
Semakin hari tinggal di rumah ini, semakin terasa menyesakan dada Ku.
Kali ini sungguh tidak bisa Ku tahan lagi, hampir setiap hari perselisihan terjadi antara Aku dan kakak ipar Ku.
Aku tau dia orang kaya, ber-ada, suami nya seorang PNS. tapi tidak seharus nya juga merendah kan Ku istri dari adik nya sendiri.
"Mas, kapan kita ngontrak??" tanya Ku saat kami lagi nonton di kamar. hari ini kami tidak membuka Cafe karna cuaca tidak mendukung
"Kenpa tiba-tiba kamu bahas mengontrak lagi sayang. ada apa,Hum??"
"Aku sudah bener-bener ngak tahan tinggal disini Mas, Aku capek dengan semua ini. Sudah lah pekerjaan rumah Aku yang mengerjakan semua nya sendiri tanpa di bantu oleh adik dan kakak kamu." ucap Ku
"Sebenar nya bagi Ku ngak masalah mengerjakan pekerjaan rumah ini sendiri asal kan tinggal nya hanya dengan orang tua kamu saja, pasti ngak akan Aku biar kan mama bekerja sedikit pun. Tapi ini beda Mas!! disini ada kakak kamu yang juga sudah punya keluarga, seharus nya dia juga ikut membantu dalam pekerjaan rumah ini, bukan hanya mengandal kan Aku saja. Aku menantu di rumah ini Mas, tapi sudah seperti 'Pembantu' " sambung Ku lagi
"Jadi mau kamu bagaimana sayang??"
"Mau aku, ya kita ngontrak saja, Mas."
"Aku juga mau, tapi bagaimana dengan biaya nya nanti."
"Entah lah, Mas. Aku juga ngak tau masalah itu. Tapi jujur Aku bener-bener udah ngak tahan tinggal di sini lagi Mas. Aku mau nya kita keluar dari rumah ini, bagaimana pun cara nya!" jawab Ku.
"Atau bagaimana kalau Aku dan Alif pulang kampung saja dulu, untuk sementara tinggal di rumah orang tua Ku. sampai kita punya uang untuk ngontrak rumah." sambung Ku lagi, yang membuat Mas Angga terlihat sedih.
"Jangan lah sayang, masak iya kamu mau tinggal kan Aku disini sendiri. Nanti siapa yang menyiapkan keperluan kerja Ku, nyiapin makan dan kopi."
"Ya terus bagaimana Mas?? Aku ngak mau terus-terusan seperti ini, makan hati setiap hari ulah sifat kakak kamu."
"Kamu tolong bersabar lah sedikit lagi, mudah-mudahan nanti ada jalan dan rezki nya."
"Tapi kapan, Mas."
"Iya nanti Ku usaha kan yah cari uang nya."
"Baik lah. Kalau tidak juga ada, maaf Mas terpaksa Aku harus pulang kampung untuk sementara waktu. " jawab Ku
Tidak ingin egois seperti ini, tapi bagaimana lagi. Aku tidak mau setiap hari makan hati, tertekan perasaan!!
__ADS_1
*****
Siang nya saat lagi bantu mama mertua Ku di warung nya. Ada sales koperasi harian yang menawar kan pinjaman modal usaha.
Tanpa pikir panjang Aku langsung pinjam sebesar satu juta rupiah. Karna keinginan Aku keluar dari rumah ini sudah sangat menggebu-gebu.
Sebenar nya Aku takut akan dosa riba yang di timbul kan, tapi dorongan akan kebutuhan yang membuat Aku melupakan itu untuk sesaat.
Mama mertua Ku heran untuk apa uang sebanyak itu, karna memang mama mertua Ku belum Aku beritahu soalan keluar dari rumah ini.
"Untuk apa uang sebanyak itu, Ra??"
"Begini Mah, Aku dan Mas angga akan ngontrak di depan" jawab Ku, kebetulan di depan rumah mama mertua Ku ada rumah kontrakan.
