
Tingkah Ku yang banyak diam tak luput dari pandangan tante Pit.
"Eh ada apa, kok diam aja dari tadi Tante perhatiin."
"Biasa lah Tan."
"Biasa?, kenapa lagi hum?"
"Itu gara-gara belanjaan Aku tadi, dan rencana Aku masak di rumah untuk nyambut kedatangan orang tua Ku besok." ucap Ku menjelaskan, karna tadi Aku belanja kepasar dengan Tante Pit jadi dia sudah paham maksud Ku, dan semua rencana untuk memasak di rumah pun sudah Aku ceritakan kepada Tante Pit.
"Trus, apa masalah nya dengan semua itu?" tanya tante Pit
Aku ceritakan lah semua yang terjadi tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.
"Bagaimana Aku ngak banyak diam jadi nya Tan. Memang nya salah kalau Aku ingin memasakan orang tua Ku dengan menu kesukaan nya."
"Kok tega begitu yah, mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak seperti itu, lagian ngak ada salah nya juga kok. Kan ngak minta ke dia juga biaya ke pasar nya."
"Entah lah Tan, Aku juga ngak mengerti. Yang pasti saat ini Aku merasa malu kalau kembali kedapur, Aku malas banget untuk bantu-bantu sekarang. Lagian jasa kita itu ngak pernah kelihatan oleh nya, bukan nya ngak ikhlas yah Tan, tapi ya begitu lah." ucap ku panjang lebar mengeluarkan unek-unek di hati.
"Iya Tante paham kok dengan apa yang kamu rasakan. Makanya Tante kalau kesini cuma sebentar-sebentar aja habis itu pulang."
"Iya bagus kegitu Tan, dari pada di sini seharian kerja ini dan itu, capek nya luar biasa
tapi ngak ada hasil, Aku kalau dekat pasti kegitu juga, mending di rumah bisa tiduran." ucap Ku yang di jawab dengan anggukan oleh Tante Pit.
Sedang asyik ngobrol, Mama mertua Ku datang menghampiri. Mungkin dia merasa bersalah setelah mengata-ngatai Ku tadi. Yah mungkin!!
"Bagus yah, orang sibuk kerja di belakang kalian malah asyik-asyik kan disini ngobrol. Ayo lah kebelakang bantu kerja karna masih banyak lagi yang harus di kerjakan." ucap Mama mertua Ku
Aku hanya diam, dan tidak mau menyahut ucapan nya sedikit pun.
__ADS_1
"Lagi istirahat kami Kak, capek habis muter-muter belanja di pasar tadi." jawab Tante Pit
"Ara, kalau memang kamu mau memasak juga untuk orang tua kamu nantinya ngak apa-apa, terserah kamu saja. Tapi kan kita juga masak nanti nya disini, itu saja kok maksud Mama, kan bisa makan disini saja, dari pada buang-buang uang untuk belanja lagi kan." ucap Mama mertua Ku begitu lembutnya.
Oh astaga, walaupun nada bicara nya di buat selembut mungkin, tapi apa tidak merasa ucapan nya barusan juga membuat hati Ku makin sakit.
'Buang-buang uang' astaga sungguh ini sangat dan sangat membuat hati Ku sakit. Lagian apa salah nya sih belanja hanya seratus ribu saja ngak sampai berjuta-juta, di bilang buang-buang uang saja.
Lagian itu untuk makan orang tua Ku yang datang berkunjung dari kampung, dan itu sangat jarang terjadi karna memang untuk kesini butuh waktu lima jam perjalanan dan butuh biaya yang cukup besar juga.
Bagi Ku tidak ada istilah buang-buang uang kalau untuk kebahagian orang tua, apalagi itu untuk masalah makan.
Aku masih diam seribu bahasa, begitulah Aku kalau hati sudah tidak enak, jangan kan untuk melihat wajah nya untuk menjawab perkataan nya Aku enggan.
"Sudah yuk kebelakang, bantu kerja." ajak Mama mertua ku setelah menyelesaikan perkataan nya.
"Iya kak, nanti kami nyusul." jawab Tante Pit. Ku lihat Mama mertua ku kembali berjalan kebelakang menuju dapur.
