Sakitnya Di Khianati

Sakitnya Di Khianati
Odong-odong


__ADS_3

"Sayang, udah dong marahan nya," ujar Mas Angga saat kami lagi santai di kamar sambil sambil menonton televisi.


Yah, kami sudah membeli TV beberapa bulan yang lalu, uang dari hasil pinjam sama orang tua Ku. Uang nya memang bukan simpanan pribadi orang tua Ku, melain kan uang dari hasil gadai motor kakak Ku dengan syarat kami yang membayar nya setiap bulan.


Kala itu, kami menyanggupi nya dengan angsuran tiga ratus ribu satu bulan nya. Niat awal meminjam untuk modal usaha, tapi karna mengingat pinjaman yang dapat saat itu cuma empat juta rupiah, tidak akan cukup kalau di pakai untuk modal jualan.


Mas Angga ingin mendirikan cafe kecil-kecilan di depan rumah. Otomatis akan memakan biaya yang cukup besar, karna bener-bener merintis dari Nol.


Akhirnya uang hasil pinjam dari orang tua Ku di belikan ke TV, dengan harga satu juta dua ratus.


Untuk biaya mendirikan cafe, Mas Angga meminjam lagi modal kepada bos nya lebih kurang sepuluh juta. Dan sekarang lagi tahap membangun sudah berjalan 70%.


"Aku sudah ngak marah kok, Mas." jawab Ku sembari tersenyum


"Aku minta maaf yah, sayang. Lagi-lagi bikin kamu sedih," ucap Mas Angga


"Ngak apa-apa kok, Mas. Mungkin Aku nya juga terlalu baper."


"Oh ya, sayang. Sebentar lagi kan cafe kita sudah rampung di bangun, bagaimana kalau nanti malam kita keluar, untuk membeli peralatan memasak dan juga gelas yang di perlukan nantinya."


"Baik lah, Mas. Tapi Alif bagaimana, Mas?"


"Kita bawa saja sayang, soal nya kasihan kalau harus di tinggal. Nanti sekalian kita ajak naik odong-odong, kan Alif belum pernah naik odong-odong."


"Wah, pasti Alif sangat senang, Mas. Kan selama ini kita ngak pernah ngajak dia jalan-jalan keluar."


"Alif, nanti mau ikut?" tanya Ku kepada Alif.


"Ikut kemana, Mama?" jawab Alif pandangan nya beralih kepada Ku, karna dari tadi fokus nya hanya ke TV.


"Jalan-jalan, mau?"


"Yey! jalan-jalan. Mau Mah, mau!" teriak Alif sembari melompat-lompat saking bahagianya di ajak jalan-jalan.


"Baik lah, ayo kita ganti baju dulu," ucap Ku sambil mengangkat tubuh Alif dan mendudukkan nya di atas ranjang.


Aku mengambil baju yang sangat di sukai Alif. Dia biasa menyebut nya dengan 'Baju Ganteng', terdengar aneh memang!!


"Nah, ini baru ganteng." ucap Ku memuji Alif setelah memakai baju kesukaan nya.


"Eh, tunggu dulu ada yang Kurang." ujar Ku lagi, dan bergegas mengambil yang Aku maksud.

__ADS_1


"Oke, ini baru sempurna. Biar jagoan Mama ngak masuk angin nantinya." ucap Ku mematut penampilan Alif dari atas hingga bawah, sudah lengkap dengan jacket.


"Kamu ini lagi sayang, pergi keluar saja sudah seheboh ini." ujar Mas Angga yang sedari hanya jadi pemerhati.


"Iya dong sayang, biar jagoan Kita ini terlihat tampan." jawab Ku sambil memasang topi untuk Alif


"Jagoan kita ini walaupun cuma pakai singlet sudah tampan kok, sayang." jawab Mas Angga sambil menggendong Alif


"Anak siapa sih ini, hum?" tanya Mas Angga kepada Alif


"Anak Mama Papa." jawab Alif sembari memeluk Mas Angga


Usai sholat magrib, Kami berangkat menuju pusat kota untuk membeli peralatan yang di butuh kan


"Mah, kami pergi keluar sebentar." izin Mas Angga kepada Mama mertua Ku


"Loh, mau kemana?"