"Loh, kok mendadak begini!!" ucap mama mertua Ku sedikit terkejut.
"Ngak mendadak kok, Mah. sudah kami bicarakan dari jauh-jauh hari. cuma belum sempat aja ngomong sama Mama"
"Apa sudah kalian pikir kan matang-matang??"
"Sudah Mah, lagian mama sendiri tau kan apa yang membuat Aku ngak betah di rumah ini?" ucap Ku. Yah, Mama mertua Ku tau kalau Aku dan kakak ipar Ku sering berselisih paham setiap hari nya.
"Sudah Mah, tapi tetap Aku dan Mas Angga akan mengontrak, karna mungkin ini lebih baik Mah."
"Ya sudah terserah kalian saja, jika memang keputusan nya seperti itu." pasrah mama mertua Ku.
Setelah menerima uang nya, Aku langsung menemui pemilik rumah kontrakan tersebut, Aku ingin sesegera mungkin untuk keluar dari rumah ini.
Setelah deal dengan harga, dan serah terima kunci rumah. Aku bergegas untuk pulang.
Aku mulai membungkus semua barang-barang milik Ku, dan membersihkan kembali kamar yang selama ini kami tempati itu. Aku sapu bersih dan tak lupa Aku mengepel nya.
Sebelum Mas Angga pulang, Aku sempat kan untuk membersihkan rumah kontrakan yang sebentar lagi akan menjadi hunian kami.
"Loh ini kenapa sayang??" tanya Mas Angga saat pulang kerja melihat barang-barang sudah rapi di dalam tas.
"Hari ini kita pindah Mas."
__ADS_1
"Pindah?? Kemana sayang?"
"Kerumah kontrakan depan, Mas."
"Lah, kan Aku belum dapat uang nya sayang, bagaimana bisa kita pindah sekarang?"
"Tenang aja Mas. Aku sudah punya uang nya kok."
"Sudah punya? uang dari mana?"
"Pinjam koperasi,Mas. Aku pinjam satu juta."
"Ya Allah sayang, kenapa sampai nekat pinjam koperasi sih, nanti kalau tidak kebayar bagaimana."
"Uang nya kan satu juta Mas, rencana nya sisa nya Aku pakai buat jualan kecil-kecil di depan rumah kontrakan nantinya."
"Jualan apa lagi sayang, yang kemaren aja ngak jalan" uacap Mas Angga.
Yah, Cafe kemaren tidak begitu jalan lagi, karna memang posisi nya kurang trategis, jauh dari keramainan atau jalan raya.
Kami tetap buka tiap hari walaupun tidak ada yang beli, tapi setidak nya kami selalu berusaha, masalah hasil nya kita serah kan sama yang di atas.
" Lontong Mas, sama gorengan juga." jawab Ku.
"Besok kalau kita pindah, box container nya kita pindah kan juga kesana, soal nya kan bahan-bahan untuk jualan minuman nya kita masih punya." sambung Ku lagi.
"Ya sudah kalau memang begitu." ucap Mas Angga pasrah.
"Terus, hari ini juga kita pindah nya.
" ucap Mas Angga lagi.
"Iya, Mas. Lebih cepat lebih baik. Rumah kontrakan nya juga sudah Aku sapu dan pel Kok. Tinggal ngangkut barang-barang nya saja lagi."
"Baik lah, kalau gitu Aku cari gerobak dulu ke belakang." jawab Mas Angga dan berlalu pergi menuju gudang yang berada di belang rumah.
Aku pun berangkat menuju rumah kontrakan sambil menggendong Alif. Aku memilih menunggu disana saja, biar yang memindahkan barang-barang nya menjadi tugas Mas Angga.
__ADS_1
Tak lama Mas Angga datang dengan beberapa muatan di atas gerobak yang di dorong nya.
Aku membantu menurun kan nya, dan menyusun nya di dalam rumah. Agar pekerjaan nya cepat selesai dan bisa istirahat.