Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 34. Goa misterius


__ADS_3

Setengah hari telah berlalu semenjak dimulainya ujian, masing-masing kelompok telah melakukan pergerakan.


Ujian bertahan hidup ini berlangsung selama 2 hari 2 malam, dan kami diberi perbekalan yang sepertinya tidak akan cukup untuk selama itu.


"Apa kalian ingin beristirahat dulu?" tanya Frey.


"Kurasa tidak perlu, kita harus menghemat perbekalan yang sangat terbatas itu," jawab Julian.


"Dia benar, lagi pula kita sudah separuh jalan," lanjut Kana.


"Baiklah kalau begitu," sahut Frey.


Kawanan monster Hyena yang mengepung kami saat di kaki bukit tadi cukup menguras tenaga, namun kami juga harus menghemat perbekalan.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami tiba di puncak bukit tersebut, dan kami dapat melihat suasana hutan dari atas sini.


"Hufh, ternyata hutan ini luas juga ya," ujar Mio sembari melihat pemandangan dari tepi bukit.


"Yaah, dan itu membuatku sedikit khawatir," sahut Frey.


"Tentang apa?" tanya ku.


"Tentang monster-monster itu, aku yakin pasti masih ada banyak sekali monster yang lebih berbahaya dari pada yang kita hadapi sebelumnya," ucap Frey.


"Haha, mungkin saja" ujar ku dengan tertawa kaku.


"Lalu dimana gulungan itu berada?" tanya Kana.


"Ah iya," gumam Frey sembari mengeluarkan peta.


Kemudian Frey membentangkan petanya di tanah agar kami semua bisa melihatnya dengan jelas.


"Dari yang tergambar di peta, gulungan itu harusnya berada di dekat sini," ucap Frey.


Semua terdiam sejenak sembari memperhatikan peta tersebut, sedangkan aku yang terus saja memperhatikan keadaan sekitar.


"Hey! lihat lah di atas sana," ucap ku sembari menunjuk ke arah dataran yang lebih tinggi.


Sontak mereka berempat menengok ke arahku, dan melihat ke arah yang ku tunjukan.


"Apakah itu sebuah Goa?" tanya ku.


"Ya, sepertinya kau benar," sahut Frey.


"Apa gulungan itu ada di sana?" tanya Kana.


"Kita tidak akan tahu jika tidak mencarinya," ujar Julian.


"Apa kita akan ke sana?" tanya Mio.


"Ya, tidak ada salahnya kita coba mencarinya ke sana," sahut Frey.


"Tapi sepertinya aku merasakan sesuatu dari dalam Goa itu," ujar Mio.

__ADS_1


"Apakah ada monster di dalam sana?" tanya Frey.


"Entahlah, rasanya lebih gelap namun juga lebih tenang dari monster-monster yang kita jumpai," jelas Mio.


Saat itu aku sama sekali tidak merasakan apa-apa, karena aku lebih memilih tidak menggunakan energi alam untuk menghematnya.


"Bagaimana teman-teman? apa kita akan pergi ke sana?" tanya Frey meminta pendapat yang lain.


"Tunggu apa lagi?" ujar Julian.


"Kita memang berlatih sangat keras untuk hal seperti ini," lanjut Kana.


Lalu Frey menatap ku seakan menunggu jawaban dariku, dan aku pun menjawabnya dengan menganggukkan kepala.


"Baiklah! kita semua akan memasuki Goa itu!" Ucap Frey yang tersenyum dengan begitu bersemangat.


"Dan jika memang ada monster di dalam sana, kita berlima akan menghabisinya bersama-sama!" lanjutnya.


Ekspresi serius mulai terlihat di wajah kami berlima, menandakan semuanya sudah siap dengan apa yang akan kami hadapi di dalam sana.


Tanpa membuang waktu lama, kami berlima kembali berjalan untuk sedikit berada lebih tinggi dari tepi puncak bukit.


Sampai setibanya kami di mulut Goa tersebut, dan berhenti sejenak untuk memastikan keadaan sekitar.


"Sepertinya di sini tidak ada monster-monster yang mengganggu, tidak seperti saat kita berada di bawah sana," ujar Frey.


