Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 38. Firasat


__ADS_3

Terik matahari yang tepat berada di atas kepala membuat kami merasa lelah, dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Dengan duduk beralaskan tikar, aku dan yang lainnya mengeluarkan persediaan makanan yang kami bawa.


"Yuuta, kau harus makan yang banyak untuk memulihkan energi mu," ucap Frey.


"Ahaha, aku baik-baik saja," ujar ku.


"Tapi pertarungan tadi pasti menguras habis energi mu," tegas Frey.


"Jangan lupa kalau persediaan makanan kita hanya sedikit, jadi kita harus menghematnya," bantah Julian.


"Dia benar! lagi pula aku hanya tinggal mengumpulkan kembali energi di sekitar sini," lanjut ku.


"Hmmm, baiklah tapi jangan sampai memaksakan diri ya, Yuuta?" peringat Frey.


"Jangan khawatir," sahut ku meyakinkannya.


"Tapi, jika gulungan itu tidak ada di sana, maka kita harus mencarinya kemana?" tanya Kana.


"Kau benar! aku yakin kalau gulungan itu ada di sana, tapi entah kenapa kita tidak bisa menemukannya di dalam Goa," ujar Frey.


"Mungkin saja ada sebuah pentujuk yang belum kita ketahui?" tanya ku.


"Yah, tidak mungkin kalau ujian ini begitu mudah," sahut Julian.


"Baiklah! setelah selesai memulihkan stamina, kita akan mencari kembali gulungan itu di sana!"


"Ya!" serentak kami semua.


Sementara itu, di sisi hutan yang lain.


Sejuknya deras arus air terjun yang mengalir, membuat suasana panas di siang hari menjadi segar.


*Blurrr~


Tampak Oda yang melepas baju tengah menyelam ke dalam muara, untuk menangkap ikan dengan tombaknya.


"Hey! Apa yang kalian lakukan?" teriak Kirei.


"Menangkap ikan," sahut Grey.


"Bodoh! Apa kalian ke sini untuk bermain-main?" Kesal Kirei.


"Ayolah, ini sangat menyenangkan," ujar Luke.


Seakan ucapannya tidak didengar, Kirei hanya bisa terdiam dengan perasaan kesal.


Sementara itu, Oda terus menyelam hingga ke dasar muara untuk mendapatkan ikan yang terbesar di sana.


Dan benar saja, tak lama kemudian ikan dengan ukuran tubuh yang hampir sama dengan dirinya melintas di hadapan Oda.


Tanpa pikir panjang, Oda langsung berenang mengejar ikan itu.


"Wind Strom!"


*Bhuuuuz~


Sebuah sihir angin telah dilepaskan oleh Oda saat dirinya tepat berada di bawah ikan besar itu.

__ADS_1


*Blaaasshh~


Dengan cepat, ikan itu terhempas hingga ke atas permukaan air.


Sontak hal itu membuat mereka semua terkejut, karena ukuran ikan yang begitu besar tengah terhempas dan melayang ke udara.


"Ah, ini dia!" teriak Luke, dengan anak panah yang siap dilepaskan.


"Water rush arrow!"


Luke melepaskan sihir air ke arah ikan tersebut, hingga membuat ikan itu menancap pada dinding tebing di dekatnya.


"Woah! Hebat!" ujar seorang murid perempuan bernama Emi.


"Uwah! Teman-teman apa kalian mendapatkan ikannya?" tanya Oda yang baru saja muncul ke permukaan.


"Yah! Itu adalah ikan yang sangat besar loh," sahut Grey.


"Tentu saja! Aku menemukannya di bagian dalam muara ini, haha" ucap Oda dengan bangga.


"Oiy, itu berbahaya tahu!" tegur Emi.


"Tenang saja, bahaya apapun tidak akan bisa mengalahkan kita! Haha," ujar Oda penuh semangat.


"Hey! Anak-anak payah! Kita di sini untuk mencari gulungan itu, agar aku bisa cepat lolos dalam ujian ini!" teriak Kirei.


"Kenapa kalian malah asik bermain?!" lanjutnya.


Akan tetapi mereka berempat hanya terdiam sembari menatap heran ke arah Kirei yang sedang kesal.


"Heeeemh?" gumam Oda, Luke, Grey, dan juga Emi.


"Emh! Lagi pula kita sudah dekat dengan letak gulungan itu," sahut Emi setelah menganggukan kepalanya.


"Santai lah sedikit, kau terlihat begitu tegang Kirei," ujar Luke.


