
Sudah mendekati baru bisa mata Ku terpejam, karna saking sakit nya hati Ku di khianati dan di kecewakan oleh Mas Angga.
Paginya, saat bangun tidur seperti biasa Mas Angga selalu men-cek hp milik nya.
Saat itu Aku sudah melakukan kegiatan Ku sebagai seorang istri, yang tidak pernah absen setiap hari nya.
Tiba-tiba Mas Angga nyamperin Aku ke sumur yang lagi nyuci.
"Eh sayang ini apa sih maksud kamu"
Aku hanya diam, tidak ingin membahas masalah itu lagi, yang sudah membuat hati Ku sakit dan kecewa.
"Jawab lah kalau Aku lagi nanya" ucap Mas Angga lagi sedikit meninggi kan suaranya.
"Apa kamu ngak punya mata dan ngak bisa membaca sekarang Mas"
"Sehingga masih bertanya maksud Aku ngirim WA itu ke kamu." jawab Ku tak mau kalah
"Makanya di tanya dulu, baru marah-marah ngak jelas begitu."
"Heh, apa nya yang mau di tanya Mas!! apa pantas kamu chat-an sama perempuan lain seperti itu!! apa pantas Mas!"
"Menurut Aku pantas, karna tidak ada yang berlebihan juga dari chat-an Aku, kamu nya saja yang terlalu ngambil hati."
"Ah sudah lah, memang Aku yang selalu salah dimata kamu Mas, kamu selalu benar! "
"Kalau begitu lanjut kan, jika memang itu pantas untuk kamu laku kan. Jangan di bahas lagi kalau begitu." jawab Ku dengan emosi yang tertahan dan air mata yang sudah mulai mengenang di pelupuk mata.
"Kamu jangan gitu lah, tolong bedakan mana yang serius dan mana yang bercanda. Jangan dikit-dikit ngambek, marah-marah ngak jelas gitu."
Oh astaga, Tuhan! apa katanya barusan? Jangan marah-marah ngak jelas dan itu hanya bercanda?!
Entah lah, menurut Ku mau itu hanya bercanda atau apa, yang penting saat ini hati Ku sudah sakit dan kecewa.
"Sudah lah Mas, memang kamu yang benar, ngak usah di bahas lagi, Aku mau nyuci." jawab Ku sambil kembali menyibukan diri dengan kain kotor yang sudah segunung.
Tanpa banyak bicara lagi, Mas Angga kembali ke kamar.
Seperti biasa tetep Ku sedia kan semua kebutuhan nya. Karna ini sudah tanggung jawab Ku sebagai istri nya.
__ADS_1
Tapi sekarang Aku lebih banyak diam, berbicara kalau ditanya nya saja itu pun hanya seperlunya saja.
***********
...Aku hanya manusia biasa ya Allah...
...Yang punya hati yang rapuh...
...Saat ini hati Ku benar-benar sedang rapuh, rapuh karna di khianati oleh orang yang Aku paling cintai dan sayangi melebihi apapun, tapi sekarang apa!! ...
...Hanya luka yang di toreh kan di hati Ku ini...
...Aku tidak peduli, walaupun dia berkilah hanya sebatas gurauan saja. ...
...Yang jelas saat ini, hati Ku terlanjur sakit dan KECEWA!! ...
Aku tuang kan semua nya dalam bentuk tulisan, karna hanya ini yang bisa Ku lakukan untuk mengurangi beban di hati Ku.
Setiap hari selalu Ku kunci mulut Ku untuk tidak bertanya dan berbicara dengan Mas Angga.
"Sayang, ayo lah, udahan marahan nya. Aku minta maaf kalau memang apa yang sudah Ku lakukan itu adalah salah, dan membuat kamu sakit hati."
"Aku janji ngak akan ngulangi lagi deh."
"Iya Aku akan buktikan sama kamu, kalau Aku ngak akan ngulangi kesalahan yang sama lagi."
