
Setelah menerima beberapa pertanyaan dan suatu kabar yang kurang bagus dari Guru Hisobu, aku dan Shira kemudian pergi ke kantin bersama untuk sarapan.
Kami berbincang sedikit tentang yang dikatakan Merlin saat di Ruang Guru Hisobu tadi.
"Aku sama sekali tidak mengerti tentang ujian yang dimaksud tadi," ujar ku.
"Apa kau masih mengkhawatirkan nya?" tanya Shira.
"Ya, bagaimana jika aku gagal dalam ujian itu nanti?" tanya ku.
Shira tertawa kecil setelah mendengar keresahan ku.
"Aku sangat mengenal Merlin itu seperti apa, itulah kenapa saat aku tahu kalau dia yang akan bertanggung jawab aku merasa sangat lega," ucap Shira.
"Lagi pula dia bilang itu akan menjadi seperti latihan, jadi kau tidak perlu khawatir Yuuta," lanjutnya meyakinkan ku.
"Terimakasih Shira, kau sudah banyak sekali membantu ku dan teman-teman yang lain," ucapku merasa senang.
Tak lama kemudian, kami akhirnya tiba di kantin yang tempatnya tidak jauh dari taman.
"Ah itu mereka," ucap Shira yang melihat Oda dan juga Rin.
Terlihat Pada yang masih dengan lahap memakan makanannya, juga Rin yang tampaknya sudah selesai sarapan dan sedang meminum minumannya.
"Ayo Yuuta, kita ambil makanan sebelum kehabisan dan bergabung dengan mereka," ajak Shira.
"Ya, kau benar!" sahut ku.
Aku dan Shira bergegas mengambil makanan yang telah disiapkan, lalu menghampiri Oda dan juga Rin untuk ikut makan bersama mereka.
"Hai teman-teman," sapa Shira.
"Oh, Shira? Yuuta? kalian sudah selesai dengan urusan kalian?" tanya Oda dengan sisa makanan di mulutnya.
"Tentu saja," jawab Shira.
Aku dan Shira kemudian duduk di hadapan mereka, dengan Rin yang tepat berada di depan ku.
"Yuuta, apa yang terjadi denganmu ?" tanya Rin.
"Ahaha, yaah ada beberapa hal yang tidak mengenakan," jawab ku.
Aku menjelaskan kepada Rin dan juga Oda tentang apa yang baru saja terjadi dan kabar yang ku dapat barusan.
Mereka tampak tidak setuju jika hasil latihan ku selama ini dianggap hal aneh oleh para petinggi tersebut.
"Oh, jadi Nona Merlin yang akan melakukannya?" tanya Oda.
"Ya, kalian tidak perlu khawatir, aku yang akan memastikan kalau Yuuta pasti baik-baik saja," jelas Shira kembali meyakinkan Oda dan juga Rin.
"Baiklah, aku percaya pada kalian berdua," ucap Oda.
"Yuuta, semangat lah! aku yakin kau pasti bisa!" ucap Rin menyemangati ku.
"Kami pasti akan selalu membantumu!" lanjutnya.
Mendengar hal itu jelas membuatku sangat senang dan cukup terharu, apalagi yang berkata itu adalah orang yang ku suka.
Karena tadi waktu istirahat ku sudah terpakai sedikit, maka aku dan Shira bergegas menghabiskan sarapan kami.
Setelah itu seperti biasa kami kembali ke tempat latihan dari masing-masing class, kecuali aku yang harus pergi ke tempat Merlin berada untuk melakukan ujian.
__ADS_1
"Baiklah, waktunya kembali ke tempat masing-masing," ujar Shira.
"Ya, aku duluan ya!" pamit Oda.
"Aku juga," lanjut Rin sembari mengangkat tangan kanannya sedikit dan melambaikan tangannya.
"Kau akan pergi ke tempat Merlin kan? Yuuta," tanya Shira.
"Ya, aku harus ke sana untuk menyelesaikan ujian itu," jawab ku.
"Kalau begitu ayo ku antar," ajak Shira.
"Eh? kau tidak ikut latihan dengan Guru Ziro?" tanya ku.
"Guru Hisobu meminta ku untuk mendampingi mu," ucap Shira dengan menutup sebelah matanya dan mengangkat jari telunjuknya.
"Ahaha, jadi begitu," ujar ku yang mengerti maksud Shira.
Kemudian aku dan Shira bergegas pergi menuju tempat Merlin berada, yaitu di sebuah kastil yang cukup besar dengan dua lantai, dimana terdapat sebuah tempat khusus untuk berlatih yang cukup luas di atapnya.
Kami bertiga berada di sana untuk memulai ujian yang akan dilakukan.
"Sebelumnya, namamu adalah Hajime Yuuta?" tanya Merlin
"Ya benar,"jawabku.
