Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Menyerahkan


__ADS_3

Akhirnya apa yang tidak bisa dihindari pun akan segera tiba, Trisha saat ini tengah duduk dengan perasaan tidak karuan yang saat ini tengah dirasakannya.



Jantungnya terasa berdegup begitu cepat, keringat dingin mulai keluar di seluruh tubuhnya itu, beberapa kali menghela napas, berharap itu dapat mengurangi kegugupannya.



Ceklek ....



Suara pintu kamar mandi mulai terbuka, disusul oleh Darrel yang keluar dari sana dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian pinggangnya ke bawah.



Rambutnya masih setengah basah, juga aroma sampo yang menguar memenuhi kemar itu, Trisha menalan ludahnya dengan kasar, bisakah dia menghindar saat ini ... jawabannya tentu saja tidak, cepat atau lambat, siap atau tidak, dia sudah tidak bisa menghindar lagi.



"Apa aku begitu menyeramkan?"


Suara yang berasal dari Darrel yang kini sudah berdiri di depannya itu, membuat Trisha secara perlahan langsung mendongak, menatap wajah suaminya dengan intens.


"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ucap Darrel lagi, seolah berusaha menenangkan Trisha.


"Aku baik-baik saja," ucap Trisha berusaha bersikap biasa saja, meskipun tentu saja itu gagal.


Melihat Trisha yang tidak ingin terlihat gugup, membuat Darrel secara sadar tersenyum, meskipun sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat.


"Baguslah kalau gitu, karena aku tidak bisa menundanya lagi," ucap Darrel sambil terus bergerak mendekatkan wajahnya pada Trisha.


Trisha hanya pasrah, meskipun hatinya sudah tidak terkendali lagi, bahkan kini dia merasa tubuhnya sedikit gemetar.



"Rel A—hmmppp."



Darrel segera menghentikan ucapan Trisha itu, dia membungkam istrinya itu dengan bibirnya, rasa bahagia tentu saja dia rasakan saat ini, akhirnya setelah sekian lama, kini dia bisa merasakan lagi, kelembutan objek kenyal nan basah yang selalu membuatnya merasa gila itu.



"Aku tidak menerima negosiasi lagi," ucap Darrel menatap Trisha dengan tatapan sayunya.



Kabut gairah sudah mulai mengambil alih dirinya, padahal baru saja itu yang mereka lakukan, hal yang sederhana yang membuatnya ingin melakukan lebih lagi.



Trisha menatap Darrel dengan dalam, ada sedikit rasa kecewa dalam dirinya, tapi dia sudah tidak bisa menghindar lagi, meskipun keinginan terbesar dalam dirinya, adalah memberikan hal yang paling berharga itu pada orang yang benar-benar dia cintai.



Namun kini, dia harus tunduk pada pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu, malam ini akan menjadi saksi, dirinya telah menyerahkan dirinya pada pria itu.



"Sssttt!" ringinsnya memejamkan mata dengan kuat, juga menggigit bibir bawanya saat Darrel kini telah mulai bermain ke permainan inti.



"Ini memang sakit, tapi aku akan berusaha selembut mungkin, kamu bisa mencakarku untuk mengalihkan rasa sakitnya," ucap Darrel dengan tatapan lembut.


__ADS_1


Dia mengusap air mata yang jatuh dari ujung mata yang masih terpejam itu, lalu memindahkan tangan yang semula menggenggam seprei dengan erat, ke punggungnya.



Suara pekikan yang berasal dari Trisha, menjadi bukti, jika malam ini Darrel telah memiliki Trisha secara utuh, meskipun untuk hatinya, dia masih butuh waktu untuk mendapatkannya kembali.



"Aku mencintaimu Trish, benar-benar mencintaimu," ucap Darrel di tengah-tengah kegiatannya.



Trisha yang sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit yang masih dirasakannya itu, mulai membuka matanya setelah mendengar ucapan dari pria itu, dia menatap dalam mata yang kini tengah menatapnya.



Tatapan lembut dan penuh cinta yang selalu dia lihat beberapa bulan yang lalu, sebelum dia tahu kebenaran tentang pria itu, kini dia dapat melihatnya lagi.



