Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chapter 44. Keputusan


__ADS_3

Dua buah cahaya berwarna merah menyala, muncul dari balik debu yang berterbangan akibat serangan yang dilakukan oleh Kana.


Mio yang awalnya tidak merasakan apapun, tiba-tiba saja mendapatkan tekanan yang sangat kuat hingga membuat dirinya seakan tak bisa bergerak.


"Hrrrrmmmmh~"


Seiring dengan debu-debu yang mulai memudar, suara yang mirip seperti dengkuran keras pun kini terdengar dengan sangat jelas.


"I-itu," ujar Frey, terbata.


"Tidak mungkin," gumam Rin, yang tampak begitu terkejutnya saat melihat sosok di balik itu.


Seekor monster besar dengan wujud seperti kerbau dan sebuah kapak besar di tangan kanannya, saat ini sedang berdiri tepat di hadapan kami semua.


"Rin! apakah itu-" ucap ku.


"Ya! itu adalah monster yang menyerang kelompok ku kemarin," potong Rin, menjelaskan.


"Heuh! jadi mahkluk itu yang membuat dua siswa laki-laki terkuat sampai tak sadarkan diri ya?" ujar Kana.


"Hoy!! Kau pikir ini salah siapa?!" kesal Julian.


"Mana ku tahu kalau ada mahkluk itu di sana!" bantah Kana, yang malah ikut kesal.


Keadaan mulai sedikit memanas ketika semua dilanda kepanikan.


"Sudahlah teman-teman! sebesar apapun masalahnya kita pasti akan bisa menghadapinya bersama, apakah kalian lupa?!" tegas Frey, mencoba menenangkan keadaan.


"Heuh, kau benar! lagi pula musuhnya hanya satu kan? dari segi jumlah dan kekuatan kita sudah pasti menang!" sahut ku, dengan memasang senyum menantang.


Pertarungan pun terjadi, serangan demi serangan terus kami lancarkan kepada monster tersebut.


Dengan wujud mengerikan dan tubuh yang besar saja sudah cukup menggambarkan betapa kuatnya mahluk itu.


Sudah beberapa jam telah berlalu, waktu yang sangat cukup untuk menguras habis Mana yang kami miliki.


Saat ini matahari telah berada tepat di atas kepala, namun belum ada satupun dari serangan kami yang mampu melukai tubuh monster tersebut.


"Fire Burn!"


"Phoenix Spear!"


"Wind Arrow!"


Tiga serangan kombinasi dilakukan, dengan sihir api milik Frey dan juga Kana yang menyatu dengan panah angin milik Rin.


*Seeet~


*Bhummm!!!


Melesat dengan sangat cepat dan kuat seperti komet, sampai akhirnya meledak ketika serangan itu mengenai tubuh sang monster dengan telak.


Dampak yang cukup besar dari serangan barusan, membuat kabut asap yang menyelimuti seluruh tubuh monster tersebut.

__ADS_1


"Berhasil!" ungkap Frey.


Begitulah yang kami pikirkan, sebelum sebuah ayunan kapak membuat hembusan angin yang cukup kuat untuk menghempaskan seluruh asap yang menutupi.


*Wusssh~


Sontak kami langsung menutup wajah dengan lengan, agar debu yang ikut terhempas tidak masuk ke dalam mata.


Di tengah keadaan yang membuat kami lengah, seketika monster tersebut telah berada tepat di hadapan Frey.


*BLARRR!


Dengan mengayunkan kapaknya secara horizontal, serangan itu menghantam Frey dengan sangat keras.


"Frey!!!" keras Julian, yang merasa panik ketika melihat Frey terkena serangan.


Untunglah hal itu dapat di tangkis oleh Frey dengan perisainya, hingga serangan tersebut hanya membuat tubuh Frey terhempas ke samping dan membentur dinding tebing.


Belum cukup sampai disitu, monster tersebut kemudian bergerak ke arah Kana. Dengan kapak yang siap melesat kapan saja, seketika mahkluk itu tepat berada di hadapannya.


"Gawat!" umpat Kana, yang telat menyadarinya.


*Seeett~


Dengan serangan vertikal yang seakan sanggup untuk memotong apa saja, sebuah ayunan kapak kembali dilancarkan oleh monster itu.


*CTIIING!!!


Akan tetapi hal itu dapat diatasi oleh ku yang menangkis serangan tersebut, setelah melesat sangat cepat ke arahnya.