"Kau adalah anak dari Hajime Shimazu? seorang kesatria agung di kerajaan," tanyanya lagi.
"Ya benar."
"Baiklah, apa kau bisa merasakan energi alam di sekitar sini?" tanyanya lagi.
"Hmmm, ya aku bisa merasakannya," jawabku.
"Kalau begitu, coba kau kumpulkan energi alam di sekitar ke dalam tubuhmu," ucap Merlin memberikan instruksi.
Kemudian aku memejamkan mataku kembali dengan fokus yang sangat tinggi, dan menarik nafas dalam-dalam.
Merlin terus memperhatikan dengan kemampuannya yang dapat melihat setiap energi yang ada.
Secara perlahan, energi alam yang ada di sekitar mulai mengalir masuk ke dalam tubuhku.
Lalu Merlin menciptakan sebuah lingkaran sihir yang besar di pinggir tempat tersebut.
"Sekarang coba kau hancurkan penghalang yang ada di sebelah kanan mu itu," ucap Merlin.
Aku membuka mata dan mengambil kuda-kuda untuk melakukan serangan jarak jauh.
Dengan energi alam yang telah terkumpul, aku memusatkan nya ke tangan kanan ku yang mengepal.
*Wusssh~
Aku melakukan serangan jarak jauh, dengan meninjukan tangan kananku tepat ke arah lingkaran sihir itu berada.
*Tresssh!!!
Sihir Angin yang ku gunakan melesat dengan sangat cepat, sehingga membuat lingkaran sihir tersebut hancur.
"Apa seperti itu?" tanya ku.
Merlin tersenyum dan mengeluarkan tawa kecilnya.
__ADS_1
"Yang barusan itu adalah penghalang dengan sihir kegelapan, yang tidak bisa ditembus oleh element sihir dasar apapun," ucap Merlin.
"Heee?" gumam ku merasa bingung.
"Lalu kenapa bisa hancur hanya dengan menggunakan sihir angin?" tanya Shira.
"Itu karena energi yang digunakannya adalah energi netral yang berasal dari alam," jelas Merlin.
Kemudian Merlin kembali menciptakan lingkaran sihir tersebut di tempat yang sama.
"Pangeran, sekarang coba kau hancurkan penghalang tersebut dengan sihir terkuat mu," ucap Merlin.
"Sihir terkuat? hmm baiklah," sahut Shira.
Kemudian Shira mengambil sebuah pedang yang berada di belakang nya, dan bersiap untuk melakukan serangan.
Shira mengambil kuda-kuda dengan menghunuskan ujung bilah pedangnya ke arah yang ditargetkan.
Seketika sihir api yang membara muncul dan menyelimuti seluruh pedang yang digenggamnya.
"FIRE BURST!!!"
Pusaran api yang begitu dahsyat melesat dengan sangat cepat ke arah lingkaran sihir tersebut, dan menghantamnya dengan sangat kuat.
Namun serangan itu sama sekali tidak berdampak apapun pada penghalang tersebut, bahkan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.
"Apa? bagaimana bisa?" tanya Shira yang terkejut.
"Tentu saja, itu karena energi yang kau gunakan adalah energi sihir element api"
"Sedangkan penghalang tersebut kebal terhadap semua element sihir," jelas Merlin.
"Jadi kalian sudah mengerti kan perbedaannya?" tanya Merlin.
Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepala, karena merasa kagum dengan kekuatan sihir mereka berdua.
"Ya, aku mengerti sekarang," jawab Shira.
"Hmmm baiklah, sebenarnya apa yang terjadi denganmu ini bukanlah hal yang aneh," ucap Merlin.
"Sudah ku bilang kan?!" sahut Shira.
"Tidak heran karena ayahmu juga salah satu orang yang bisa menguasai energi alam"
"Dia berlatih selama lima tahun di pulau naga, dan kembali dengan kekuatan barunya," jelas Merlin sedikit menceritakan tentang ayahku.
"Pulau naga?" tanya Shira.
"Ya, itu adalah tempat yang dipenuhi oleh Ras naga, dan dijaga oleh empat dewa arah mata angin"
"Di sana terdapat banyak sekali energi alam yang mengalir, sehingga seseorang bisa dengan mudah untuk berlatih menguasai energi alam"
"Berbeda dengan di sini yang aliran energi alamnya tidak sebanyak di sana," Jelas Merlin.
"Ayah tidak pernah menceritakan tentang itu padaku," ujarku.
"Itulah kenapa aku sangat tertarik denganmu, kau bisa menguasai energi alam dengan cepat meskipun di tempat seperti ini," ucap Merlin.
"Jika kau terus berlatih dengan giat, mungkin kau bisa menjadi seperti ayahmu"
"Tidak, bahkan jauh lebih hebat dari itu," lanjut Merlin yang menaruh ekspetasi besar padaku.
__ADS_1