Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 19. kecemasan


__ADS_3

Benturan antara kedua serangan dengan energi sihir yang kuat, menyebabkan terjadinya ledakan yang cukup besar.


Dan untuk ke dua kalinya, arena pertandingan kembali diselimuti debu yang bertebaran dan angin kencang yang menerpa sampai ke sudut-sudut arena.


Keadaan di atas bangku penonton menjadi ramai dengan suara teriakan para murid, terutama para murid perempuan yang berteriak histeris karena angin kencang yang membuat rok mereka terangkat.


Setelah beberapa saat kemudian, angin kencang itu mulai mereda secara perlahan, namun debu-debu yang bertebaran masih menyelimuti arena pertandingan.


"Uhuk-uhuk, astaga harus berapa kali ini terjadi?" keluh Megelda.


"Berhenti lah mengeluh dan cepat singkirkan debu-debu yang mengganggu ini" ucap Hanz sembari mengipasi hidungnya dengan tangan.


"Iya.. Iya.. Baiklah," jawab Megelda dengan wajah cemberutnya.


Kemudian Megelda melangkah maju mendekati arena dan mengangkat tombak nya, seketika seluruh debu yang menyelimuti arena pertandingan pun tersapu bersih ke langit.


Namun begitu terkejutnya aku, ketika melihat keadaan yang terjadi di dalam arena pertandingan.


Tampak Rin yang sudah terkapar, dan Shin yang berdiri di dekatnya dengan nafas yang terengah-engah.


*TEEENGG!!~


Lonceng tanda berakhirnya pertandingan telah dibunyikan, kemudin Guru Hisobu langsung saja masuk ke dalam arena.


"Pertandingan berakhir, pemenangnya adalah Shin Bareyv!" Seru Guru Hisobu dengan lantang.


Semua murid bersorak dan memberikan tepuk tangan, namun aku dan Oda yang sangat terkejut hanya diam seakan mematung.


"Hiiiyaaah! Akhirnya bocah tengik itu kalah juga!" ucap Yoe.


"Ya, dia itu memang sangat payah!" sahut Higatsu.


"Yaahahaha..." Yoe, Higatsu, dan Kirei tertawa cengengesan.


Sementara itu, aku dan Oda begitu terkejut dengan apa yang kami lihat di dalam arena pertandingan.


"Rin!!!" Teriak ku sangat keras.


Dengan panik aku segera turun dari bangku penonton dan bergegas masuk ke dalam arena, untuk memastikan keadaan Rin


"Oi... Yuuta, tunggu aku" ucap Oda yang berlari mengikuti ku.


Kami berlari menuruni tangga dengan cepat, dan langsung saja memasuki arena pertandingan, menghampiri Rin yang sedang terbaring lemah.


"Rin!" Teriak ku memanggil Rin, mencoba untuk menyadarkan sembari memegang bahunya.


"Rin! sadarlah!" Panggil ku lagi karena Rin tidak memberikan respon.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, tim medis pun akhirnya datang dan membawa Rin ke ruang perawatan untuk memulihkan keadaannya.


"Hei Shin! jika terjadi apa-apa dengan Rin, aku tidak akan memaafkan mu!" ucap ku dengan lantang.


Setelah itu aku dan Oda langsung bergegas mengikuti Rin yang sedang menuju ke ruang perawatan.


Saat memasuki lorong arena, kami berpapasan dengan Shira yang baru saja keluar dari ruang perawatan.


Tetapi aku yang saat itu dalam keadaan panik, aku hanya fokus kepada Rin dan tidak menyadarinya, sementara Shira yang juga tidak memanggil dan hanya memperhatikan saja.


Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di ruang perawatan,


Rin yang sudah berbaring di atas kasur akhirnya mulai tersadar dan membuka matanya secara perlahan.


"Yuuta, maafkan aku karena sudah kalah," ucap Rin dengan lemah.


"Tidak perlu minta maaf Rin, kau sudah berusaha dengan keras" jawab ku menenangkan Rin.


Kemudian tim medis meminta kami untuk meninggalkan Rin sendiri, karena akan segera dilakukan pengobatan.


"Mohon maaf, kami akan segera mengobatinya, jadi tolong biarkan dia sendiri dulu," ucap salah seorang tim medis.


