Sakitnya Di Khianati

Sakitnya Di Khianati
Penentuan Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah banyak hal yang kami lalui, mulai dari mas Angga berhenti jadi driver travel dan pindah ke kota yang sama dengan aku, dan bekerja di toko mainan sebagai montir mainan anak-anak yang sudah rusak, memang gaji nya tidak seberapa tapi sudah lebih dari cukup di saat itu.


Tepat di akhir tahun 2013, aku dan keluarga ku datang berkunjung ke rumah orang tua mas Angga, dalam rangka silahturahmi sekaligus mencari tanggal yang bagus untuk pernikahan kami.


Yah, kedua Keluarga kami sudah saling mengenal lewat sambungan telepon, dan sudah saling memberi restu untuk kami melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu pernikahan.


Kami berangkat setelah sholat subuh. Karna mengingat perjalanan kesana yang cukup banyak memakan waktu. Kali ini adik ku tak ikut karna sudah trauma waktu pertama kali kami berkunjung kesana.


********


Seperti biasa perjalanan kesana memakan waktu lima jam perjalanan, tepat di jam sepuluh pagi mobil yang di kendarai mas Angga memasuki halaman rumah nya, yang ternyata kedatangan kami sudah di tunggu oleh keluarga mas Angga.


Kami turun dan menyalami satu per satu orang yang ada di sana.


"Assalamu'alaikum," ujar papa ku.


"Walaikumsalam." jawab orang-orang yang ada di sana.


"Silahkan masuk Pak, Buk" ucap mama mas Angga lagi dengan senyum ramah nya.


Kami masuk dan duduk lesehan di lantai, kali ini bisa ku lihat lumayan ramai di rumah itu, ada kakak mas Angga dan anak-anak nya hadir menyambut kedatangan kami, semua terlihat sangat manis menerima kehadiran kami dengan baik.


Kami di suguhi dengan beberapa hidangan, dan juga minuman.


"Jadi kedatangan kami kesini, ingin menyampaikan niat baik dari anak-anak kita ini." ucap salah satu pemuka adat di kampung ku yang ikut kesana.


"Pasti Ibu, dan Bapak sudah tau apa maksud dari ucapan saya." lanjut nya lagi.

__ADS_1


"Iya, pak. kami sudah mengetahui nya, jadi bagaimana bagusnya Pak?" tanya mama mas Angga.


"Karna anak-anak kita sudah sama-sama yakin dengan keputusan mereka untuk menuju ke jenjang pernikahan. Dan dari segi umur pun mereka sudah pantas, sebaik nya kita meyegerakan nya."


"Kalau kami sebagai orang tua dari Angga, setuju-setuju saja Pak, dan saya juga setuju dengan ucapan bapak tadi. Jadi kapan kira-kira bagus nya Pak?"


Akhirnya kedua keluarga kami berunding terlebih dahulu, kapan hari yang bagus untuk mengadakan acara pernikahan kami, setelah cukup lama akhirnya semua keluarga sudah menentukan hari yang bagus yaitu di bulan April, untuk ijab qobul nya di tanggal dua puluh lima, dan syukuran nya di tanggal dua puluh tujuh.


"Jadi sudah sepakat yah Pak, Buk. Kalau anak-anak kita akan menikah di bulan April tahun besok."


"Alhamdulillah sudah Pak. Tapi untuk persiapan nya kami minta maaf tidak bisa membantu, karna keadaan yang cukup jauh. Kemungkinan kami akan datang di acara syukuran nya saja, ijab qobul in shaa Allah papa dan abang ipar nya yang akan menghadiri."


"Tidak masalah Pak, Buk. Cukup bantu restu dan doa nya saja untuk kelancaran acara nya nanti." ujar tante ku yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia saja.


Akhirnya, semua sudah di tetap kan. Membuat aku dan mas Angga tak berhenti melepas senyum di bibir. Sungguh ini sangat membuat hati ini lega karna hubungan aku dan mas Angga sudah pasti.


Kami makan dengan suka cita, karna acara pertemuan dua keluarga ini berjalan dengan sempurna.


Usai makan, kami beristirahat sejenak sebelum kembali pulang menempuh perjalanan yang cukup melelahkan kan.


Di jam tiga sore kami berpamitan untuk pulang.


"Karna sudah sore, kami mohon pamit dulu yah Pak, Buk," ucap mama ku berpamitan.


"Baik lah, Buk. Hati-hati di jalan dan tolong jaga anak saya selama di sana."


"Pasti itu Buk, nak Angga sudah kami anggap seperti anak sendiri kok."

__ADS_1


Kami pun beranjak keluar menuju mobil setelah bersalaman, mas Angga melajukan mobil nya meninggal kan halaman rumah tersebut.


Selama perjalanan pulang, semua sibuk dengan percakapan tentang rencana kedepan nya. Berbeda dengan ku yang saat itu terasa sangat bahagia, senyum selalu terukir di bibir ku, ingin rasanya hari itu cepat-cepat datang, biar kami tak lagi berjauhan.


Tak terasa, jam delapan malam kami sampai di rumah dengan wajah- wajah yang lelah karna sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Mas Angga pun langsung pamit pulang, karna mobil yang di pakai nya saat ini adalah mobil bos nya. Alhamdulillah selama bekerja di mana pun, mas Angga selalu di berikan kepercayaan oleh bos nya. Karna memang mas Angga orang nya sangat asyik untuk di ajak bicara, sangat mudah untuk bergaul.


******


Waktu begitu cepat berlalu, tinggal satu bulan lagi hari pernikahan kami. Aku pun sudah berhenti dari pekerjaan Ku, begitupun mas Angga karna ada kendala di tempat kerjanya hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti.


Aku tidak bisa memaksakan kehendak agar mas Angga tetap bertahan bekerja di sana. Aku ngak mau di bilang egois, sedang kan mas Angga sendiri sudah sangat tertekan bekerja disana, akhirnya Aku hanya bisa menyemangati dia untuk mencari pekerjaan lain.


Sebenar nya di saat itu Aku sedikit khawatir, karna sebentar lagi kami akan menikah. Sedangkan mas Angga tidak punya pekerjaan, nanti setelah menikah mau makan apa?, tidak mungkin kan bergantung dengan orang tua Ku.


Oh tidak!! Aku harus bagaimana sekarang? bagaimana caranya agar mas Angga tidak tersinggung dengan ucapan Ku.


Memang kami sebelum menikah punya impian, kalau sudah menikah tidak mau tinggal satu atap dengan orang tua Ku, maupun dengan orang tua nya. Karna aku paham betul bagaimana hidup satu atap dengan orang tua atau mertua.


Tapi sekarang kondisi keuangan kami tidak memungkinkan untuk bisa tinggal sendiri walau hanya untuk mengontrak.


Mas Angga pun tidak berhenti berusaha, dia masih tetap menghubungi teman lamanya yang dulu satu team dengan nya di Batam. Tapi mungkin karna belum rezeki nya mas Angga belum bisa bergabung dengan nya.


Tak apa, Aku masih terus memberi semangat untuk mas Angga. Supaya mas Angga tidak putus asa untuk mendapat kan pekerjaan, karna ini semua juga demi masa depan kami nantinya.


Tidak mungkin kan, setelah menikah Aku masih merepot kan orang tua Ku. Karna pada intinya tanggung jawab orang tua Ku sudah tidak ada lagi, karna sudah di limpah kan kepada suami Ku kelak, yaitu mas Angga.

__ADS_1


__ADS_2