"Kita masih punya waktu sampai lusa, jadi kita bisa bersantai dulu di sini," lanjut Oda.


"Bersantai? Kau pikir dimana kita sekarang?!" tanya Kirei.


"Dasar anak-anak desa! Mereka hanya tau bersenang-senang, pantas saja mereka payah!" Kesal Kirei, sembari berjalan pergi mengikuti alur sungai.


"Hei! Kau mau kemana?" Teriak Oda.


"Aku tidak butuh kalian! Aku akan mencari gulungan itu sendiri," sahut Kirei tanpa mengehentikan langkahnya.


"Astaga dia itu," gumam Emi.


"Biarkan saja dia," ucap Grey.


"Baiklah! Jika kau dalam bahaya kami akan segera membantu mu!" teriak Oda lagi.


Seakan tidak mendengar, Kirei terus berjalan dan mengabaikan kelompoknya.


Sementara itu, para Guru dari tiap class yang tengah berjaga dan mengamati proses berjalannya ujian.


"Sepertinya ini akan berjalan dengan baik," ujar Hanz.


"Entahlah aku merasa sedikit gelisah," resah Megelda

__ADS_1


"Kita sudah menandai daerah yang sudah di netralisir oleh kesatria-kesatria kerajaan, jadi sudah pasti aman," sahut Kojiro.


"Yah, meskipun masih terdapat monster-monster iblis yang berkeliaran," lanjutnya.


"Jangan khawatir, anak-anak tahun ini sepertinya memiliki potensi yang lebih besar dari pada sebelumnya," ucap Stela.


"Tapi tetap saja, sulit untuk menyingkirkan perasaan yang mengganjal ini," ujar Megelda.


"Megelda, Percayalah pada mereka! seperti mereka percaya padamu sebagai pembimbing mereka," tegas Ziro.


Sedikit terkejut, Megelda seakan kembali tersadar dengan apa yang seharusnya ia lakukan.


"Ah iya kau benar, maafkan aku," ucap Megelda dengan senyum tipisnya.


Sembari melirik ke arah Megelda, Ziro yang ikut tersenyum juga seakan sedang memikirkan sesuatu.


Waktu telah melewati tengah hari, dan semua pergerakan dari tiap kelompok masih tampak berjalan dengan lancar.


Di sisi lain, Kirei tengah berjalan menyusuri sungai untuk mencari gulungan tersebut.


*Bhuuufff!~


Tiba-tiba saja terdengar seperti ledakan dan pancaran air yang sangat besar terlihat dari arah Oda dan yg lainnya.


"Astaga, apa yang dilakukan bocah-bocah itu?!" ujar Kirei.


*Bhuuufff!!!~


Ledakan air yang terjadi sekali lagi, membuat Kirei sangat penasaran dan akhirnya bergegas kembali pada kelompoknya.


"Wind Drill!"


Sebuah pusaran angin telah dilepaskan oleh Oda, yang kemudian disambut oleh sihir element air yang lebih besar dan mematahkan serangan tersebut.


Sekali lagi, Oda beserta ketiga temannya hanya bisa menghindari serangan yang begitu kuat oleh mahkluk itu.


*Bhuuufff!!!~


Tak lama kemudian, Kirei telah sampai kembali di tepi muara tempat mereka beristirahat.


"Hey! Apa yang kalian lakukan? Dasar anak-anak Pa-"


Belum sempat menyelesaikan sepatah kata terakhirnya, sontak Kirei dibuat terkejut oleh kemunculan sesosok makhluk besar.


"Ah, Kirei! Akhirnya kau kembali untuk membantu kami," ucap Oda merasa senang.


Tampak Oda bersama Luke, Grey, dan Emi yang tengah berhadapan dengan seekor mahkluk salamander bertubuh besar dan sangat kuat.


Menyadari keberadaan Kirei, mahkluk Salamander itu langsung saja melesatkan sebuah semburan air ke arahnya.


"Fire Blast!"


Namun dengan cepat, Kirei menghancurkan serangan itu dengan sihir apinya.


"Baraninya kau menyerang ku!" Kesal kirei yang baru saja tiba.


Mahkluk Salamander itu memiliki tubuh yang besar, dan tingginya hampir sama dengan pohon-pohon di sekitarnya.


Aura gelap yang terpancar dari dirinya, sudah cukup menjelaskan betapa kuatnya mahkluk itu.

__ADS_1


__ADS_2