"Begitu lah Mama mertua kamu itu, semua yang kamu rasakan saat ini. Sudah lebih dulu Tante rasakan."
"Cuma Tante sekarang sudah paham bagaimana sifat dan karakter nya, jadi ya kalau dia ngomong tinggal di iya-iyain aja. Ngak ambil hati kalau perkataan nya menyakiti perasaan Tante." sambung Tante Pit lagi mencoba menyemangati Ku.
"Entah lah Tan, Aku masih belum bisa mengerti sifat dan menerima setiap ucapan yang menyakitkan untuk Ku."
"Pasti nanti kamu juga akan mengerti dan paham kok, banyak sabar aja. Ya sudah yuk kebelakang. Nanti malah tambah heboh lagi." jawab tante Pit sambil bangkit dari duduk nya dan berlalu kedapur.
Begitulah kejadian beberapa hari yang lalu, makanya Aku begitu ngotot untuk ngajak orang tua Ku kerumah Ku. Karna kenyataan nya orang tua Ku sedari tadi datang hanya di cuekin tanpa di peduliin sama sekali.
Jadi buat apa lama-lama disana pikir ku.
Tanpa berlama lama lagi, kami langsung pergi dari sana meninggal kan mereka yang sibuk dengan urusan nya masing-masing.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, kami sampai di rumah yang ku tempati.
Semua nya memilih untuk istirahat, walaupun hanya sekedar meluruskan kaki, sopir pun memilih untuk tidur sejenak.
Aku memasak nasi, untuk makan sore nantinya. Sedang kan sambalnya tidak jadi Ku buat karna di larang oleh orang tua Ku. Karna ternyata mereka juga membawa bekal dari rumah, begitu banyak macam sambal yang di bawanya.
"Masak nasi saja, ngak usah masak sambel." ucap Mama Ku.
"Kenapa memang nya mah, semua bahan nya sudah ada kok, tinggal masak aja."
"Tadi kami juga bawa banyak sambel kok, nanti kalau kamu masak takut nya mubazir." ucap Mama ku sambil menunjuk barang bawaan nya.
Aku langsung bergegas memasak nasi, pas di colokin ke listrik ternyata, listriknya mati
Astaga..!! Cobaan apa lagi ini.
Terpaksa Aku masak di kompor, Aku pikir cuma mati lampu biasa, tapi sampai sore dan magrib menjelang, lampu nya tak kunjung juga nyala.
Yang awal nya orang tua Ku mau nginap disini, jadi nya gatot karna ngak mungkin juga kan gelap-gelapan tanpa ada penerangan sama sekali.
Usai makan habis magrib, dengan pencahayan senter hp yang seadanya. Kami kembali berangkat menuju rumah Mama mertua Ku. Walaupun berat sih sebenar nya, tapi mau bagaimana lagi.
Setengah jam kemudian kami sampai di rumah Mama mertua Ku, jam sudah menunjukan angka delapan malam, tamu yang datang sudah mulai sepi karna cuaca tidak mendukung, hujan lebat.
Dan saat datang kami di sambut dengan pandangan yang tidak enak dilihat, dimana hal yang Aku takut kan terjadi juga.
Acara minum-minum arak atau tuak sebutan nya di tempat tinggal Ku. Semua yang mengkonsumsi adalah sanak family dari Mama mertua Ku lebih tepat nya Om dari Mas Angga.
Miris memang, di acara sakral seperti ini di suguhi dengan pemandangan seperti ini.
Mereka sudah pada mabuk, meracau tidak menentu. Aku malu dengan orang tua Ku yang melihat kejadian ini. Karna di tempat Ku tidak pernah kejadian yang seperti ini.
__ADS_1
Ku lihat Mas Angga masih duduk sambil minum kopi hitam bersama teman-teman nya. Aku takut dia juga ikut-ikutan minum arak atau Tuak seperti Om nya. Tapi ternyata tidak, dia masih memegang teguh perubahan nya untuk menjadi lebih baik lagi, untuk tidak mencicipi minuman haram itu lagi.