Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 40. Kombinasi Serangan


__ADS_3

Mahkluk Salamander yang tengah dihadapi oleh kelompok 7 sangatlah kuat, dengan energi sihir yang besar dan kemampuan regenerasi seakan membuat dirinya tidak terkalahkan.


Akan tetapi, Grey yang mengatakan kalau dirinya telah menemukan sumber kekuatan mahkluk itu membuat mereka kembali memiliki harapan.


"Eh? Benarkah?" Tanya Luke.


"Apa itu?" Lanjut Oda.


"Lihat!" Ujar Grey, sembari menunjuk ke arah sesuatu pada mahkluk Salamander tersebut.


"Mahkluk itu, dia selalu mempertahankan sebagian tubuhnya untuk selalu berada di atas air muara!" Ucap Grey menjelaskan.


"Jika tebakan ku benar, mungkin saja sumber kekuatannya adalah dengan menyerap air yang ada di sana untuk melakukan regenerasi," lanjutnya.


"Hemh! Pantas saja serangan ku dan Luke tidak berpengaruh padanya," ujar Emi tersenyum sinis.


"Kalau begitu, cara untuk mengalahkannya adalah dengan mengeluarkan dia dari muara?" ujar Oda, dengan tatapan fokus.


"Kirei! Kita buat rencana!" Ajak Grey kepada Kirei, yang baru saja terhempas karena kibasan ekor Salamander tersebut.


"Hah?! Berani sekali kau memerintah ku!" Tolak Kirei mentah-mentah.


"Aku akan menghempaskan mahkluk itu ke udara dengan sihir tanah ku, dan saat itulah kalian berdua berikan serangan terkuat kalian," jelas Grey tanpa menanggapi ocehan Kirei.


"Hoi!" Teriak Kirei.


'Tcih! Aku tidak suka berkerja sama dengan mereka, tapi hanya dengan kekuatan ku saja belum cukup untuk membunuh mahkluk itu,' batin Kirei.


"Aaah! Mau bagaimana lagi? Cepat lakukan!" Ucap Kirei, seakan emosinya terbakar.


"Sihir tanah: Ground spike!"


Grey mengayunkan pedangnya yang menyentuh tanah ke atas, dan membuat sebuah retakan yang menjalar.


*BAMN!


Seketika tanah yang menjadi pijakan Salamander tersebut melonjak naik hingga menghempaskannya tinggi ke udara.


"Sekarang!" Ucap Grey memberikan aba-aba untuk Kirei dan juga Oda melakukan serangan.


Dengan kaki kanan yang sebagai tumpuannya, Kirei mengambil kuda-kuda untuk melakukan sebuah serangan.


"Fire Hit, DRAGON BLAST!"


Seketika Kirei melepaskan sihir api yang sangat besar dan menyerupai naga, setelah mengambil satu langkah memutar dan menebaskan kedua pedangnya dengan selaras.


"VALKYRIE SPEAR : LACING WIND!"


Disusul dengan Oda yang kembali menggunakan teknik Valkyrie, dia melesatkan tombaknya searah dengan sihir api milik Kirei.

__ADS_1


Api yang terpadu dengan pusaran angin saat tombak Oda melalui sihir milik Kirei, menciptakan sebuah kombinasi serangan baru seperti badai api yang besar dan menerjang dengan kangat kuat.


*Whuuzz~


*BLAR!!!


Seketika kombinasi dari kedua serangan tersebut meledak, saat tombak Oda dengan tepat menusuk ke tubuh mahkluk Salamander itu.


Dampak dan suara yang ditimbulkannya begitu besar, hingga membuat udara yang terhempas menjadi hangat saat melintasi tubuh.


Serangan itupun membuat tubuh Salamander tersebut terpecah belah hingga menjadi bagian-bagian kecil, yang seketika itu juga terbakar habis oleh sihir api milik Kirei.


"Huuuuh, panas sekali!" Ujar Luke sembari menghalangi wajahnya dengan telapak tangan kanannya.


"Benar-benar serangan yang luar biasa," lanjut Emi.


Sementara itu, para guru yang mengamati jalannya ujian dapat melihat dengan jelas sisa-sisa energi sihir di udara dari dampak yang terjadi.


"Apa itu?" Tanya Hanz.


"Heum? Apakah itu sihir ledakan?" Lanjut Stella.


"Apapun itu, sepertinya mereka sedang bertarung dengan se-ekor monster yang ada di sana," sahut Ziro.


