
Susah senang di tempat baru ini sudah Aku lalui.
Hati sudah sedikit tenang, karna sudah tidak ada terdengar tamu tak di ingin kan datang mengetuk pintu lagi.
Bukan nya lari dari tanggung jawab, tetap yang namanya hutang akan di bayar. Karna sekecil apapun yang namanya hutang pasti akan di tagih sampai akhirat nantinya, dan Aku tidak ingin itu terjadi.
Dan di rumah baru ini juga, Aku dan mas Angga di berikan kepercayaan lagi. yah Aku saat ini lagi hamil anak kedua.
Kehamilan kedua ini memang sudah dari lama kami nanti kan, mengingat Alif sudah cukup besar untuk punya adik.
Usia kehamilan Ku masih muda, baru menginjak usia empat minggu.
Tapi di kehamilan kedua ini Aku merasa sangat dan sangat tersiksa sekali, karna merasakan yang namanya 'Morning Sickness'
Setiap hari bisanya cuma rebahan aja, makan mau nya cuma sama mie yang pedas, karna melihat nasi rasanya ingin muntah, minum harus dengan teh hangat.
Tidak bisa mencium aroma wangi-wangian, yang lebih parah nya lagi bau kulkas yang di buka dan juga bau nasi yang baru matang. Uugh!! sangat-sangat tidak nyaman sekali.
Sungguh nikmat rasanya, berbeda dengan kehamilan Alif dulu yang tidak merasakan apapun.
"Assalamu'alaikum." ucap Mas Angga saat masuk rumah.
"Walaikumsalam." sahut Ku masih rebahan di kasur, karna kalau di bawa duduk pasti kepala Ku akan terasa pusing.
"Holee, papa pulang." teriak Alif sambil berlari berhamburan untuk minta di gendong oleh Mas Angga.
Mas Angga langsung mengendong Alif, dan menemui Ku di kamar.
"Ini sayang, tadi Aku belikan Mie neraka." ucap Mas Angga menyodorkan kantong kresek yang di dalam nya ada satu kotak mie neraka.
"Maaf yah Mas, Aku masih belum bisa mengerjakan tugas Ku sebagai seorang istri." ucap Ku lirih
"Kenapa ngomong seperti itu sih sayang, kamu jangan banyak pikiran, nanti kandungan kamu kenapa-napa lagi. ucap Mas Angga
"Aku ngerti kok keadaan kamu bagaimana saat ini, jadi kamu jangan mikir yang macam-macam lagi yah." sambung Mas Angga lagi sambil duduk di ranjang dan mengelus-elus punggung Ku.
Semenjak kehamilan ini, Mas Angga yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah, kecuali memasak. Karna untuk makan selalu membeli yang sudah jadi saja.
Dan sekarang Mas Angga sudah tidak lagi bermain game online kesukaan nya itu. Dia lebih suka nonton YouTube ceramah 'Ustad Abdul Somad'
__ADS_1
Sholat lima waktu pun tidak pernah tinggal, mengaji pun selalu dia kerjakan habis sholat magrib.
Aku sangat bersyukur untuk itu, sebagai seorang istri Aku hanya ingin punya imam yang bisa membimbing Ku kejalan yang benar menuju 'Jannah' nya Allah, InshaAllah.
"Ya sudah, kalau gitu Aku mandi kan Alif dulu yah." ucap Mas Angga yang Ku jawab dengan anggukan.
Mas Angga keluar sambil menggendong Alif menuju kamar mandi.
Tak lama Alif masuk kekamar dengan stelan yang sudah rapi dan wangi.
"Hhmm, anak mama sudah ganteng dan wangi yah, siapa yang mandikan, hum?"
"Papa yang mandi kan Aku."
"Mama ngak makan?" tanya Alif sambil memegang kotak yang berisikan Mie neraka tadi.
"Nanti, tunggu papa dulu. Biar bisa makan sama-sama."
"Mama masih sakit?" tanya Alif lagi. Yah Alif termasuk anak yang cerewet dan rasa ingin tahu nya sangat tinggi.
