Sakitnya Di Khianati

Sakitnya Di Khianati
Emosi tingkat dewa


__ADS_3

Hari-hari Ku lalui dengan begitu berat, karna semua pekerjaan rumah ini hanya Aku yang mengerjakan nya sendiri.


Kebayang bukan, tujuh hari habis melahirkan tapi semua pekerjaan rumah Aku yang kerjakan semua, tidak ada bantuan sedikit pun dari Mas Angga.


Aku sendiri sebenar nya tidak keberatan, karna memang Aku bukan orang yang suka bergantung sama orang lain.


Tapi ini lain hal, bukan kah dia itu suami Ku, kepala rumah tangga. Seharusnya dia membantu pekerjaan rumah ini tanpa harus di minta terlebih dahulu, apalagi saat sekarang ini posisi ku habis melahirkan.


Orang tua Ku saat nelpon, pasti selalu mengingat kan untuk tidak banyak gerak, untuk tidak mengerjakan pekerjaan berat dulu takut nya nanti pendarahan.


flashback


"Ara, kamu itu kan habis lahiran, jadi jangan banyak gerak dulu, jangan mengerjakan pekerjaan berat nanti bisa pendarahan." ucap Mama ku saat lagi menelpon


"Iya, Mah. Semua pekerjaan Mas Angga yang kerjakan kok." bohong Ku demi menjaga image suami Ku.


"Bagus lah kalau begitu, tunggu sampai nanti anak mu berusia empat puluh hari,habis masa nifas baru boleh gerak."


"Iya, Mama ngak usah khawatir pasti semua yang mama kata kan Aku kerjakan kok."


"Ya sudah kalau begitu, jaga kesehatan kamu. Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


TUT TUT


Sambungan telepon pun terputus.


Flashback berakhir


Begitulah Aku demi menjaga nama baik suami di mata keluarga Ku, rela berbohong.


Tapi orang yang Aku selalu sanjung di hadapan orang tua Ku, tak pernah sekali pun mau mengerti ingin Ku.


Beberapa bulan belakangan ini Aku sudah sangat sangat bersyukur atas perubahan nya yang mengarah ke hal yang positif, tapi sekarang apa!! malah makin menjadi seperti dulu lagi.


Aku hanya bisa pasrah, hanya bisa memendam kekesalan di hati tanpa bisa mencurah kan kepada orang lain, mau di curah kan kepada siapa?? ingin sekali memang, punya teman untuk berbagi cerita agar tidak menjadi beban. Tapi siapa??


Mama mertua Ku?? ah sangat tidak mungkin!! karna sudah sekian tahun Aku bergaul, Aku sudah paham bagaimana karakter dan sifat keluarga Mas Angga.


Dia tidak akan memberi solusi atas masalah Ku, malah akan menambah sedih hati Ku, karna dimata nya anak nya itu tidak akan ada salah nya, karna terbukti dari beberapa kali Aku mengadu perihal Mas Angga, tapi tanggapan nya hanya pembelaan untuk anak nya.


Ah sudah lah, berkali-kali Aku mencoba berdamai dengan keadaan yang Aku hadapi dan jalani saat ini.


Mencoba menerima semua nya, mencoba untuk tidak berpikiran yang negatif.

__ADS_1


*******


Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan begitu pula bulan berganti tahun.


Tak terasa sekarang Ayis sudah berusia satu setengah tahun, sudah bisa berjalan.


Namun, perubahan yang Ku ingin kan terjadi pada Mas Angga tidak juga kunjung ada tandanya. dia masih sibuk dengan game 'ML'. Dan yang membuat Aku tambah kesal yaitu hobby barunya yang menurut Aku sangat beresiko.


Mancing!!


Yah, hobby selingan nya yaitu mancing, entah lah Aku heran ada saja hobby yang menurut Aku akan merugikan.


bagaimana tidak, mancing tidak kenal waktu dan tempat, di jam kantor pun masih sibuk dengan urusan mancing, sudah Ku peringati.


"Mas, bisa ngak sih cari hobby itu yang tidak akan merugikan kamu, game online juga merugikan kamu di tambah sekarang mancing, apalagi kamu mancing sering di jam kantor, nanti atasan kamu marah dan mecat kamu bagaimana? cari kerja sekarang susah, apalagi kamu hanya punya ijazah Smp."


"Kamu tenang saja sayang, ngak akan jadi masalah kok, ngak usah kamu pikir kan."


"Terserah kamu lah Mas, yang penting Aku sudah mengingat kan kamu."


Lagi-lagi tak ada jawaban karna fokus nya sudah ke layar HP yang di genggam nya.


Ingin rasanya merebut HP tersebut dan membanting nya ke lantai, agar dia tidak bisa main game lagi.


