Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 41. Ancaman?


__ADS_3

Aku yang tengah tertidur pulas mulai perlahan membuka mata, tampak sudah pancaran sinar matahari yang membias di langit fajar.


"Ah, sudah pagi ya?" Ujar ku.


"Aku harus membangunkan mereka semua," lanjut ku, sembari melihat ke arah Frey dan juga Julian yang masih tertidur.


"Tapi sepertinya aku ingin buang air kecil dulu," urung ku, yang kemudian berjalan menuju balik semak-semak.


Dengan santai aku berjalan melintasi semak-semak, namun betapa mengejutkannya saat melihat apa yang ku dapatkan di balik sana.


"Hah! Ini?!" Ujar ku terkejut, saat melihat sebuah jejak kaki yang sangat besar membekas di atas tanah yang sedikit lembab.


"Sebuah jejak kaki?" Gumam ku yang segera menghampiri itu.


"Bahkan besarnya dua kali lipat dari telapak tangan ku," ujar ku saat menempelkan telapak tangan ke dalam jejak itu.


*Sreeeet~


Sementara itu, tampak Kana yang baru saja terbangun mulai keluar dari dalam tenda dengan mata yang masih mengantuk.


"Huh? Ya ampun, mereka belum bangun juga?" Ujar Kana.


"Oh, Kana! Kau sudah bangun?" Sapa ku, yang baru saja kembali.


"Yuuta? Kau habis dari mana?" Tanya Kana.


"A-aahaha, aku baru saja berkeliling tadi, untuk memastikan keadaan sekitar aman," jawab ku dengan sedikit kaku.


Kana yang tampak heran hanya terdiam, sembari menatapku dengan tatapan yang aneh.


"Baiklah kalau begitu," ujar Kana, sembari beranjak pergi meninggalkan tenda.


"Eh? Kau mau kemana?" Tanya ku.


"Aku akan pergi ke tepi sungai dekat sini, untuk menyegarkan tubuh ku," sahut Kana.


"Baiklah, aku juga akan membangunkan mereka," ujar ku.


Setelah itu aku berjalan ke arah tenda, untuk memeriksa kondisi di dalamnya.


"Mio! Bangunlah, hari sudah pagi," ucap ku membangunkan Mio yang masih tertidur.


Tak lama kemudian, Mio pun terbangun dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya.


"Emmmh~" gumam Mio, sembari beranjak duduk.


"Selamat pagi," ucapnya.


"Ya! Selamat pagi," sahut ku, yang menyambut dengan senyuman.


Perlahan Mio mulai membuka mata, dan mendapatkan kesadarannya.


"E-eh? Yuuta?!" Ujar Mio yang terkejut saat melihat ku.


"Ya! Ini aku," sahut ku.


"Kyaaaaa!"

__ADS_1


Mio yang tiba-tiba saja berteriak membuatku sangat terkejut, hingga membangunkan Frey dan Julian yang tengah tertidur.


"Heemh? Suara apa itu?" Ujar Frey yang masih dalam keadaan setengah sadar.


"Hah?! Ada apa? Kenapa kau berteriak?!" Tanya ku dengan panik.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" Ucap Mio kembali bertanya, dengan ekspresi yang sangat terkejut dan wajah yang memerah.


Seakan melindungi tubuhnya, Mio merapatkan kedua tangan di dadanya.


"Aku? Tentu saja membangunkan mu," jelas ku.


"Eh?!" Gumam Mio.


"Lihatlah! ini sudah pagi, waktunya untuk bangun dan sarapan," lanjut ku, sembari membuka lebar tirai tenda.


Mio hanya terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, setelah memandang ke arah tirai tenda.


"Hey! Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" Tanya Frey, yang bergegas mendekati ku bersama Julian


"Tidak ada apa-apa, dia hanya terkejut saat aku membangunkannya," jelas ku.


"Hmm? Mio, kau bersikap aneh belakangan ini," ujar Frey.


"Eh?! T-tidak juga! Aku masih seperti biasanya, ahaha," jawab Mio sedikit terbata.


Begitulah suasana pagi kami setelah malam yang cukup panjang.


"Hoi! Kalian, cepat bantu aku!" Teriak Kana yang kembali dari tepi sungai.


"Kana? Kau sudah se-" ucap ku terpatah, yang terkejut saat melihat ke arah Kana.


Tampak Kana yang tengah berjalan sembari menyanggul seorang anak perempuan, dengan segera Frey dan Julian bergegas menghampiri Kana.


"Anak perempuan?!" Ujar Julian.


"Hey Kana! Cepat katakan apa yang terjadi? Dan siapa anak itu?" Tanya Frey lagi yang sedikit panik.


