
*Scrrrth~
*Srrrt~
*Ting!!!
Suara pertarungan yang menggema di penghujung kegelapan, membuat suasana di dalam Goa tersebut menjadi sangat menegangkan.
Bahkan dengan kombinasi seranganku dan Shira, belum cukup untuk menumbangkan monster iblis itu.
"Wind Blow!"
"Fire Burst!"
Aku dan Shira melancarkan serangan kombinasi secara bersamaan, untuk memperkuat serangan sihir kami.
*Buzzzzh~
Dengan telak serangan itu mengenainya, hingga membuat debu-debu terhempas dan menutupi pandangan kami.
"Awas!" Teriak Frey, sembari menegakkan perisainya ke depan untuk menghalau debu-debu yang menerjang.
Obor yang berada di sekitar dinding Goa pun hampir saja padam karena dampak dari hembusan angin tersebut.
"Hebaaat! tak kusangka mereka bisa melakukan serangan kombinasi bersama," ujar Seki.
"Apakah berhasil?" Tanyaku.
"Aku yakin serangan tadi tepat mengenainya," sahut Shira.
Sangat sulit bagi kami untuk melihat situasi ditengah kegelapan dengan debu yang berterbangan.
"Hati-hati, Yuuta!" Teriak Mio, yang dapat merasakan aliran Mana dari mahkluk iblis itu.
Sontak peringatan itu membuatku dan Shira sedikit terkejut.
"Dia datang!" Ujarku.
Seketika kami berdua langsung memasang kuda-kuda untuk bersiap menerima serangan dari monster iblis itu.
"Di atas!" Ucapku saat menyadari posisinya berada.
Muncul dari balik kumpulan debu yang masih berterbangan, monster itu melesat dengan cakar yang siap untuk merobek tubuh kami.
*Whzzzz~
Dengan mencakar udara di hadapannya, tampak monster tersebut telah melancarkan serangan dari jarak jauh.
"Sihir tanah: Protect wall!"
Seketika tanah yang berada di depan kami timbul dan membentuk dinding pelindung, berkat sihir milik Shira.
*Blarrr!!!
Dalam sekejap dinding pelindung itu hancur, saat terkena serangan dari monster tersebut.
"Tcih!" decak kesal Shira.
Seakan terlintas dalam pikiran, tiba-tiba saja aku ingin mencoba sesuatu.
"Shira, apa kau bisa menahannya sebentar?" pinta ku.
__ADS_1
"Eh? Tentu saja," sahut Shira setelah merasakan tekad yang terlihat dari wajahku.
"Baiklah," ujarku tersenyum.
Dengan sihir angin, aku melompat dan mendorong tubuhku untuk menghindari serangan dari monster itu yang melesat ke arah kami.
"Shield!"
Menerjang dengan kuat, monster itu melesatkan cakarnya yang besar kepada Shira.
"Kena kau!" ujar Shira tersenyum, saat monster itu menghantam perisainya.
Dengan cepat Shira mengepalkan tangan kirinya yang tengah menggunakan perisai,
seketika tanah yang berada tepat di bawah monster itu timbul dan mengekang kakinya yang menyentuh tanah.
"Sekarang, Yuuta!" teriak Shira memberikan aba-aba.
Berkat sihir angin yang ku gunakan untuk mendorong tubuh ku, saat ini aku sudah menapaki dinding langit-langit Goa tersebut.
Sembari memejamkan mata dengan posisi yang sangat siap untuk menyerang, aku memfokuskan energi alam dan mengalirkannya pada pedang yang ku pinjam dari ayah ku saat itu.
'Aku menyadari kalau pedang ini seakan hidup, jika aku mengalirkan seluruh energi alam padanya maka...' batin ku.
"Hah?" gumam Kana terkejut.
"Cahaya apa itu?" tanya seki.
"Mana? Tidak, itu adalah energi yang luar biasa," ujar Mio.
Kejut mereka ketika melihat cahaya yang terpancar dari posisi ku saat ini.
Sekilas aku merasakan kekuatan yang meraung dalam diriku, dan saat itu juga aku membuka mata.
Dengan menebaskan katana ke udara, aku melakukan serangan jarak jauh.
Seketika sebuah energi yang besar dan bercahaya putih melesat dengan cepat, membetuk sebuah sayatan yang melengkung.
*BLAAARR!!!~
Tepat mengenai leher bagian belakang, serangan itu berhasil memenggal kepala monster iblis harimau tersebut.
