Frey itu benar, mungkin beberapa titik di dekat sini sudah di datangi oleh kelompok-kelompok lain, jadi tidak ada salahnya kita bergerak sedikit lebih jauh lagi kan?" Ucap ku, mencoba meyakinkan yang lain.
"Lagi pula, tempat itu tidak melewati batas yang telah di tandai oleh para pengawas ujian," lanjut ku.
__ADS_1
"Ya! Jika kita terus bekerja sama dan menyatukan kekuatan, monster apapun pasti akan bisa kita kalahkan!" Ucap Frey, dengan senyum percaya dirinya.
Melihat semangat yang begitu membara dari Frey. Membuat Kana, Julian, dan juga Mio tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Bagaimana Kana?" Tanya Mio.
"Hufh~ mau bagaimana lagi?" Pasrah Kana.
Setelah perdebatan kecil itu berlalu, akhirnya kami semua mendapatkan kembali tekad yang hampir goyah.
Tertampak jelas di wajah kami, tatapan dan senyuman yang begitu percaya diri, untuk memulai pergerakan dan mendapatkan sebuah gulungan kerajaan.
Akan tetapi, semua itu jelas tidaklah mudah.
Di suatu tempat, terdapat sebuah kastil yang megah namun seakan tidak ada kehidupan di dalamnya. Suasana sunyi dan cahaya yang redup, membuat siapapun yang berada di sana terasa mencekam.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya? Diablo," tanya sesosok seperti manusia, dengan aura kegelapan yang begitu kuat.
"Khe~ khe~ khe~ tentu saja, aku sudah sangat siap untuk malam ini," sahut sosok lainnya yang disebut Diablo.
Seakan menyambut kehadiran kami, monster - monster buas terus saja berdatangan dan menyerang kami ber-enam.
"Hiyyaaah!!!" Teriak Kana, sembari mengayunkan tombaknya.
Beberapa serangan telah dilancarkan, kami terus bergerak maju dengan menggunakan strategi yang sama seperti sebelumnya.
Frey dan Kana terus melakukan serangan untuk membuka jalan, begitu juga Aku dan Julian yang mencegah para monster untuk mengejar di bagian belakang.
"Apa masih jauh?" Tanya Julian.
"Sebentar lagi," sahut Mio, yang tengah menggunakan sihir pelacak nya.
"Kita akan sampai setelah melalui lembah ini," lanjutnya.
"Yaa!!!" Sahut kami, yang seakan tersulut api semangat Frey.
Tidak ingin ketinggalan dengan yang lain, kami mempercepat pergerakan untuk menyingkat waktu perjalanan.
Lembah bukit yang disirami oleh sinar pagi mentari terlihat begitu indah, diiringi dengan hembusan angin yang sejuk membuat suasana di sana terasa damai.
Namun hal itu membuat kami lupa akan suatu hal, hingga pada saat kami hampir tiba di penghujung lembah tersebut.
"Suasana disini sangat tenang ya?" ujar ku.
"Kau benar, tapi kita tidak boleh lengah sedikit pun," sahut Frey.
"Ada apa, Mio?" Tanya Kana, yang melihat Mio tampak bingung.
"Tidak, hanya saja... Sejak kita memasuki lembah bukit ini, aku tidak merasakan adanya monster yang mendekat," jelas Mio, sembari memperhatikan peta yang dia pegang.
"Hmmmm," gumam Julian, yang kemudian melirik ke arah belakang.
"Kau benar, monster-monster itu juga tidak lagi mengejar saat kita sampai di lembah ini," lanjutnya.
"Jadi begitu? pantas saja di sini terasa begitu damai," sahut Frey.
'Benar juga... selain sangat tenang, aku juga dapat merasakan begitu banyak energi alam yang tersimpan di sini,' batin ku.
"Tunggu dulu, Yuuta!" ucap Rin.
__ADS_1
Seketika kami semua menghentikan langkah, setelah mendengar perkataan Rin barusan.
"Heuh? ada apa, Rin?" heran ku.
"Aku baru saja mengingat sesuatu," ujar Rin, yang menurunkan pandangan sembari memegang dagunya.
"Apa itu?" tanya Frey, penasaran.
"Para monster itu, bukankah mereka lebih sering berkelompok?" tanya Rin.
"Hmmm, benar juga" ujar Ku.
"Ya.. beberapa monster kuat juga biasanya suka menyendiri dan monster lain tidak berani mendekatinya," sahut Kana.
"Sama seperti saat kita menghadapi monster harimau itu, sama sekaki tidak terdapat monster lain saat aku dan Yuuta memeriksa sekitar Goa tersebut," lanjut Julian.
"Jadi maksudmu, ada monster yang kuat dan berbahaya di lembah ini?" Tanya Frey kepada Rin.
"Ya! ini hanya perkiraan ku saja," jawab Rin.
Menyadari hal itu, membuat kami sedikit khawatir dan menjadi lebih waspada.
"Apa mereka memiliki daerah kekuasaan masing-masing?" pikir ku.
"Mungkin saja... tapi jika dilihat dari jaraknya, lembah ini sepertinya terlalu luas untuk sebuah daerah yang dikuasai oleh seekor monster," sahut Julian.
"Tenang lah semuanya! sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, Mio akan segera mengetahui jika memang ada monster yang berbahaya," ucap Frey, mencoba mengendalikan situasi.
"Apa yang dikatakan Frey adalah benar, selama kita saling bekerja sama, monster seperti apapun pasti bisa kita kalahkan!" ujar Ku, penuh semangat.
Setelah diskusi singkat itu, akhirnya kami semua kembali mendapatkan tekad dan semangat masing-masing.
Namun meskipun begitu, perasaan khawatir tidak hilang sepenuhnya, yang membuat kami harus tetap waspada.
*DUARRR!~
Tiba-tiba saja suara ledakan yang begitu keras, terdengar di dekat kami.
Sontak hal itu membuat siapapun yang mendengarnya akan terkejut, dan melihat ke arah sumber ledakan tersebut.
Namun yang begitu mengejutkannya lagi adalah, ketika kami mengetahui bahwa yang membuat ledakan itu adalah Kana.
"Apa yang kau lakukan?!" kesal Frey.
"Bisa-bisanya aku dibuat sangat terkejut oleh ledakan kecil itu," gumam Julian, merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Ada apa? Kana," tanya Mio.
"Tidak, hanya saja batu besar yang tadi itu menghalangi jalan dan juga sangat aneh, jadi aku memutuskan untuk menghancurkannya," jelas Kana, tanpa merasa bersalah.
Kabut asap yang timbul dari dampak serangan barusan, menutupi hampir selebar lembah tersebut.
Ditengah rasa kesal kami semua terhadap tindakan ceroboh Kana, sepertinya membuat Mio merasakan sesuatu.
"Kana..." panggil Mio.
Seketika semuanya terdiam dan merasa heran, saat menyadari ekspresi wajah Mio yang tampak begitu tertekan.
"Batu besar yang baru saja kau hancurkan itu, sepertinya bukan hanya sebuah batu," ujar Kana.
__ADS_1
"Hah? apa maksudmu?" tanya Kana, sedikit cemas.
Sebuah cahaya merah mulai terpancar dari balik kabut asap yang perlahan mulai menghilang, hingga pada akhirnya kami mengetahui apa yang dimaksud oleh perkataan Mio barusan.