"Baik lah, untuk kali ini Aku maaf kan, tapi tolong buktikan ucapan kamu itu Mas, Aku ngak mau kamu hanya ngumbar janji saja sama Aku, karna hati Ku tidak sekuat yang kamu pikir kan."
"Iya sayang," jawab Mas Angga sambil merangkul Ku dan membawa Ku kedalam pelukanya
Ini lah kelemahan Ku, jika Mas Angga sudah berkata lembut seperti ini akan membuat Aku mudah luluh, dan di tambah ini sudah masuk hari ke empat kami saling diam, tidak saling menyapa satu sama lain, Aku hanya takut Allah marah, karna tidak baik suami istri itu saling diam lewat dari tiga hari, itu yang Aku ingat sampai saat ini.
Hari-hari kami jalani seperti biasa lagi, Aku sudah tidak peduli lagi dengan urusan Mas Angga dengan hp nya, karna Aku lihat tingkah Mas Angga masih wajar. Jadi Aku berusaha mencoba untuk selalu percaya kepadanya.
"Mas, sebentar lagi Alif sudah mau masuk sekolah, mau di daftarin di mana?" tanya Ku saat kami lagi duduk di ruang keluar dengan Mas Angga bermain game seperti biasanya.
"Di dekat Aku kerja ada TK sayang, jadi nanti daftarin nya di sana saja, jadi biar gampang pergi dan pulang nya."
"Baik lah Mas, tapi bagus kan di sana?" tanya Ku, karna jujur sebagai seorang ibu Aku ingin Alif mendapat kan pendidikan yang bagus.
__ADS_1
"Bagus kok sayang, disana lebih banyak pelajaran tentang islam gitu sayang, apalagi dalam menghafal Al-Qur'an."
"Emm, bagus kalau gitu sayang, Aku juga pengen nya anak-anak kita jadi hafiz dan hafizah."
"Tapi Aku dengar sekarang anak-anak yang sekolah di suruh daring sama pemerintah, karna corona makin menjadi."
"Ya doaian aja lah semoga ngak."
"Semoga aja deh Mas, soal nya percuma juga kan sekolah kalau ujung-ujung nya hanya daring, sedangkan uang sekolah tetap kita bayar."
"Iya besok lah sekalian pulang kerja Aku tanyain kesana."
"Oke Mas, ya sudah Aku tidur duluan yah, Mas jangan macam-macam, awas kalau ketahuan lagi."
"Iya sayang ku." jawab Mas Angga sembari mengerlingkan sebelah matanya genit.
Aku berlalu ke kamar, jujur seharian melakukan pekerjaan rumah yang tiada habis nya, membuat badan Ku terasa remuk.
*******
"Mas, ini sudah jam dua pagi loh? apa ngak ngantuk?" ucap Ku saat kebangun mau ke kamar mandi.
"Iya bentar lagi sayang, bentar lagi selesai kok."
"Ya sudah, Aku hanya tidak ingin kamu sakit nantinya karna keseringan begadang setiap harinya."
"Iya bentar lagi kok."
Aku tak lagi berdebat, langsung masuk kamar mandi untuk buang air kecil. Usai dari kamar mandi Aku melanjutkan tidur Ku.
Tak lama, Mas Angga nyusul ke kamar dan merebah kan tubuh nya di samping Ku, dan tak lupa memeluk Ku layak nya guling. Sebelas dua belas lah sama Alif kalau lagi tidur.
Paginya, seperti biasa Aku bangun lebih awal untuk menyiapkan kan segala kebutuhan nya untuk kerja, mulai dari baju dan kopinya, dan tak lupa juga beberes rumah.
"Mas bangun, sudah pagi loh ini."
"Hmm, bentar lagi sayang, lima menit lagi."
"Astaga Mas!! terus saja seperti ini kalau di bangun kan."
__ADS_1
"Sudah hampir setengah tujuh loh Mas, nanti telat lagi." ucap Ku lagi sambil menarik selimut Mas Angga.
Mas Angga mengeliat meregang kan otot-otot tubuh nya, dan bangkit menuju kamar mandi.