"Tahan dulu! cepat bantu aku membawanya," tegas Kana.


"Biar aku saja!" Ucap ku, yang langsung saja meraih tangan gadis itu dan menyanggulnya.


"Bertahanlah, Rin!" Ucap ku kepada gadis itu, yang tidak lain adalah Rin.


"Yuu-ta?" Gumam Rin terbata.


Aku membantu Rin untuk berjalan sampai di depan tenda milik kelompok kami, yang kemudian aku membantunya juga untuk duduk di sana.


"Eh? Ada apa?" Tanya Mio yang keluar dari tenda.


"Kana membawa anak perempuan dari kelompok lain yang dalam keadaan lemah," sahut Frey.


"Eh?" Gumam Mio, yang kemudian bergegas bersama Frey.


"Ini, minumlah!" Ucap Kana, sembari memberikan sebotol air.


"Terimakasih Kana," sahut Rin, yang kemudian meminumnya.

__ADS_1


"Rin, ada apa? Kenapa kau terlihat lemah sekali? Dimana kelompokmu?" Tanya ku sangat khawatir.


"Semalam, tiba-tiba saja sosok mahkluk monster yang sangat besar dan kuat muncul dan menyerang kami semua," Jelas Rin.


"Monster katamu?!" Tanya Frey terkejut, yang kemudian disahut oleh Rin dengan menganggukkan kepalanya.


"Monster seperti apa itu?" Tanya Julian.


"Dia berwujud seperti banyeng bertubuh besar, berdiri dengan kedua kakinya dan membawa kapak besar di tangannya," jawab Rin.


"Lalu dimana mereka sekarang, Rin?" Ucap ku, menanyakan tentang kelompok Rin.


"Mereka masih berada di tempat persembunyian, dua orang dari kami terluka berat dan sisanya sedang berusaha untuk menyembuhkan mereka," jelas Rin.


Ketika mendengar penjelasan Rin tentang ciri-ciri mahkluk tersebut, membuatku teringat sekilas akan jejak kaki besar yang ku temui saat tadi.


"Aku sendiri pergi untuk mencari bantuan, dan syukurlah aku bertemu dengan Kana di tepi sungai," lanjutnya.


"Siapa dua orang teman mu yang terluka itu, Rin?" Tanya ku Lagi.


"Tetsu! dan juga Shin," jawab Rin yang sedikit tertekan saat mengingat kejadian semalam.


"Apa?!" Ujar Frey, terkejut.


"Tidak mungkin," gumam Julian.


"Bahkan orang sekuat mereka berdua dapat dikalahkan?!" Ujar Kana.


"Saat ini, Lusiana dan Vira sedang berusaha untuk menyembuhkan luka mereka," ucap Rin, menjelaskan kondisi kelompoknya saat ini.


Sejenak aku dan yang lainnya diam termenung, dengan berbagai pertanyaan dan prasangka yang terus terlintas di pikiran kami.


"Teman-teman, kita harus segera membantu mereka!" Ucap ku.


"Ya! Bagaimanapun juga, mereka adalah teman kita," Sahut Frey.


"Lalu bagaimana dengan gulungannya?" Tanya Julian.


"Oh! Soal itu," ujar ku, yang kemudian melempar gulungan tersebut kepada Julian.


"Hah? Inikan?!" Ujar Julian terkejut.


"Gulungan itu! Bagaimana kau bisa memilikinya?!" Tanya Kana, sedikit emosional.


"Sebenarnya aku menemukan gulungan itu kemarin, tapi ku pikir akan lebih seru jika membuat kalian terkejut saat bersemangat di pagi hari," jelas ku.


"Dasar! Kau ingin terlihat keren ya?" Ejek Frey, yang menyenggol lengan ku dengan sikunya.


"Tidak juga, hehe" jawab ku, tertawa kecil.


"Rin?! Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Khawatir Mio, yang menghampiri Rin.


"Ah, aku sudah lebih baik saat ini, terimakasih kalian sudah mau menolong ku," ucap Rin, tersenyum lega.


"Sudah pasti kami akan menolong mu Rin! Kalaupun mereka tidak ingin menolong mu, maka aku sendiri yang akan melakukannya," ucap ku, meyakinkan Rin.


Hal itu jelas membuat Rin sangat senang saat mendengarnya, sementara Mio yang terdiam, memandang kami dengan raut wajah yang cemeberut.

__ADS_1


"Baiklah, Sekarang ayo pergi untuk menolong teman kita!" Ucap Frey bersemangat.


Bagaikan api yang menyulut, semangat kami semua pun ikut membara dengan anggukkan yang mantap.


__ADS_2