Tak lama kemudian, dampak dari ledakan itupun menghilang bersamaan dengan mahkluk Salamander tersebut yang lenyap terbakar habis.


"Apa kita berhasil?" Tanya Oda.


"Tentu saja! bahkan monster sekuat itu tidak akan mampu bertahan dari serangan yang sangat dahsyat barusan," ucap Emi meyakinkan.


"Hufh, akhirnya kita bisa mengalahkan mahkluk itu," ujar Oda merasa lega.


"Kerja bagus teman-teman! Ahaha," Ucap Oda yang tersenyum lebar.


Luke, Emi, dan juga Grey ikut tersenyum saat melihat ekspresi Oda yang begitu senang, sementara Kirei yang hanya terdiam sembari menyarungkan kembali kedua pedang miliknya.


"Kirei!" Panggil Oda.


Sontak, Kirei melihat ke arah Oda setelah dia memanggil namanya.


"Terimakasih karena telah kembali dan membantu kami!" Ucap Oda yang tersenyum menyeringai.


"Tcih! dasar anak-anak payah," gumam Kirei setelah membelakangi mereka.


"Astaga, tinggi sekali harga dirinya itu," ledek Emi.


Dan tanpa mereka sadari waktu pun terus berjalan, matahari kian tenggelam dan siang kini telah berganti sore.


Makhluk-makhluk monster Yanga dan di hutan terlarang, akan menjadi sangat agresif ketika malam hari, dan sudah waktunya bagi seluruh kelompok untuk mencari tempat peristirahatan mereka.

__ADS_1


"Heuh? Apa itu?" Gumam ku, yang tengah berada di atas Goa.


Kemudian aku berjalan menghampiri sesuatu itu untuk memastikan apa yang ku lihat.


"I-ini kan?!" Ujar ku terkejut saat mengetahui bahwa yang ku temukan itu adalah gulungan yang kami cari.


"Hoi Yuuta! Hari sudah semakin gelap, ayo kita kembali," ajak Frey yang memanggilku untuk kembali ke tempat peristirahatan kami.


"Ya, baiklah!" Sahut ku.


Saat ini aku berniat untuk menyimpan gulungan itu sendiri, dan tidak memberitahu yang lain tentang hal itu.


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya malam yang menegangkan pun telah tiba.


Suasana mencekam yang terjadi di hutan terlarang saat malam hari, benar-benar membuat kami merasa cemas dengan monster-monster yang berkeliaran saat itu.


Seakan saling bersahutan, suara-suara aneh yang di buat oleh para mahkluk monster di sana, terus menggema di sepanjang malam.


Riuh dedaunan yang terdengar saat sesuatu melintasinya, membuat seseorang di dekatnya menjadi sangat waspada.


Tidur nyenyak? Itulah yang kami harapkan saat berada di dalam sana, namun mahkluk monster yang aktif di saat malam membuat kami harus berjaga secara bergantian.


"Yuuta dan Julian akan berjaga lebih dulu, dan aku akan menggantikan kalian saat tengah malam tiba," ucap Frey membagi tugas.


"Lalu bagaimana dengan kami?" Tanya Kana.


"Kalian berdua sebaiknya istirahat saja di dalam tenda, biar kami para laki-laki yang akan berjaga di luar," jawab Frey.


"Tapi, apakah itu akan baik-baik saja untuk kalian?" Tanya Mio merasa tiak enak.


"Tenang saja, kami akan segera membangunkan kalian jika ada bahaya yang datang," jawab Frey dengan senyum yang meyakinkan.


"Sungguh?" Tanya Mio lagi yang sedikit cemas.


Serentak kami menganggukkan kepala untuk lebih meyakinkan Mio.


"Baiklah, jangan sampai kalian dimakan oleh serigala," ujar Kana yang kemudian masuk ke dalam tenda.


"A-ahaha"


Tak ada sepatah katapun yang dapat ku katakan saat mendengar celotehan itu dengan hanya tertawa kaku.


"Dia itu, wanita yang kasar," ujar Julian saat Kana dan Mio telah berada di dalam tenda.


"Hey, sudahlah, dia hanya mengkhawatirkan kita saja," ucap Frey yang berfikir positif.


"Hemh," gumam Julian yang memalingkan wajahnya.


"Lagi pula, dia terlihat manis saat bersikap seperti itu," ujar Frey sembari menatap ke arah tenda, dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Seakan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Frey barusan, Aku dan Julian hanya menatap heran ke arahnya.


__ADS_2