Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 35. Bahaya


__ADS_3

Ditengah kegelapan, kami berjalan tanpa tahu arah dan hanya mengandalkan seberkas cahaya yang menerangi.


Kana berjalan di depan dengan sihir api yang digunakan pada ujung tombaknya, sementara kami berempat mengikuti dari belakang.


*Slik Slik Slik ~


Tiba-tiba saja gerombolan kelelawar terbang melintas tepat di atas kepala kami.


"Awas!" ucap Frey sembari mengangkat perisainya ke atas.


Sontak kami semua pun menunduk, agar gerombolan kelelawar itu tidak menabrak wajah kami.


"Apa itu?" tanya ku.


"Sepertinya itu kelelawar," sahut Mio.


*Slik Slik Slik ~


Tak hanya sampai di situ, rupanya gerombolan kelelawar itu memutar arah dan kembali terbang menghampiri kami.


"Hey! awas!" peringat Julian.


Tanpa berfikir panjang kami pun segera menundukkan kepala lagi, dari pada harus mengambil resiko untuk melihat kebelakang.


"Kenapa dia kembali lagi?" tanya ku.


"Entah lah," sahut Julian.


"Kana! mereka kembali lagi!" ucap Frey.


Hal itu sepertinya membuat Kana merasa kesal, karena kelelawar itu terus menyerang di kegelapan.


"Sudah cukup!" ujar Kana.


Kemudian dia memutar dan memainkan tombaknya dengan api yang masih menyala di ujung bilahnya.


"Fire Dance!"


Kana mengayunkan tombaknya ke udara dan melesatkan sebuah sihir api yang besar, hingga membuat gerombolan kelelawar itu terbakar hangus.


Sementara kami yang melihatnya hanya bisa terdiam dengan posisi tubuh yang masih merunduk.


"Hebat," ujar Frey.


"Apa yang sedang kalian lakukan? ayo cepat!" ucap Kana melihat kami yang berkumpul di belakangnya.


"Ah iya! kau benar, ayo kita bergegas," sahut Frey.


"Tunggu!" ucap ku menghentikan langkah semuanya.


"Ada apa?" Tanya Mio.


"Aku melihat sepertinya ada obor yang menempel pada dinding Goa ini, cobalah lihat ke atas langit-langit," jelas ku.


Kemudian Kana mengangkat Tombaknya ke atas untuk memperjelas pengelihatan.


"Kau benar," ucap Kana.


Tampak obor-obor yang telah padam terpampang pada dinding-dinding Goa tersebut, yang langsung saja dinyalakan oleh Kana dengan sihir apinya.

__ADS_1


Api menyulut di sepanjang jalur Goa tersebut, dan kami berjalan menyusurinya mengikuti kemana obor itu berujung.


Sampai kami tiba di sebuah tempat yang sepertinya tempat itu adalah ujung dari Goa tersebut.


Dimana tempat itu cukup lebar dan luas dengan bebatuan yang juga cukup besar meruncing dari bawah tanah.


"Wah, tempat apa ini?" tanyaku.


"Apa kalian yakin kalau gulungan itu ada di sini?" lanjut Mio yang terlihat sedikit cemas.


"Tenang lah teman-teman, ayo kita cari di tepi-tepi Goa ini," ucap Frey.


Baru beberapa langkah saja berjalan lebih dalam, tiba-tiba saja langkah kami pun kembali terhenti oleh sebuah batu yang sangat besar di hadapan kami.


"Hey, apa kalian melihat itu?" ujar Frey.


Masalah terbesarnya bukanlah kegelapan ataupun batu besar itu, melainkan yang sedang lelap tertidur di atasnya.


Sesosok mahkluk bertubuh besar dengan wujud seperti harimau berkulit putih dengan corak hitam yang tengah beristirahat di atas batu besar itu.


"Ahaha, sepertinya gulungan itu memang tidak ada di sini," ujar Frey dengan wajah yang mulai berkeringat.


"Ayo kita kembali," ucap Julian sembari memutar balik tubuhnya.


"Ya, sebaiknya kita tidak mengganggunya," sahut ku.


kemudian kami berlima pun mengurungkan niat untuk mencari gulungan itu di sana, dan memilih untuk memutar balik haluan.


Dengan sangat perlahan dan menyembunyikan suara langkah kaki sedemikian rupa, kami bergegas pergi dari tempat itu.


