
Sekitar jam satu siang Aku sudah di perbolehkan pulang oleh bu bidan nya.
Dengan berboncengan bersama Mas angga, sedangkan Alif dan adik nya mama mertua Ku yang membawa pulang kerumah dengan berjalan kaki, karna memang jarak nya dekat dengan rumah mama mertua Ku, seperti lagu tempo dulu yang sering Aku dengar sewaktu masih SD 'Pacar lima langkah' yang sering Aku request lewat radio.
Sampai di rumah Aku langsung membersihkan tubuh ku, karna sudah lengket karna berkeringat saat proses persalinan tadi.
"Mas, Aku mau mandi dulu yah, gerah."
"Iya, kamu hati-hati yah sayang."
"Iya, nanti kalau mama sudah sampai, jangan lupa jagain si dede nya." pesan Ku sebelum masuk ke kamar mandi yang di angguki oleh Mas Angga.
Yah, entah kenapa habis melahirkan dede nya badan Aku terasa ringan, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelum nya. Mungkin karna pas melahirkan kali ini tidak begitu lama menanggung sakit nya hanya dua belas jam, dan Alhamdulillah tidak mendapat kan jahitan juga, jadi enteng kalau di bawa berjalan.
Berbeda sewaktu melahirkan Alif dulu nya, mungkin karna anak pertama kali ya, jadi belum ada pengalaman. menahan kontraksi nya itu dari jam sembilan malam sampai ke jam sembilan malam nya lagi. Bayangkan dua puluh empat jam menahan rasa sakit nya, dan habis lahiran pun dapat satu jahitan, itu pun tanpa biusan sama sekali. Kebayang bukan bagaimana rasanya. Oh astaga!! tidak bisa di ungkap kan.
Makanya sewaktu melahirkan Alif, kalau jalan harus hati-hati dan pelan, duduk harus pelan,pakai gurita selama tiga bulan, yang paling parah nya lagi mau 'BAB' saja harus Aku tahan, saking takut nya jahitan terlepas. Begitulah perjuangan orang tua.
Tak lama Aku selesai dengan ritual mandinya, tidak boleh lama-lama, pamali kata orang-orang tua.
Mata Ku jangan di tanya saat ini, sangat mengantuk sekali. Karna dari pertama ngrasa kontraksi Aku sudah ngak bisa tidur, dan langsung kerja sampai sahur.
Pengen istirahat sejenak, tapi tidak bisa karna Aisyah semenjak sampai di rumah rewel terus.
Yah, Aku sudah sepakat dengan Mas Angga untuk memberi nama putri kami 'Aisyah Cahaya Ramadhanty'. Dan nama itu juga sudah tersimpan rapi dari semenjak Aku hamil anak pertama. Karna dari anak pertama dan kedua ini Aku tidak pernah tes USG sama sekali, jadi ngak tau dengan jenis kelamin nya. Akhirnya kami harus mempersiapkan dua nama sekaligus untuk laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
Karna anak pertama laki-laki, akhirnya Aku simpan lagi nama untuk anak perempuan nya. Dan Alhamdulillah Allah Maha adil, memberikan kami anak perempuan saat ini.
**********
Aku bingung harus minta tolong sama siapa, Aku lihat orang-orang pada sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.
Mama mertua Ku sibuk di dapur memasak untuk nutrisi ibu menyusui, sedang kan Mas Angga jangan di tanya, sibuk main game.
Entah sejak kapan ada lagi aplikasi game online tersebut di gadjed nya. yang membuat nya kembali lengah dan lupa waktu bahkan sampai lupa dengan keadaan Ku yang saat ini habis melahirkan.
Mengantuk...!!!
Itu lah satu kata yang keluar dari mulut Ku, tapi bagaimana cara nya, tidak mungkin juga Aisyah Aku biar kan menangis begitu saja. Namanya juga orang tua tidak akan sanggup membiarkan anak nya menangis apalagi ini masih bayi.
Aisyah menangis rewel mungkin karna haus, tapi sudah di kasih susu formula, tetap juga nangis.
Mau nya di gendong terus, kalau di taruh di atas kasur pasti nangis lagi.
Entah lah, pengen Ku teriaki Mas Angga saat ini kalau bukan menghargai orang di atas rumah ini. Kesal rasanya, sudah tau istri habis lahiran dan kerepotan karna Aisyah rewel. Tapi dia nya malah acuh tak acuh, tak menghiraukan sama sekali.
Aku tahan emosi ini, ingin rasanya segera pulang kerumah dinas, agar Aku bebas mau ngapain aja.
Malam pun datang menghampiri, Aisyah pun masih sama tidak mau di taruh di atas kasur, mau nya di gendong terus.
Sekitar jam satu malam, entah kenapa Aisyah tiba-tiba nangis kejer tanpa diam. Ku bangun kan Mas Angga yang saat ini tertidur pulas di samping Ku. Astagaaaa..!! pengen nimpuk pakai batu rasanya.
__ADS_1
"Mas, bangun..!!"
"Mas, ayo lah. Aisyah haus mungkin, tolong buatin air panas dong." ucap Ku lagi sambil menggoyang-goyang tubuh Mas Angga.
"Apa sih sayang." ujar Mas Angga sedikit kesal di bangun kan
"Astaga Mas, makanya jangan main HP sampai larut begitu, kalau tidak butuh juga Aku ngak akan bangunin kamu kok."
"Iya ada apa, hum?"
"Tolong bikinin susu untuk Aisyah, dari tadi nangis ngak berhenti-henti, mungkin dia haus."
Mas Angga bangkin, dan langsung kedapur masak air panas, di sini tidak ada termos air panas. jadi kalau butuh air panas di masak terlebih dahulu.
"Ini sayang, Aku ngak tau ini apa sudah pas, dan apa ngak panas lagi." ucap Mas Angga menyerah kan gelas yang berisi susu formula untuk Aisyah.
"Udah pas ini, Mas." jawab Ku mentes nya dengan bibir. dan langsung memberikan nya kepada Aisyah.
Tak lama baru dia berhenti nangis, heran saja dengan orang yang ada di atas rumah ini, karna tidak ada satupun membantu Ku untuk menjaga Aisyah walau sebentar saja. Padahal mata Ku ini sebenar nya sudah sangat-sangat mengantuk sekali.
Ku ayun-ayun kan Aisyah dalam gendongan Ku, tak lama Ayis nya tertidur, Aku mencoba bersandar ke dinding dan mencoba tidur. Tapi nihil..!!
Hingga pagi menjelang, tak sekali pun mata Ku terpejam untuk istirahat walau sejenak saja, karna ada saja kendalanya.
Dan di pagi ini baru Ayis bisa di taruh di atas kasur, Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri tak lupa pakaian kotor Ayis habis pipis dan PUP nya Aku cuci sekalian, sebenar ini tanggung jawab seorang suami, sampai anak berusia empat puluh hari.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Mas Angga, mana mau dia mengerjakan hal seperti ini, karna baginya tugas seprti ini hanya di kerjakan oleh seorang istri.
Dari anak pertama selalu seperti itu, tidak pernah mau membantu dalam hal seperti ini, ganti popok anak nya saja tidak pernah. Kalau anak nya pipis atau PUP pasti selalu teriak manggil Aku untuk menggantikan nya.