Dampak dari serangan yang begitu kuat, hingga menghancurkan tanah di sekitarnya dan membuat Shira terpental bersama pecahan-pecahan tanah tersebut.
Sihir angin yang menghantam permukaan seketika menyebar dan menerpa area sekitar.
"Shira! apa kau baik-baik saja?" tanya ku saat kembali menapakkan kaki di permukaan.
"Yang tadi itu sangat berbahaya loh," ujar Shira tersenyum.
"Ma-maaf, aku hampir saja melukaimu," ucapku merasa bersalah.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan terluka jika perisai ini masih terpampang kokoh di lengan ku! Hihi" sahut Shira dengan tawa menyeringainya.
"Ah, syukurlah kalau begitu," ujarku merasa lega.
Namun ditengah hal itu, tampak teman-teman yang lainnya hanya terdiam menatap ke arah monster iblis tersebut.
"Hebat..." ujar Kana.
"Kekuatan yang mengerikan," lanjut Julian.
__ADS_1
"Kalian berdua! syukurlah kalian baik-baik saja, aku sangat kagum dengan kehebatan kalian saat bertarung melawan monster itu," ucap Frey.
"Terimakasih Frey, aku hanya ingin membatu saja," ucap ku.
"Ya, lagi pula akulah yang membuat monster itu terbangun, jadi aku harus bertanggung jawab untuk menghabisinya," sahut Shira.
"A-aahahaha," gumamku tertawa kaku.
Suasana yang tadinya begitu mencekam dan menegangkan, seketika mencair saat monster iblis itu telah berhasil dikalahkan.
Meskipun harus menggunakan seluruh energi alam yang ku miliki saat ini, tetapi aku lega karena semuanya baik-baik saja.
"Astaga, kalian ini benar-benar tidak boleh berada di dalam satu tim," ucap Seki.
"Yah, karna itu akan menjadi sangat tidak adil bagi kami," lanjut Lina.
"Syukurlah pangeran Shira baik-baik saja," gumam Diana yang juga merupakan salah satu dari kelompok Shira.
"Sebenernya aku ingin membantu tadi, tapi sepertinya aku tidak perlu sampai turun tangan untuk menghadapi monster lemah seperti itu," ujar seorang lagi dari kelompok Shira yang bernama Jiyu.
"Ah! dia mulai lagi," gumam Seki.
Di sisi lain, aku melihat Mio yang tengah terdiam dengan tatapan yang terkejut ke arah ku.
"Mio? Ada apa?" tanyaku menghampirinya.
"Emmh!" ujar Mio yang kemudian tersenyum saat menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Yuuta!" ucap Mio yang seketika tersenyum manis.
"A-ah iya, terimakasih! haha," sahutku sedikit gugup, saat menyadari kekuatan wanita yang dengan mudah melemahkan laki-laki.
"Hey, Yuuta! sepertinya kau harus berhati-hati," ucap Shira sembari menutupi senyum liciknya.
"Shira, kita ini temankan?" sahutku sedikit panik, dengan tersenyum kaku.
"Tentu saja! ahahaha," jawab Shira dengan tawa mencurigakannya.
"Ahaha, entah kenapa saat ini aku tidak percaya denganmu," ujarku.
"Kenapa mereka itu?" tanya Frey kebingungan.
"Entahlah," sahut Kana yang menatap kecut.
Sementara itu, di suatu tempat sisi lain hutan terlarang.
Tampak Oda yang tengah berada di pinggir muara air terjun bersama dengan kelompoknya.
"Apa kau yakin gulungan itu ada di sini? Kirei," tanya Oda.
"Dasar bodoh, sebaiknya kau diam saja dan turuti perkataan ku," ujar Kirei, yang ternyata berada dalam satu kelompok bersama Oda.
"Apa? Kau pikir siapa dirimu? Memerintah kami se-enaknya saja," kesal Oda.
"Aku adalah seorang bangsawan, tidak seperti kalian orang-orang desa yang payah," sahut Kirei dengan angkuh.
"Benar juga," gumam Oda dengan polosnya.
"Tcih! Meskipun begitu, bukan berarti kau bisa bertindak se-enaknya!" lanjut Oda.
"Dia benar, jika kau ingin lulus dalam ujian ini maka kita harus berkerja sama," ucap salah satu murid laki-laki yang bernama Grey.
__ADS_1
"Yah! kita akan mendapatkan gulungan itu dan lulus bersama-sama!" ujar murid laki-laki lainnya yang bernama Luke.
"Dasar! Kenapa aku harus satu kelompok dengan anak-anak payah ini?!" kesal Kirei.