"Berhenti," ucap Julian sembari membentangkan tangannya.


"Ada yang datang," jelas Julian.


Baru saja akan memasuki lorong Goa tersebut, kami mendengar suara lainya yang berasal dari arah mulut Goa.


Seketika kami merasa cemas dengan ekspresi wajah yang begitu kaku, khawatir akan adanya monster yang masuk ke dalam Goa.


Bayang-bayang pun mulai terlihat dari balik kegelapan, dan tampaknya suara itu bukanlah berasal dari monster.


"Shira?!" ujar ku saat bayang-bayang itu mulai terlihat jelas.


"Heh? Yuuta?" sahut Shira merasa bingung.


Kami pun langsung merasa lega saat mengetahui kalau yang datang itu adalah murid-murid dari kelompok lain.


"Haaaah~" gumam kami menghela nafas panjang.


"Ada apa? kenapa wajah kalian tampak tegang?" tanya Shira.


"Shhhht~" ujar ku sembari mengangkat jari telunjuk ke mulut.


"Pelankan suaramu Shira," ucap ku.


Shira terdiam dan terlihat sangat kebingungan ketika melihat sikap kami yang sangat waspada terhadap sesuatu.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini," saran Julian.


"Tidak, kami akan mencari gulungan itu di sini," sahut salah seorang murid laki-laki dari kelompok Shira yang bernama Saki

__ADS_1


"Gulungan itu tidak ada di sini! Sebelum-," ujar Frey sembari melirik ke arah belakang.


"Sebelum apa?" tanya Saki.


Belum sempat Frey memberitahunya, tiba-tiba saja terdengar suara dari balik arah kami.


*Grrrrrhhh~


Suara seperti dengkuran yang menggema, terdengar jelas oleh semua murid yang ada di sana.


Dengan gerakan yang sedikit kaku, kami berlima menoleh ke arah belakang dimana suara itu berasal.


Dan benar saja, mahkluk harimau yang sedang tertidur lelap itu sudah terbangun akibat suara berisik yang kami timbulkan.


"Astaga! mahkluk apa itu? tubuhnya besar sekali," ujar Shira.


"Ini sangat gawat," gumam Kana.


Dengan sigap kami semua memasang kuda-kuda bertahan untuk melindungi diri kami dari serangan mahkluk itu.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya murid perempuan lainnya dari kelompok Shira.


"Heh! sudah lama aku menunggu saat seperti ini," gumam Shira.


Lalu dengan sangat berani, Shira berjalan mendahului kami dan menghadapi mahkluk harimau tersebut.


*TEEENG!!!~


"Kalian semua diam lah di situ! aku dan Yuuta yang akan menghadapinya!" ujar Shira dengan tegas, sembari menghentakkan perisa besarnya ke tanah dan juga menghunuskan pedangnya.


"Ya ampun, sepertinya ini akan sedikit merepotkan," gumam ku dengan tersenyum frontal, sembari berjalan ke samping Shira.


"Hey, apa kalian yakin akan menghadapinya berdua?" tanya Frey.


"Ya!" sahut Shira dengan penuh keyakinan.


"Aku akan membantu!" ucap Kana.


"Tidak Kana, kau sudah cukup banyak menggunakan energi sihir, sebaiknya kau beristirahat saja," bantah ku.


"Tapi-," ujar Kana.


"Tidak apa, serahkan semuanya pada kami," ucap ku dengan mengacungkan jempol dan tersenyum menyeringai.


"Tenanglah Kana, Shira adalah orang yang sangat kuat dan pangeran yang bijaksana, kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka," ujar Frey meyakinkan Kana.


"Lagi pula, orang yang bersama kalian itu bernama Yuuta kan?" sahut Saki.


"Ya, kau benar," ucap Julian.


"Kalau begitu kalian pasti ingat saat dia menghadapi kebringasan dari seorang Kirei," ujar Saki.


Semua murid yang lainnya pun akhirnya mulai tenang memperhatikan kami dari belakang dengan ketegangan yang sulit disingkirkan.


"Baiklah Yuuta! apa kau sudah siap?" tanya Shira bersemangat.


"Kapanpun yang kau mau, Shira!" sahut ku sembari mengeluarkan katana dari sarungnya.


Tidak salah lagi kalau monter itu memang sangat kuat, namun entah kenapa aku merasa kalau saat bersama Shira maka semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2