
*Mashion ini walaupun sangat besar dan mewah
Namun aku ingin segera pulang . . Tapi aku benar-benar tak mau di sini mereka selalu menjadikan ku piala bergilir . . Walaupun aku tau bahwa pagar kokoh itu sulit untuk ku lewati namun aku harus bersabar agar bisa pergi dari kastil itu . . Kastil yang selalu memberikan hawa dingin dan cangung . . Dan sakamaki selalu menghisap darahku.
Seperti hari ini, aku yang baru saja terbangun dari tidurku di kaget kan akan kedatangan
Kanato dan juga ayato yang ntah sejak kapan sudah ada di samping ranjang ku.
" Akh aku haus hiks!" Kanato berbicara dengan nada menangis seperti anak kecil.
" Aku juga...!"
Ayato dan kanato beranjak mendekati miku yang menegang, kanato mengambil tangan kiri miku sedangkan ayato memilih menusukan taring di bahu Miku.
" Arghh sakit!!"
Rintihan miku menghiasi kegiatan mereka berdua, kanato turun ke daerah paha mengangkat sebelah paha miku dan menancap kan taring tajam pada kulitnya.
" CTAK "
Bunyi suara yang membuat linu siapa pun yang mendegar nya.
" Kalian cukup! "
Reiji datang ntah dari mana.
" Kau mengangu reiji!"
__ADS_1
" Ayato apa kau ingin ayah marah karna melukai nya?" Tanya reiji dingin ke arah ayato.
Ayato berdecih sebal dan menghilang tanpa membuka pintu di susul oleh kanato, sedangkan miku lebih memilih beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya. Reiji menyusul ayato dan kanato ke bawah di sana sudah ada banyak orang termasuk subaru yang notabe nya pemarah.
Setelah sarapan keadaan ruangan masih saja dingin memang nya para vampire jarang berinteraksi satu sama lainnya.
Aku menatap cara makan subaru yang terlihat kasar dari sudut mataku, cara makan subaru sangat cepat bahkan ku lihat satu porsi lobster sudah habis aku kembali menatap ke arah shu yang duduk di samping ku terlihat cara makan yang sopan dan lembut sama seperti reiji.
Miku mendorong piring ke depan" Aku sudah selesai!" Miku mendorong kursi cepat namun di hentikan oleh subaru yang menatap tajam.
" Makan yang benar kau bahkan belum menghabiskan satu piring pun!!" Ujar subaru marah.
Miku ketakutan dan memilih membawa makanan di piring ke kamarnya, para sakamaki melanjutkan acara makan mereka tanpa menghiraukan satu sama lainya.
******
Dan aku memilih untuk berkeliling menjelajahi setiap inci ruangan di kastil itu.
Sepanjang jalan hanya aura gelap dan dingin
Seketika aku menemukan pintu besar . . Dan aku rasa ini adalah pintu lain yang berada di mashion...
Suasana sangat sepi dan tenang tak ada orang sama sekali di sekitarnya, miku mencoba menerka apa yang ada di balik pintu itu namun niatnya seketika ambruk melihat ruangan itu bukan lah jalan keluar melainkan ruangan musik yang sangat besar.
Kususri setiap dinding yang belapis emas, banyak alat musik namun aku malah terpesona pada sebuah biola yang terletak di saping laci di dalam kolase, aku takut namun ku coba ngambilnya melihat ukiran biola itu aku sangat antusias begitu indah batin miku.
Gesekan demi gesekan menghasil irama sedih, miku memainkan biola menghiraukan kemungkinan para sakamaki akan marah karna ia mencoba masuk tanpa ijin.
__ADS_1
Gerakan badan serta irama berpadu miku semakin cepat menyesuaikan ritme nya,
" Nada mu masih acak-acakan!!"
Seseorang berbicara membuat miku langsung menghentikan gesekan nya.
" Shu!”
" Jangan panik! Kau terlihat sangat menyebalkan,!"shu mngambil biola di tangan miku kasar.
" Aku akan pergi!!"
Miku melangkah ke luar pintu, namun tarikan kuat membuat Miku terjengkang kebelakang
Shu langsung sigap menangkap tubuhnya dan menancab kan taring pada leher miku tepat di luar tenggorokan nya.
" Ctak!"
Miku meringis kesakitan namun shu tak peduli
Aroma darah miku sangat memabukan baginya
Ia inginkan lagi dan lagi bahkan ia ingin meminum darah Miku Sampai kering.
Shu merasakan tak ada pergerakan lagi dari miku, dengan itu Shu melemparksan miku
Gadis iti pingsan dan langsung ambruk di lantai
__ADS_1
Shu melewatinya begitu saja meningalkan Miku yang tak sadar dengan noda darah di lehernya yang hampir mengering*.