"Oh baiklah, tolong pulihkan dia," ucap ku memohon.


"Tentu saja," jawabnya.


Saat kami tepat berada di depan pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka, dan ternyata Shira yang muncul dari balik pintu tersebut.


"Shira?" ujar ku dan Oda terkejut.


"Yuuta, Oda, syukurlah kalian baik-baik saja," ucap Shira.


"Kau sudah pulih, Shira?" tanya ku.


"Seperti yang kalian lihat," jawabnya tersenyum.


"Sepertinya tadi kau belum kembali naik ke atas bangku penonton, tetapi kau datang dari luar ruang perawatan?" tanya ku merasa bingung.


"Sebenarnya aku baru saja keluar tadi, tapi saat berjalan di lorong aku melihat kalian berlari menuju ruang perawatan, jadi aku kembali lagi ke sini untuk memastikan apa yang terjadi," jelas Shira.


"Benarkah?" tanya ku keheranan.


"Benar Yuuta, tadi Shira berjalan di pinggir lorong saat kita berlari mengantar Rin ke sini," jawab Oda.


"Oh, maaf Shira, aku begitu panik sampai tidak menyadarinya," ucap ku merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Yuuta, aku mengerti," jawab Shira.

__ADS_1


"Tadi kalian bilang Rin? bagaimana keadaannya tadi?," tanya Shira.


"Dia sangat lemah karena terlalu banyak menggunakan energi sihir, dan juga akibat terkena serangan yang sangat kuat," jelas ku.


"Astaga, memangnya siapa yang menjadi lawan bertanding Rin?" tanya Shira.


"Dia itu seorang murid laki-laki dari class assassin dengan kekuatan sihir anginnya yang sangat kuat,namanya itu aku lupa" sahut Oda.


"Namanya adalah Shin Bareyv," lanjut ku.


"Ah, itu dia namanya," ucap Oda menyelesaikan perkataannya.


"Oh anak itu, ku dengar dia adalah murid terbaik di class assassin?" ucap Shira.


"Iya, dia adalah murid terbaik di class assassin, belum ada satu dari kami yang mampu mengalahkannya, dia juga tidak segan-segan terhadap lawannya meskipun itu adalah seorang perempuan," jelas ku dengan sedikit kesal saat membayangkan wajah Shin.


Sementara itu, di tempat para Guru dari masing-masing class.


"Hey kojiro, kalau dipikir-pikir bukan kah murid mu itu terlalu berlebihan?" ujar Megelda.


"Ya, aku yakin teknik sihir yang dia gunakan tadi itu bukan teknik yang diajarkan untuk murid sekelas mereka," sahut Stela.


"Kalian benar, Shin memang sudah berlebihan untuk melawan seorang gadis perempuan, tapi gadis itu juga memiliki potensi yang sangat besar," jawab Kojiro.


"Dan soal teknik yang dia gunakan pada saat terakhir itu, bukan aku yang mengajarinya," lanjut Kojiro.


"Apa maksudnya itu?" tanya Stela.


"Ku dengar, semua keluarga Bareyv memiliki teknik rahasia mereka sendiri, dan setiap serangan yang dilakukan selalu membentuk seperti naga," sahut Ziro.


"Jadi, teknik yang digunakannya itu adalah teknik rahasia milik keluarga Bareyv?" tanya Stela lagi.


"Ya, lebih tepatnya adalah salah satu dari teknik rahasia keluarga Bareyv," ucap Kojiro menjelaskan.


"Benar-benar keluarga yang sangat menarik," ujar Megelda.


Diwaktu yang sama, di dalam ruang perawatan.


"Shira, Oda, kalian duluan saja kembali ke atas bangku penonton, aku akan tetap di sini untuk memastikan keadaan Rin," ucap ku.


"Apa kau yakin, Yuuta?" tanya Oda.


"Jangan khawatir," jawab ku.


Oda terdiam dan melihat ke arah Shira dengan tatapan yang cemas.


"Baiklah Yuuta, kalau itu mau mu kami akan kembali ke atas bangku penonton, kabari kami jika Rin sudah pulih kembali ya," ucap Shira yang mengerti dengan keadaan yang aku rasakan saat itu.

__ADS_1


"Ya, tentu saja," jawab ku tersenyum, meyakinkan Oda dan juga Shira.


__ADS_2