
Subuh jam 05.10 suara Adzan berkumandang. Aku segera bangun dan bergegas mengambil wudhu untuk sholat subuh.
Usai sholat tak lupa Aku berdoa, meminta petunjuk atas masalah yang Aku hadapi ini.
"*Ya Allah ya Rabbi, hanya kepada engkau lah Aku meminta dan memohon, hanya kepada mu lah sebaik-baik nya tempat untuk berkeluh kesah. Aku percaya hanya engkau lah yang mampu membolak balikan hati seseorang, jadi Aku mohon tolong buka kan pintu hati suami Ku, agar dia berubah menjadi lebih baik lagi di jalan mu Ya Allah."
"Semua ujian yang engkau berikan ini sangat berat untuk Aku terima ya Allah, tapi Aku tahu engkau tidak akan memberi ujian kepada hamba mu di luar batas kemampuan nya."
"Ya Allah ya Rabbi, berilah kesabaran lebih untuk Aku menjalani ujian yang engkau berikan ini ya Allah, hingga Aku mampu berjuang sampai nanti berbahagia dengan ikhlas. Aamiin Allahumma Aamiin*."
Usai sholat, seperti biasa Aku akan menyiapkan keperluan sekolah Alif, dan juga keperluan kerja mas Angga.
Aku akan berusaha ikhlas, walau sulit untuk Ku jalani.
"Alif, bangun yok udah hampir jam enam loh." ucap Ku membangun kan nya.
Alif tidak perlu susah payah membangun kan nya, karna memang sudah terbiasa bangun pagi. Jadi kalau di bangunkan tidak banyak drama nya.
Alif langsung bangun dan menyambar handuk yang tergantung di pintu kamar.
Usai mandi dan memakai seragam sekolah, seperti biasa Alif Aku suruh sarapan terlebih dahulu.
"Alif, sarapan nya sudah mama siapin di atas meja yah, nanti habis sarapan bangun papa. Mama mau nyuci dulu di belekang." ucap Ku memberi titah kepada Alif yang di jawab dengan anggukan.
Aku bergegas kebelakang untuk mencuci piring nyambi cuci pakaian.
Jujur untuk saat ini Aku ngak mau bertatap muka dan bertegur sapa dulu dengan mas Angga. Karna hati Ku masih belum bisa menerima walaupun sudah di tekad kan dalam hati untuk menerima dengan ikhlas.
Tak lama mas Angga masuk ke kamar mandi untuk cuci muka. Aku hanya diam tanpa ada niat untuk menyapa nya.
Tapi tetap semua kebutuhan nya Aku sedia kan, mulai dari pakaian dan juga kopi. Karna itu masih tanggung jawab dan tugas Ku sebagai seorang istri.
__ADS_1
Sekitar jam 07.46 mas Angga dan Alif pun berangkat.
*************
"Mah, kok ngak mau bicara sama papa, kalau membangun kan papa pasti suruh Aku. Biasanya kan Mama yang bangunin papa." tanya Alif di sela makan nya usai pulang dari sekolah.
"Ngak kenapa-napa kok, Nak. Lagian apa salah nya kalau Alif yang bangunin papa, hum?"
"Ya aneh aja, di tambah sekarang Aku lihat papa dan Mama jarang ngomong."
"Ngak kenapa-napa kok, Mama sama papa lagi puasa ngomong aja. Nanti juga ngomong lagi kok, udah kamu habisin dulu makan nya." ucap Ku supaya Alif tidak bertanya lagi, karna Aku tidak ingin permasalahan antara Aku dan mas Angga di ketahui oleh anak-anak.
Alif hanya mengangguk dan lanjut makan kembali.
"Ayis apa mau tambah lagi?" tanya Ku saat melihat nasi di piring Aisyah sudah mulai habis.
"Iya, mau." jawab Aisyah sembari memasukan suapan terakhir ke mulut nya.
"Nah, makan yang banyak. Biar Ayis cepat gedenya dan bersekolah seperti abang." ucap Ku menyodorkan piring yang sudah Aku tambah nasi kepada Aisyah.
"Iya, Mah. aku mau sekolah di tempat abang juga."
"Iya, nanti Ayis juga sekolah di sana. Biar nanti bisa menjadi anak yang sholehah dan menjadi penghafal Al-Quran juga."
"Iya Mah." jawab Aisyah singkat karna lagi fokus dengan makanan nya.
"Usai makan, duduk dulu turunin nasinya. Habis itu bobok siang yah." ucap Ku memberi titah yang di jawab anggukan oleh Alif dan Aisyah.
Yah, anak-anak selalu Aku terap kan kalau siang wajib untuk tidur siang.
*************
__ADS_1
Sudah beberapa hari Aku hanya diam seribu bahasa kalau mas Angga ada di rumah.
Contoh nya hari ini weekend, mas Angga akan libur bekerja dan akan stanby di rumah seharian dengan mojok bersama Hp kesayangan nya itu.
Hati Ku sudah mulai menerima dan ikhlas akan takdir yang Allah berikan kepada Ku.
Karna sejatinya seseorang itu sama seperti pasir, jika tidak ingin dia pergi menjauh jangan menggenggam nya terlalu erat.
Makanya Aku tidak lagi pernah open dengan apa yang di lakukan nya, mau dia main Hp seharian ya silahkan, mau chat-an sama wanita lain ya masa bodo'. Aku hanya ingin hidup tenang aja saat ini tanpa adanya ribut-ribut lagi.
"Sayang, tolong buat kan kopi yah." ujar mas Angga. Ini adalah kali pertamanya mas Angga ngajak ngomong setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
Tanpa banyak ngomong, Aku langsung beranjak kedapur untuk membuat kan kopi.
Tak butuh waktu lama untuk Ku membuat kan secangkir kopi. Aku menuju ruang tamu untuk mengantar kan kopinya.
Saat akan melangkah pergi dari sana, mas Angga menghentikan langkah Ku.
"Sayang, duduk lah dulu. Aku mau ngomong."
Aku hanya nurut dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan mas Angga.
"Kamu masih marah sama Aku yah. Aku benar-benar minta maaf atas khilaf ku."
Aku hanya diam, tanpa ada niat sedikit pun untuk menjawab nya.
"Sayang, jujur Aku ngak ada niatan kok untuk ambil hati candaan Aku dengan teman-teman game Aku itu, jadi Aku mohon tolong maaf kan Aku." ucap mas Angga lagi memohon agar Aku memaafkan nya.
Ku hela nafas panjang sebelum menjawab ucapan mas Angga.
"Mas, untuk saat ini jujur Aku masih marah, kecewa atas apa yang kamu perbuat di belakang Ku. Tapi Aku akan tetap berusaha ikhlas dan memaafkan kamu untuk yang kesekian kali nya. Aku ngak tau dengan jalan hidup Ku kedepan nya, entah kah kita akan tetap bersama hingga ajal memisahkan atau bahkan nanti berpisah karna ulah kamu sendiri." jawab Ku mencoba kuat dan tegar.
__ADS_1
"Tapi untuk saat ini biar lah kita jalani seperti ini, Aku tidak akan lagi mengekang kamu mau ngapain aja, kamu mau nongkrong sama teman-teman kamu silahkan. Kamu mau main game seharian penuh juga silah kan. Kita jalani saja kehidupan rumah tangga ini sendiri-sendiri, tanpa ikut campur urusan masing-masing." sambung Ku lagi