
Hari yang Ku tunggu akhirnya datang juga. Dimana saat ini Aku sudah berada di rumah dinas tempat Mas Angga bekerja.
Aku begitu antusias membenahi rumah ini, karna sudah begitu lama kosong dan tidak di bersihkan.
Mulai dari menyapu, mengepel, mencabut rumput halaman yang sudah menutupi seluruh permukaan tanah.
Alif tak aku bawa, karna takut menghambat pekerjaan Ku membersih kan rumah ini.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga yah, Mas."
"Iya sayang, walaupun capek tapi ngak apa-apa, yang penting sekarang kita sudah di kasih tempat tinggal gratis."
Yap, rumah ini dinas ini di kasih pinjam untuk di huni, tinggal kita merapikan dan menjaganya saja tanpa harus meikir kan biaya nya perbulan ataupun listrik nya. Karna sudah di tanggung oleh pihak kantor.
Tentu ini sangat dan sangat membuat Aku dan Mas Angga bersyukur sekali. Karna Allah menolong di saat yang sangat tepat dikala kami lagi kesusahan memikir kan biaya tiap bulan nya dan koperasi yang harus gali lobang tutup lobang.
"Iya Mas, mudah-mudahan untuk kedepan nya kehidupan kita bisa membaik yah, Mas."
"Iya sayang, Aku juga berharap begitu. Nanti hutang koperasi biar kita bayar cicil aja kalau ada uang lebih saat gajian."
"Iya, Mas. Oh ya nanti Alif jangan lupa di jemput yah, tadi adik kamu nelpon katanya Alif rewel dari semalam, minta di antar kesini." ucap Ku. Yah Alif sangat dekat dengan Ku karna keseharian nya cuma bersama Ku saja, jadi sedikit rewel kalau Aku tidak ada di dekat nya.
"Iya, kalau begitu Aku langsung jemput dia saja yah, takut nya kalau sore hujan." ucap Mas Angga bangkit dari duduk nya, dan bergegas pergi.
"Mas, hati-hati yah." teriak Ku, yang di jawab dengan anggukan oleh Mas Angga.
Selepas Mas Angga pergi, Aku kembali merapi kan rumah yang di rasa belum pas di posisinya.
***********
"Mama..." teriak Alif saat sampai di rumah, dan berhambur kedalam pelukan Ku.
"Eh, anak mama sudah datang yah." Aku langsung membalas pelukan nya. Sehari tak bertemu rasanya sungguh sangat rindu sekali.
Walaupun Alif terbilang cukup aktif, suka bikin tensi naik dengan kebandelan nya, tapi tetap kalau dia jauh rasanya ada yang kurang. Begitulah orang tua, sebandel dan senakal apapun anak nya pasti rasa sayang nya tak akan pudar.
"Ini lumah siapa Mah?" tanya Alif sambil melihat-lihat keseliling nya.
"Ini rumah punya teman nya Papa, untuk sementara kita tinggal disini, yah. Apa Alif suka?"
"Iya, Aku suka, Mah." jawab Alif. Di usianya yang sudah menginjak dua setengah tahun, terbilang cukup aktif, begitu cerewet walaupun ada beberapa huruf yang belum jelas di ucap kan nya.
__ADS_1
"Baik lah, ini sudah sore kita mandi yuk."
"Holee, ada kolam belenang nya kan, Mah" jawab nya antusias kalau sudah mendengar kata mandi dan air.
"Ada, tapi ngak boleh lama-lama yah, soal nya air di sini dingin."
"Iya, mama" jawab nya sambil membuka seluruh bajunya.
Aku biar kan Alif mandi, Aku kembali kedepan menemui Mas Angga.
Aku buat kan secangkir kopi untuk Mas Angga.
Tak lama Aku menemui Mas Angga dengan secangkir kopi hitam yang ku buat kan tadi.
"Ini Mas, kopinya."
"Makasih yah sayang, Alif nya mana?"