"Sebaiknya aku dan Yuuta menyusuri sekitar Goa ini, hanya untuk memastikan kalau tidak ada lagi kawanan monster yang akan mengepung kita," saran Julian.


"Itu jauh lebih baik, tolong ya?!" ucap Frey.


Aku dan Julian saling menatap satu sama lain, dan memberikan isyarat dengan menganggukkan kepala.


Seketika, kami berdua bergerak dengan sangat cepat ke arah yang berlawanan, untuk menyingkat waktu yang kami miliki.


"Kita tunggu sampai mereka berdua kembali," ucap Frey kepada Mio dan juga Kana.


Aku dan Julian hanya menyusuri daerah sekitar yang tidak jauh dari Goa tersebut agar tidak tersesat.


Sepanjang rute yang ku telusuri, aku melihat seekor monster beruang besar yang sedang lahap menyantap daging buruannya di bawah pohon.


Terlihat seperti beruang pada umumnya namun dia memiliki tubuh dan cakar yang besar, taringnya yang panjang juga sepertinya cukup untuk melubangi tubuh manusia.


Hal itu membuatku terkejut dan menghentikan langkah ku tepat di hadapannya, aku tidak ingin mengganggu nya dan segera pergi dari sana.


Tetapi monster beruang itu tiba-tiba saja melihat dan menatapku, seakan ia juga terkejut dan penasaran dengan mahkluk yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Gawat," gumam ku.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini."


Namun saat aku baru saja selangkah pergi dari sana, monster beruang itu seketika bangkit dari duduknya dan meraung sangat keras.


Berdiri kokoh dengan cakar yang dibentangkannya, Dia menghadang jalanku seakan tidak akan membiarkan ku pergi begitu saja,

__ADS_1


"Ayolah, aku tidak ingin mengganggumu!" keluh ku.


Lalu beruang itu berlari ke arahku dengan taring yang sangat siap untuk merobek tubuhku.


"Baiklah jika itu mau mu," ujar ku, yang kemudian memejamkan mata dan menarik nafas panjang.


*SING!!!~


Dengan bergerak secepat kilat, aku melalui monster tersebut begitu saja.


"Rasakan lah! hembusan angin senja," ujar ku sembari menyarungkan kembali katana.


Darah mengalir deras keluar, dan seketika tubuh monster beruang itu terbelah menjadi dua, dengan bagian kiri dan kanan.


Tak lama kemudian, aku dan Julian kembali ke titik kumpul secara bersamaan.


"Hey Julian! Yuuta! suara apa yang barusan itu?" tanya Frey kepada kami berdua.


"Suara apa yang kau maksud? aku tidak menemukan satupun monster di sekitar sana," sahut Julian memberikan informasi.


"Ah, itu hanyalah seekor monster beruang," jelas ku.


"Monster beruang katamu?" tanya Frey terkejut.


"Benarkah?" lanjut Julian yang ikut menanyakan.


"Yah, tapi dia sudah ku bunuh, jadi di sekitar sana juga sudah aman," ucap ku memastikan.


"Kau tidak terlalu jauh dari sekitar sini kan?" tanya Kana.


"Ahaha, sedikit," jawab ku.


"A-aah, baiklah kalau begitu," ujar Frey dengan sedikit terbata.


"Oke! karena area sekitar sudah aman, sekarang ayo kita masuk ke dalam Goa!" ucap Frey.


Dengan penuh keyakinan, kami berlima pun mulai memasuki Goa tersebut.


*Tik~


*Tik~


*Tik~


Suara yang bukan bunyi hujan, melainkan tetesan air dari langit-langit Goa tersebut yang menggema di kegelapan.


Membuat suasana yang sunyi dan gelap menjadi cukup menegangkan dan juga mencekam.


"Ya ampun, di sini gelap sekali," ujar Julian.


"Hey Kana! gunakan sihir api mu untuk menerangi jalan," ucap Frey.


"Apa? tombak ku ini bukanlah obor tahu!" tolak Kana merasa tersinggung.

__ADS_1


"Ayolah, ini demi kelulusan kita semua," ucap Frey.


"hemh!" gumam Kana memalingkan wajahnya.


__ADS_2