"Maaf aku melakukan hal yang menyakitimu seperti ini, aku tidak ingin kehilanganmu Trish, aku ingin kamu selalu ada di sisiku," ucap Darrel lagi dengan lirih.



Trisha masih diam, dia menatap dalam mata itu, mencari sebuah kebohongan dari ucapan pria itu, namun nihil, dia sama sekali tidak melihat hal itu.



"A- aku—"



"Sstttt, kamu tidak perlu mengatakan apa pun, kamu hanya perlu percaya padaku dan tetaplah berada di sisiku," ucap Darrel.




Dia menatap Trisha lagi, lalu menggulingkan tubuhnya ke samping, setelah itu menarik selimut agar dapat menutupi tubuh polos mereka.


"Tidurlah," ucap Darrel dengan nada lembut.


Trisha yang tiba-tiba saja merasa mengantuk pun hanya menurut, dia mengganti posisi tidurnya menjadi membelakangi Darrel.



"Terima kasih Trish, aku mencintaimu," ucap Darrel sambil memeluk tubuh Trisha dari belakang.



Sementara Trisha, antara sadar dan tidak dia mendengar ucapan dari Darrel itu lagi, mendengar pernyataan yang dulu sering dia dengar itu lagi.


...*******...


Keesokan paginya, Trisha mulai tersadar dari tidurnya, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah sampingnya, ternyata sudah kosong.



"Apa dia semalam tidak tidur di sini, dia pasti pulang ke rumah istri pertamanya," ucap Trisha, tersenyum kecut memikirkan Darrel yang tidak ada di sana.



"Kamu harus menerima ini Trish, ini baru permulaan, ke depannya kamu harus kamu harus lebih kuat lagi," gumam Trisha lagi menerawang jauh.



Memikirkan hidupnya yang pasti tidak akan baik-baik saja, apalagi jika sampai istri pertama Darrel tahu tentang pernikahan ini, wanita mana yang akan terima jika suaminya ternyata telah menduakannya.

__ADS_1



Mengingat hari sudah siang, dia pun mulai beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi, dia harus pergi bekerja.



Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, Trisha kini sudah menuruni tangga dengan langkah buru-burunya karena dia hampir terlambat untuk bekerja.



"Non sarapan dulu," ucap Laila saat Trisha hampir sampai di pintu utama rumah itu.



"Tidak perlu Mbak, aku sudah mau kesiangan," sahut Trisha yang hanya melihatnya sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya.



Melihat kepergian Trisha, Laila pun segera kembali ke dapur, dia tidak ingin dimarahi oleh Darrel karena tidak memastikan Trisha sarapan dengan benar, sesuai dengan perintahnya.



"Silakan Non," ucap Andi yang sudah berada di depan teras rumah itu dengan berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka.



"Aku berangkat sendiri saja," tolak Trisha.



"Non saya mohon bekerja samalah, saya tidak ingin kehilangan pekerjaan jika sampai Non tidak pergi bersama saya," ucap Andi memasang muka melasnya.



Akhirnya Trisha pun mengangguk patuh, meskipun sebenarnya dia ingin pergi sendiri, tidak ingin diantar-antar seperti itu.



"Ayo jalan," ucap Trisha saat sudah mendudukkan dirinya dengan nyaman di kursi penumpang.



"Non tunggu dulu!" teriak Laila dari depan pintu sambil berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah mobilnya.



"Ini sarapannya Non, jangan sampai tidak dimakan ya Non," ucap Laila menyerahkan tempat makan pada Trisha melalui jendela mobil yang terbuka.



"Padahal aku bias sarapan di kantin kantor," sahut Trisha sambil menerima tempat makanan itu.



"Tidak Non, Non makan ini di mobil ya, Non harus jaga kesehatan Non," ucap Laila dengan tersenyum.



"Baiklah, terima kasih ya Mbak," sahut Trisha dengan ramah.



"Iya sama-sama Non."



Setelah itu Trisha pun meminta Andi untuk segera menjalankan mobilnya, selama dalam perjalanan, dia memakan sarapan yang telah Laila siapkan untuknya itu.

__ADS_1


__ADS_2