"Lagi mandi Mas. Oh ya itu kapan sumur nya di perbaiki Mas, susah kalau air nya harus ngambil kebelakang dulu"
"Sabar yah sayang, kita cari uang nya dulu. Soal nya mesin dap nya rusak, jadi harus beli yang baru."
"Untuk hari ini kita beli nasi bungkus aja dulu, besok baru kamu kepasar beli bahan-bahan untuk memasak" jawab Mas Angga
"Kebetulan Aku tadi dapat uang jalan dari kantor, jadi bisa untuk pegangan kita untuk beberapa hari kedepan" Sambung Mas Angga lagi.
"Alhamdulillah kalau begitu Mas, ya sudah aku tinggal dulu yah, mau lihat Alif dulu. Takutnya nanti masuk angin kalau lama-lama." ucap Ku beranjak meninggal kan Mas Angga yang masih sibuk dengan HP nya.
"Ayo Alif, ini sudah lumayan lama kamu berenang nya, nanti masuk angin lagi." Ucap Ku saat sudah sampai di kamar mandi, Ku lihat Alif masih asyik dengan air yang ada di dalam baskom besar itu.
Tanpa banyak bicara, Alif langsung nurut keluar dari baskom tersebut.
Aku langsung menyabuni seluruh tubuh nya dan menyiram nya dengan air yang bersih dan yang pastinya dingin.
Tak lama, Aku selesai memakai kan baju nya.
"Sudah beres, Alif nonton saja dulu yah, Nak."
"Aku lapal, Mah" rengek Alif sembari memegang perut nya.
"Iya, Alif nonton saja dulu yah, bentar lagi papa mau keluar beli nasi bungkus untuk makan kita, oke." Aku berusaha memberikan pengertian kepada nya, agar dia bisa bersabar.
__ADS_1
Ku hidup kan TV dan menyetel film kesukaan nya, apalagi kalau bukan si kembar botak.
Aku pun berlalu meninggal kan nya dan kembali menemui Mas Angga.
"Mas, Alif sudah lapar katanya habis mandi."
"Mas!" teriak Ku saat ucapan Ku yang pertama tidak di hiraukan nya.
"Apa..??"
"Astaga!! Mas. Aku ngomong ngak di harau kan, itu Alif habis mandi lapar." jawab Ku kesal dengan tingkah Mas Angga yang akhir-akhir ini lebih memprioritaskan HP nya.
"Iya tunggu sebentar, nanggung nih." jawab Mas Angga dengan enteng nya, tanpa menghiraukan bagaimana lapar nya Alif saat ini.
"Mas, ayo lah tinggal kan itu sebentar, Alif sudah lapar loh, kalau kita dewasa ini masih bisa menahan lapar, tapi tidak dengan anak-anak, Mas."
"Iya, sebentar lagi kok" jawab nya kekeh tidak mau menyudahi game online nya itu. Aku bangkit tidak mau berdebat lagi.
Ku tinggal kan Mas Angga yang masih setia dengan HP nya, tanpa peduli sedikit pun dengan perasaan Ku dan juga Alif.
Ku pakai kan jaket untuk Alif.
"Kita mau kemana, Mah?"
"Jalan-jalan, Alif mau?"
"Mau.. Mau! tapi Aku lapal, Mah"
"Iya, nanti kita makan, oke." ucap Ku mencoba meyakin kan Alif agar mau ikut pergi, walaupun sebenar nya Aku tidak tau harus membeli makanan nanti dengan apa, karna tidak ada sepersen pun uang di tangan.
"Oke, Mama" jawab Alif manut
********
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE YAH MAN TEMAN SEMUA NYA 😊🙏
DAN MOHON JUGA KRISAN NYA YANG MEMBANGUN 🙏
SEMOGA SELALU SUKA DENGAN JALAN CERITANYA, IN SHAA ALLAH DALAM WAKTU DEKAT INI SAYA AKAN SEGERA MENAMATKAN CERITA INI.
HAPPY READING 😊🤗😘
__ADS_1