Sakitnya Di Khianati

Sakitnya Di Khianati
Seperti Buronan


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan.


Setiap hari yang Ku jalani beberapa bulan belakangan ini membuat Aku tertekan.


Hutang koperasi yang Ku pinjam di beberapa tempat sudah gagal bayar. Yang membuat Aku terasa di teror setiap hari nya.


Karna penghasilan Mas Angga tidak sebesar gaji pegawai kantoran lain nya, sehingga tidak mencukupi semua kebutuhan sehari-hari.


Rumah yang Ku huni pun sudah jatuh tempo untuk yang ke tiga bulan nya. Yang membuat Aku terancam di usir.


Sungguh!! Ini sangat berat ku lalui.


"Mas, bagaimana nasib kita kedepan nya yah?" tanya Ku saat kami lagi nonton.


"Aku juga ngak tau sayang, ini sebenar nya yang Aku takut kan untuk ngontrak. Karna keuangan kita masih belum mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari." jawab Mas Angga putus asa.


"Maaf kan Aku, Mas. Ini semua salah Ku yang selalu memaksa untuk kita mengontrak." ucap Ku sembari menunduk.


"Husst!! jangan menyalah kan diri kamu sendiri sayang, ini juga salah Ku karna belum bisa membahagia kan kamu dan juga anak kita." jawab Mas Angga mencoba memberi semangat untuk Ku.


"Tapi kan Mas, kalau bukan Aku yang memaksa kamu untuk mengontrak. Semua nya nya ngak bakalan seperti ini jadinya."


"Sudah, untuk sekarang tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Aku akan berusaha mencari kontrakan yang lebih murah lagi untuk kita tempati."


"Cari dimana Mas? Kalau di luar itu sangat tidak mungkin, karna di luar akan jauh lebih mahal dari disini."


"Aku akan coba cari di Block E sayang, katanya kemaren ada yang mau menyewakan rumah nya, karna orang nya mau pindah."


"Baik lah Mas, mudah-mudahan ada." jawab Ku tak semangat.


"Mas, mau makan?"


"Nanti saja lah sayang, Aku belum lapar." jawab Mas Angga mata nya fokus ke TV yang lagi menayang kan siaran kesukaan nya yaitu 'MotoGP'


***********


"Mas, bangun sudah pagi ini."

__ADS_1


"Hmm," jawab Mas Angga dengan mata yang masih terpejam.


"Iih!! Mas ini kebiasaan deh, ayo bangun!! sudah hampir jam tujuh loh." teriak Ku sambil menyibak kan kain selimut yang membungkus tubuh Mas Angga.


Mas Angga meregang kan otot nya dan mengerjab kan matanya beberapa kali. Sebelum bangkit dari ranjang.


"Mas ini kebiasaan deh, kalau pagi itu susah kali untuk di bangun kan nya. Ingat loh Mas, cari kerja itu susah apalagi kamu itu cuma punya ijazah SMP. Jadi harus di syukuri itu jangan malas-malasan." ujar Ku panjang lebar saat Mas Angga sudah bangun dan menyambar handuk.


Mas Angga tanpa menjawab perkataan Ku langsung kekamar mandi. Seperti itu lah dia tidak mau merespon setiap kali Aku sudah mengomel.


Tak lama Mas Angga sudah rapi dengan baju yang Aku siap kan.


"Aku berangkat yah."


"Iya, ini kopi nya ngak di minum."


Tanpa banyak bicara Mas Angga langsung menyesap kopi yang sudah mulai dingin itu.


"Aku berangkat, jaga anak kita baik-baik" ucap Mas Angga sebelum melangkah keluar. Yap Mas Angga berkata seperti itu karna Alif pernah terjatuh di kamar mandi, yang membuat keningnya terluka dan mendapat kan satu jahitan.


"Iya Mas, kamu hati-hati yah." jawab Ku yang di jawab dengan anggukan oleh Mas Angga."


Pagi menjelang sore ini sangat menakut kan untuk Ku, karna anggota koperasi pasti akan berdatangan untuk mengutip angsuran nya.


Aku bergegas menutup semua pintu rumah, menutup horden nya.


Sungguh!! ini sudah seperti buronan.


**********


"Assalamu'alaikum." teriak Mas Angga yang baru saja pulang dari kantor nya bekerja.


"Walaikumsalam." jawab Ku membukakan pintu dan mencium tangan nya.


Mas Angga melangkah masuk dengan raut wajah yang bahagia.


"Sayang, Alhamdulillah kita dapat rumah dinas dari kantor, rumah yang dahulu pernah di tempati oleh Kak Yenita dan mas Bram."

__ADS_1


"Loh kok bisa sayang, bukan nya yang tinggal di kompleks itu hanya PNS?"


"Iya, semua nya juga mas Bram yang bantu, tadi Aku sempat cerita soal permasalahan yang kita hadapi kepadanya."


"Emm gitu, terus kapan kita bisa pindah nya?"


"Besok. Sekalian nanti mindahin barang-barang nya mas Bram yang masih tertinggal disana."


"Baik lah, Mas. Kalau begitu besok Aku kan beres kan barang-barang kita."


"Mas, mau makan atau mandi dulu."


"Mandi dulu lah sayang, gerah banget soal nya." jawab Mas Angga sembari berjalan menuju kamar mandi dengan handuk yang sudah melilit di leher nya.


Aku sedikit merasa bahagia saat ini, karna akan segera pergi dari zona yang membuat Aku terasa di teror setiap hari nya.


Dimana keluarga Mas Angga tidak peduli sedikit pun dengan keadaan yang kami alami saat ini, terutama mama mertua Ku yang acuh tak acuh.


Padahal rumah kami hanya di pisah kan oleh jalanan saja, berhadap-hadapan tapi tidak pernah sekali pun mama mertua Ku menanyakan anak cucu nya apakah sudah makan atau belum.


Bahkan pernah mama mertua Ku memasak ikan bakar di depan rumah nya. Di saat itu dia juga tau kami lagi kesusahan dalam keuangan bahkan untuk makan. Tapi tak ada sedikit pun basa basi untuk menawar kan nya kepada kami.


Dari sana Aku bisa menilai, ternyata memang kasih sayang orang tua kandung kita tak kan terhingga sepanjang masa, selalu mengusahakan apa yang kita butuh kan, walaupun Aku sudah berkeluarga sekali pun tetap menomor satu kan kami anak-anak nya.


Bahkan menantu sekalipun, sama di mata kedua orang tua Ku tak ada bedanya, bahkan lebih menghargai menantu nya dari pada kami anak nya.


Beda dengan mama mertua Ku ini, suka membeda-bedakan antara anak dan menantu. Lebih berat kasih sayang nya kepada anak-anak nya.


Dan terutama lebih berat ke yang punya uang.


*********


MOHON MAAF ATAS KETIDAK NYAMANAN NYA SATU MINGGU INI 🙏


KARENA SIBUK MENYAMBUT HARI RAYA IDUL FITRI TIDAK SEMPAT MENULIS WALAUPUN SATU BAB BARU, SAKING SIBUK NYA 😔🙏


TAPI HARI INI IN SHAA ALLAH AKAN DOUBLE UP, DEMI MENGOBATI RASA RINDU DENGAN KELANJUTAN CERITA ' SAKITNYA DI KHIANATI' INI 😊😇🤗

__ADS_1


SEMOGA MASIH SETIA YAH MAN TEMAN SEMUANYA 😊😘


HAPPY READING


__ADS_2