"Windstorm!"


Tak mau berlama-lama, aku melepaskan sebuah serangan yang memutar untuk menjauhkannya dari Kana.


*SRIIING~


Dengan menekan energi alam sedikit lebih banyak dan jarak yang sedekat itu, membuat kapak dan tubuh monster tersebut terdorong beberapa langkah ke belakang.


Sontak hal itu membuat yang lainnya terkejut dan seakan menyadari sesuatu, setelah berbagai macam serangan yang dilancarkan tidak berhasil pada mahkluk itu.


"Apa kau tidak apa-apa, Kana?" tanya Ku.


"Y-yah! aku baik-baik saja, terimakasih" sahut Kana, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Syukurlah kalau begitu," ujar ku.


Aku mengambil nafas dan kemudian menghembuskannya kembali, untuk mengontrol energi yang seakan meluap-luap.


"Yang tadi itu..." gumam Julian.


"Yah! sepertinya ini tidak semudah yang kita kira," ucap Frey, setelah beranjak bangkit kembali.


"Apa kau baik-baik saja, Frey?" cemas Mio.

__ADS_1


"Ini bukan apa-apa bagiku!" sahut Frey, bersemangat.


"Ini tidak bagus, kita mulai kehabisan waktu sekarang," ucap Julian, sembari berjalan mendekati Frey.


"Ya kau benar, kita harus cepat selesaikan ini," sahut Frey.


"Tapi, monster itu benar-benar kuat," ujar Julian.


"Haha! apa kau takut, Julian?" ejek Frey.


Tanpa membalas perkataan Frey, Julian tampak diam dengan ekspresi yang sedikit menahan kesal.


"Semuanya!" ucap Frey, dengan tegas.


Lantas kami pun memfokuskan perhatian pada Frey.


"Kita harus memecah kelompok menjadi dua! untuk menyingkat waktu yang tersisa," lanjutnya, memberikan instruksi.


Jelas hal itu membuat kami semua sedikit terkejut dengan perkataan Frey barusan, terutama Kana.


"Hah?! apa yang kau sudah gila, Frey?" ujar Kana.


"Tidak, ini adalah tindakan terbaik yang bisa kita lakukan," sahut Frey.


"Kita ber-enam saja tidak sanggup mengalahkan monster itu, bagaimana bisa kau berpikir untuk memecah kelompok menjadi dua?!" ucap Kana, merasa kesal.


"Tenanglah, begitu kalian menemukan gulungan itu, maka segeralah kembali dan kita akan keluar dari lembah ini," sahut Julian.


Kana yang awalnya sedikit emosi dengan keputusan Frey, tampak mulai memikirkannya kembali setelah mendengar penjelasan dari Julian.


"Ya! biar Aku, Julian, dan juga Yuuta yang menahan monster itu di sini, kalian bertiga pergilah dan temukan gulungan itu untuk kami!" jelas Frey, dengan senyum yang meyakinkan di wajahnya.


"Benarkan? Yuuta!" lanjut Frey, memastikan kalau semuanya setuju.


"Yaaa! Tentu saja!" sahut ku, bersemangat.


"Tapi, apa kalian yakin bisa menahan monster itu?" tanya Mio, merasa khawatir.


"Apa kau meragukan teman satu tim mu, Mio?" ucap Frey.


Mio yang merasa khawatir dengan keadaan teman-temannya nanti, tampak tidak bisa berkata apapun lagi.


"Baiklah! aku mengerti," ujar Kana.


"Kami hanya pergi untuk mengambil gulungan itu, lalu kita semua akan pergi dari sini!" tegas Kana, yang mulai setuju dengan keputusan Frey.


"Bagaimana menurut mu, Rin?" tanya Kana.


"A-aku akan mengikuti apapun rencana kalian," jawab Rin, sedikit kaku.


Setelah mendengar hal itu, kami bertiga pun merasa sedikit lega dengan senyuman di wajah kami.


"Baiklah semuanya, ayo lakukan!" ucap Frey, bersemangat.

__ADS_1


Akhirnya kami memutuskan untuk memecah kelompok menjadi dua bagian, untuk menghemat waktu kami yang tersisa.


Meskipun monster yang saat ini kami hadapi sangatlah kuat, tetapi kami yakin kalau monster itu tidak lebih kuat dari tekad kami.


__ADS_2