"Mau beli peralatan untuk cafe, Mah."


"Alif juga kalian bawa?"


"Iya, Mah. Sekalian nanti mau ngajak Alif naik odong-odong, soal nya kan Alif belum pernah pergi jalan-jalan keluar Mah." ucap Mas Angga.


"Alif sudah di pakein jacket kok, Mah" sahut Ku dari belakang yang menggendong Alif.


"Baik lah, kalian hati- hati yah, pulang nya jangan malam-malam."


"Iya, Mah. Kami cuma sebentar Kok." ucap Ku.


"Alif, salim sama oma dulu sana." titah Ku kepada Alif dan menurun kan nya dari gendongan Ku


"Oma, salim." ujar Alif menyodor kan tangan nya menyalami Mama mertua Ku


"Wah, tampan sekali cucu, Oma. Mau pergi kemana Alif, hum?"


"Pelgi jalan-jalan, sama Papa dan Mama."


"Oma tidak di ajak?" ucap Mama mertua Ku seakan merajuk kepada Alif.


"Oma tidak boleh ikut, kaki oma sakit." jawab Alif, tangan nya sambil menyentuh kaki Mama mertua Ku.

__ADS_1


Yah, Mama mertua Ku sudah beberapa hari ini mengeluh sakit di bagian kaki nya, soal nya Mama mertua Ku punya riwayat penyakit 'Asam Urat'.


"Emm, perhatian banget sih, cucu tampan Oma ini." jawab Mama mertua Ku sembari memeluk dan mencium Alif.


"Ya sudah, kalian hati-hati, ingat kata Mama tadi pulang nya jangan malam-malam." ucap Mama mertua Ku mengingat kan kembali yang kami jawab dengan anggukan.


Kami pun berlalu pergi, Mas Angga melajukan motor buntut papa mertua Ku, tujuan pertama kami adalah tempat mangkal nya odong-odong.


Tak butuh waktu lama, kami sampai di lokasi mangkal odong-odong nya.


Alif terlihat begitu bahagia, dan tidak sabar untuk menaikinya.


Alif Ku naik kan ke atas odong-odong, saat odong-odong nya berputar, dapat terlihat jelas di raut wajah Alif kebahagian, Dia selalu tersenyum dan tertawa.


Setengah jam kemudian, Alif bosan dan minta turun.


"Mah, sudah." ujar Alif.


"Yakin sudah ngak mau lagi?" tanya Ku, yang di jawab dengan anggukan oleh Alif.


"Pak, anak saya sudah mau turun." ucap Ku sedikit berteriak, karna di sana berisik bunyi musik dari odong-odong nya.


Bapak yang punya odong-odong tersebut segera menghentikan laju odong-odong nya. Aku bergegas menurun kan Alif.


"Berapa, Pak?"


"Sepuluh ribu, Mbak."


"Ini, Pak." ucap Ku menyodor kan uang dengan nominal yang di sebut si Bapak.


Kami pun melanjut kan ke tujuan selanjutnya, yaitu ke toko pecah belah, butuh waktu lima belas menit ke toko tersebut.


Tak lama, kami sampai di toko pecah belah di pusat kota, toko ini memang besar karna disini menjual berbagai macam pecah belah lengkap.


"Selamat datang. Mas, Mbak." ucap pelayan toko tersebut dengan sopan.


"Ada yang bisa kami bantu." ucap nya lagi.


"Kami mau beli perlengkapan untuk Cafe." jawab Mas Angga.


"Oh, mari ikut saya Mas, Mbak." titah pelayan toko tersebut, kami pun mengikuti nya dari belakang.

__ADS_1


"Silahkan di pilih-pilih dulu Mas, Mbak." ucap nya lagi saat sudah sampai di Rak yang penuh dengan berbagai macam gelas.


Kami pun memilih beberapa macam gelas, sendok, dan peralatan yang di butuh kan lain nya. Setelah semua di rasa cukup. Mas Angga membayar nya di kasir, total nya kurang lebih satu juta.


__ADS_2