"Iya, Nak. Mama masih sakit, tapi ngak apa-apa kok. Sebentar lagi Alif mau punya adik, Alif mau?"
"Mau mah, mau. adik nya sama sepelti Aku kan mah?"
"Aku mau nya sepelti Aku, bial bisa main bola baleng." ucap Alif dengan pengucapan huruf R nya masih belum tepat.
"Iya, tapi kalau pun perempuan, Alif tetap harus menyayangi dan menjaganya kelak, dengar?"
"Dengal, mama." jawab Alif sembari memeluk Ku.
Tak lama Mas Angga datang.
"Kamu sudah makan belum sayang?"
"Belum, Mas. Aku nunggu Mas biar bisa makan bareng."
"Ya sudah yuk, kita makan." jawab Mas Angga sembari menyiapkan piring dan juga air minum.
**********
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa usia kandungan Ku sudah dua puluh minggu minggu.
Semua sudah terasa seperti biasanya, semua pekerjaan rumah sudah Aku yang kerjakan kembali, masalah makan pun sudah kembali seperti biasanya, tidak lagi merasakan mual dan muntah.
Dan di sini lah Aku sekarang, di rumah mama mertua Ku. Untuk merayakan hari lahirnya Alif yang ke tiga tahun.
Tidak mewah, hanya sekedar potong kue saja. Tapi sangat berarti untuk Alif.
"Selamat ulang tahun cucu ganteng Oma," ujar mama mertua Ku sembari mencium pipi kanan dan kiri Alif.
"Makasih, Oma."
"Selamat ulang tahun cucu Opa." ujar Papa mertua Ku juga mencium pipi Alif.
"Selamat ulang tahun ganteng Mami." sekarang giliran kak Yenita yang mengucap kan nya.
"Selamat ulang tahun, anak Bunda." di susul oleh adik nya Mas Angga.
Alif terlihat sangat bahagia, potong kue sudah. Saat nya buka kado yang di kasih oleh Oma, Opa, Mami, Bunda nya Alif.
"Holee, Aku suka." teriak nya saat membuka kado pertamanya yang berisikan mobil-mobilan.
Alif begitu antusias membuka satu persatu kado yang di dapat nya, yang rata-rata isi nya mainan.
Hubungan antara Aku dan juga mama mertua maupun kakak ipar Ku sudah lumayan membaik, karna ketemu hanya satu bulan sekali.
Yah, Aku dan mas Angga berkunjung kerumah mertua Ku hanya satu bulan sekali, yang berjarak setengah jam dari rumah yang Ku huni sekarang.
Malam ini sebelum pulang, mama mertua Ku mengajak kami untuk membicarakan soal adik ipar Ku yang akan di lamar orang.
Alhamdulillah, Aku sangat bersyukur mendengar kabar ini, karna usia adik ipar Ku ini sudah sangat-sangat matang untuk berumah tangga. Yaitu sudah dua puluh delapan tahun.
"Angga, mama mau berbicara dengan kamu dan juga Ara."
"Mau bicara apa, Mah. Serius sekali." jawab Mas Angga.
"Ini, adik kamu, Alhamdulillah jodoh nya sudah ada, sudah minta izin juga mau menikahi adik kamu."
"Jadi mama mau minta pendapat saja sama kamu, bagaimana kalau untuk lamaran kita adakan bulan depan saja, dan untuk acara nikah nya satu bulan setelah tunangan nya bagaimana." sambung mama mertua Ku lagi
__ADS_1
"Ya kalau kami sih setuju-setuju saja Mah, sekarang semua itu tergantung mama saja apa kah sanggup untuk keuangan nya, soal nya kami untuk membantu masalah keuangan jujur saja tidak bisa, Mah." jawab Mas Angga.
"Soal nya kami juga lagi usaha bayar hutang, dan juga biaya untuk persalinan Ara yang sudah tidak lama lagi." sambung Mas Angga lagi