Karna tak ada respon dari nya Aku beranjak ke kamar dan ikut merebah kan tubuh Ku di samping Alif dan Ayis yang sedang tidur siang.


*******


Beberapa minggu kemudian, semua karyawan tempat Mas Angga bekerja di kumpul kan, di adakan rapat dadakan.


Dan itu rapat mengenai pekerjaan, yang selama ini Aku takut kan, teguran mengenai memancing di saat jam kerja.


"Bagaimana hasil rapat tadi?" tanya Ku kepada Mas Angga yang baru pulang dari kantor.


"Mengenai kami yang suka mancing di jam kerja, dan tadi sudah di kasih surat SP 1."


"Tuh kan, makanya kalau Aku ngomong itu di dengar, kan kejadian juga. untung masih di kasih SP 1,kalau masih langsung di pecat bagaimana."


"Ngak mungkin lah, bukan wewenang nya juga memecat karyawan."


"Ah sudah lah, capek kalau ngomong sama kamu, Mas."


"Nanti malam Aku mau pergi mancing sama teman Ku."


"Jam berapa?"

__ADS_1


"Berangkat jam delapan malam."


"Oh, terserah." jawab Ku singkat karna sudah kesal, sangat dan sangat kesal.


Aku langsung meninggal kan Mas Angga yang sibuk dengan HP nya.


Tetap dalam hati doa Ku seperti sebelumnya, karna selain teman-teman nya sekarang HP nya juga menjadi sasaran kecemburuan Ku.


Bagaimana tidak!! pagi sampai pagi lagi hanya HP saja yang di prioritas kan nya, makan tetap hp tidak tinggal, mau ke 'WC' pun hp tetap di bawa.


Sudah tidak ada lagi waktu untuk Ku dan juga anak-anak.


Walaupun itu hanya untuk berbagi cerita, atau anak ku yang ingin mengajak nya bermain, tetap tak pernah meluangkan waktu untuk kami.


Kadang pengen menyerah dengan semua ini, tapi Aku mencoba lagi untuk berdamai dengan hati Ku.


******


"Sayang, Aku berangkat dulu yah."


"Hm." jawab Ku singkat pertanda Aku tidak suka, tapi dasar dianya yang tidak peka.


"Jangan lupa pintunya di kunci, mungkin Aku pulang nya sedikit larut."


"Oh, sekalian saja bawa selimut dan bantal, ngak usah aja pulang, di sana saja tidurnya. Aku ngak keberatan kok."


"Kamu kenapa sih sayang?"


"Masih nanya kamu, Aku kenapa Mas?"


"Ah sudah lah, memang kamu itu tidak bisa mengerti yang Aku mau dan Aku rasakan."


"Kadang Aku heran sama kamu sayang, Aku nongkrong sama teman-teman Ku ngak boleh, Aku mau main futsal pun tidak boleh, lah sekarang mancing pun ngak boleh."


Wah..!! wah..!!


Mencari perlawanan rupanya dia.


"Eh Mas, Aku ngak pernah yah nglarang kamu buat ngumpul sama temen-temen kamu, asal kan teman-teman kamu itu membawa pengaruh baik untuk kamu, tidak yang menjerumuskan kamu ke jalan yang akan membuat kamu rugi bahkan Aku dan juga anak-anak kita, bahkan pernah kan Aku nyuruh teman-teman kamu untuk ngumpul di rumah kita saja, biar Aku capek nyiapin kopi atau camilan untuk nya ngak apa, asal nampak sama mata kepala ku, bukan yang membawa kamu nongkrong dan bawa 'Tuak' untuk pesta dan pulang nya teler. Bukan itu yang Aku mau."


"Dan Masalah mancing, iya Aku melarang karna kamu mancing tidak pada tempatnya, akhirnya Apa haa, kejadian juga kan kamu di kasih SP1 dari kantor. Sebenar nya Aku ngak ngelarang kamu silahkan kan pergi mancing, tapi jangan di jam kerja, jangan malam hari juga."


"Dan masalah main futsal, Aku juga ngak pernah ngelarang, bahkan ada chat di grup WA kamu untuk ngajak main futsal, kamu sendiri yang ngak mau pergi walaupun Aku sudah nyuruh, karna tidak enak sama teman-teman kantor kamu. Tapi apa kamu jawab saat itu males karna ingin main game online kamu itu, bukan?"


"Kalau memang selama ini apa yang Aku larang itu menjadi beban untuk kamu, ngak usah di kerjakan. silahkan laku kan semau kamu. Kamu mau apa silahkan. Aku capek!" ucap Ku dengan emosi yang sudah tidak terbendung lagi, Aku masuk ke kamar meninggal kan nya yang masih mematung di pintu.

__ADS_1


__ADS_2