
Keesokan harinya tidak berbeda dengan hari sebelumnya, Trisha dijemput lagi oleh sopir yang diperintahkan oleh Darrel dan Trisha juga memberikan sarapan untuk Darrel dan sopirnya.
Jadwal Darrel begitu padat akhir-akhir ini selain mempersiapkan ulang tahun perusahaannya, dia juga sudah mulai menjalankan bisnisnya sendiri, bukan hanya menjalankan bisnis papanya saja, sehingga dia harus beberapa kali meeting dengan kliennya.
klien yang bekerja sama dengan perusahaan papanya, juga klien yang bekerja sama dengan perusahaan yang didirikannya sendiri, dia berharap perusahaan yang didirikannya cepat berkembang, agar dia bisa segera lepas dari cengkraman papanya sehingga dia bisa menceraikan Zola dan menjadikan Trisha istrinya.
Darrel lebih banyak mengajak kerja sama antar perusahaan-perusahaan dari luar negeri, agar dia bisa cepat dikenal karena perusahaan-perusahaan dalam negeri, kebanyakannya adalah perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan papanya.
"Pagi Rel," sapa Zola kepada Darrel yang baru saja akan menaiki mobilnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Darrel saat melihat Zola sudah rapi dan membawa koper.
"Aku mau ke lombok tidak apa-apa 'kan?" sahut Zola kepada Darrel.
"Tumben bilang dulu, biasanya juga main pergi aja," sahut Darrel santai.
"Kebetulan saja kamu masih ada di rumah," Jawab Zola sambil memasukkan kopernya ke bagasi mobilnya.
"Aku akan pulang sehari sebelum acara ulang tahun perusahaanmu kamu tenang saja," sahut Zola lalu masuk ke mobilnya dan menjalankan mobil itu. Zola pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Darrel terlebih dahulu.
Darrel tidak memedulikan Zola karena dia sudah biasa melihat Zola pergi dan pasti dia pergi seperti itu, jadi baginya itu tidaklah terlalu penting.
"Jalan," perintah Darrel kepada sopirnya, sopirnya pun mulai menjalankan mobil sesuai dengan perintah Darrel.
Mobil yang Darrel tumpangi telah sampai di kantornya beberapa saat kemudian, Darrel bergegas turun dari kendaraannya itu, dia tidak memedulikan, para karyawan yang menyapanya, pria itu terus berjalan dengan wajah datar menuju ke lift.
Dia masuk ke lift khusus yang hanya bisa digunakan olehnya dan para petinggi-petinggi perusahaan, setelah sampai di lantai tempat dimana ruangannya berada, dia pun keluar dari lift menuju ke ruangannya.
Sekertarisnya menunduk horor padang saat melihat kedatangan di sana.
"Selamat pagi Tuan," dapa Selly.
"Hemmmm." Darrel hanya membalasnya dengan deheman dan masuk ke ruangannya.
"Mau saya buatkan teh atau kopi Tuan?" tanya Selly.
"Tidak perlu, kamu sebaiknya mulailah pekerjaanmu," sahut Darrel sambil memasuki ruangannya.
"Baik Pak," sahut Selly, meskipun Darrel sudah masuk ke ruangannya.
Selly pun mulai kembali ke meja kerjanya, mengerjakan tugasnya dengan baik, agar tidak membuat bossnya itu mengkritiknya.
...******...
Arya mengetuk pintu ruangan Darrel dan setelah mendapat sahutan dari si empu ruangan, Arya pun mulai membuka pintu ruangan itu, lalu masuk keruangan Darrel.
"Ini berkas-berkas yang sudah saya siapkan untuk kerja sama dengan perusahaan dari Malaysia dan Singapura Tuan, anda bisa memeriksanya terlebih dahulu," ucap Arya menyerahkan beberapa berkas kepada Darrel untuk diperiksa.
"Hmmmmm, nanti akan aku periksa bagaimana persiapan untuk perayaan ulang tahun kantor ini?" tanya Darrel hanya melihatnya sekilas.
__ADS_1
"Persiapannya sudah sampai delapan puluh persen Tuan," jawab Arya.
"Baguslah, aku tidak mau ada kesalahan hingga si tua itu menjadikannya alasan untuk membuat keributan denganku," ucap Darrel.
"Iya Tuan, saya akan memastikannya dengan sebaik mungkin," jawab Arya.
Saat Darrel dan Arya sedang mengobrol, pintu ruangannya di ketuk dari luar dan Darrel pun memberi isyarat kepada Arya untuk membuka pintu, Arya berjalan menuju pintu untuk membuka pintu dan ternyata itu adalah Selly.
"Maaf mengganggu waktunya Tuan, barusan Andi mengantarkan ini, katanya ini sarapan untuk anda," terang Selly saat masuk keruangan Darrel, dengan membawa tempat makan seperti di hari sebelumnya.
"Bawa ke sini," perintah Darrel, Selly pun menurut dia membawa tempat makan itu dan meletakkannya di meja kerja Darrel.
"Kalian keluarlah aku ingin sarapan dulu," usir Darrel kepada Selly dan Arya.
Selly dan Arya pun keluar dari ruangan Darrel, saat mereka sudah keluar dari ruangannya pria itu, menelpon Trisha terlebih dahulu, sebelum memulai sarapan karena dia belum sempat mendengar suara kekasihnya hari ini.
"Halo Rel, sarapannya sudah dimakan belum?" tanya Trisha, saat sambungan teleponnya terhubung.
"Belum, aku mau denger dulu suara kamu, tadi aku buru-buru jadi tidak sempat menelepon," sahut Darrel.
"Tidak teleponan sehari tidak apa-apa kali Rel," kekeh Trisha.
"Rel, kenapa makin ke sini kamu makin suka sekali gombal sih," gerutu Trisha.
"Ini bukan sekedar gombal Trish, aku benar-benar tidak bisa sepertinya kalau harus tidak mendengar suara kamu sehari pun," ucap Darrel serius.
"Hemmm, ya sudah sekarang 'kan udah dengar suara akunya kamu sarapan dulu gih, aku juga mau mulai kerja," ucapTrisha.
"Iya aku sarapan sekarang," sahut Darrel.
"Eh Rel ...." Trisha menggantung.
"Apa? Masih kangen ya, sama aku juga," ucap Darrel.
Padahal bukan itu yang ingin dibicarakan Trisha, sebenarnya dia ingin menanyakan apakah benar kantor Darrel akan mengadakan acara ulang tahun tapi dia tidak jadi menanyakannya.
"Ih apaan sih, bukan itu selamat bekerja ya Rel," ucap Trisha akhirnya.
__ADS_1
"Tentu Sayang, kamu juga selamat bekerja ya, ingat fokus ya kerjanya jangan mikirin aku terus, aku tidak kemana-mana kok," goda Darrel.
"Terserah kamulah Rel," sahut Trisha mematikan telponnya begitu saja.
"Suka gemas kalau dengar kamu marah," ucap Darrel sambil tersenyum sendiri.
Sementara di sisi lain saat Arya dan Selly keluar dari ruangan Darrel itu,Selly menahan lengan Arya yang sedang melangkah di depannya.
"Pak Arya, tadi itu kata si Andi sarapan itu dari Nona Trisha, siapa Nona Trisha Pak?" tanya Selly yang kambuh jiwa ke kepoannya.
"Mau apa kamu tanya-tanya soal itu?" Arya melanjutkan langkahnya, tapi ditahan lagi oleh Selly, karena keingintahuannya tidak terpuaskan.
"Aneh aja Pak, tumben banget ada yang kirimin sarapan buat tuan Darrel padahalkan selama ini istrinya saja tidak pernah," tutur Selly dia berdiri di depan Arya.
"Jadi Pak Arya, pasti tau 'kan siapa Nona Trisha itu?" tanya Selly.
"Tidak tau!" ketus Arya langsung pergi dari sana menuju ke ruangannya.
"Ish dasar si Arya itu, apa susahnya jawab sih, aku yakin pasti dia tau siapa Nona Trisha itu, tapi dia tidak mau bilang sama aku," cebik Selly.
"Sepertinya kalau hanya sebatas teman, tidak mungkin sampai kirimin sarapan, bahkan tidak cuma sekali, atau jangan-jangan Tuan Darrel punya pacar dan Nona Trisha itu pacarnya!" Selly terus saja berceloteh sendiri di depan ruangan Darrel.
Dia sampai tidak menyadari, jika saat ini di belakangnya sudah ada seseorang yang mendengarkannya.
"Apa maksud kamu bilang kalau anak saya punya pacar!" Perkataan orang di belakangnya membuat Selly ingin pingsan rasanya.
*Mati aku! Ketahuan Nyonya, kalau aku membicarakan Tuan Darrel*! Gumam hati Selly dia kemudian berbalik dan melihat Merry yang sudah berdiri di depannya dengan tatapan tajamnya.
"Selamat pagi Nyonya," sapa Selly dengan canggung.
"Sekali lagi saya mendengar kamu membicarakan hal yang tidak penting saat jam kerja, saya tidak akan segan-segan untuk mendepak kamu dari perusahaan ini!" ancam Merry memandang Selly tajam.
"Maafkan saya Nyonya, tadi saya hanya asal bicara saja," ucap Selly menundukkan badannya.
"Awas saja kalau karyawan di sini sampai membicarakan hal yang tidak-tidak tentang anak saya, itu berarti kamu yang menyebarkannya," ucap Merry.
"Pergi dan kerjakan pekerjaanmu dengan benar, bukan hanya membicarakan hal yang tidak-tidak tentang bos kamu sendiri!" perintah Merry tegas.
__ADS_1
"Baik Nyonya, sekali lagi maafkan saya, saya permisi Nyonya." Selly langsung berjalan menuju mejanya, sedangkan Merry masuk ke ruangan Darrel.