
"Mas, kita mampir dulu ke supermarket di depan ya," ucap Trisha pada Andi yang tengah serius menyetir.
"Baik Non," sahut Andi dengan patuh.
Andi pun mengarahkan kendaraan beroda empat itu ke sebuah supermarket yang tidak jauh dari posisi mereka, dia kemudian menghentikan mobilnya tepat di parkiran supermarket itu.
"Mau saya anter ke dalamnya Non?" tawar Andi saat Trisha membuka pintu mobil.
"Tidak usah Mas, aku sendiri aja." sahut Trisha lalu turun dari mobil dan menutup kembali pintu mobil.
Trisha berjalan memasuki supermarket itu, dia pergi membeli keperluan pribadi miliknya yang sudah hampir habis.
Di tengah-tengah kegiatannya itu, langkahnya terhenti karena melihat seseorang yang dia kenal tengah memilih sesuatu, dia pun mencoba mendekatinya bermaksud untuk menyapa.
"Non Zola," panggilnya pada wanita di depannya itu.
Wanita yang tidak lain adalah Zola itu pun berbalik, karena mendengar panggilannya, dia pun tersenyum pada Trisha yang dibalas senyuman juga oleh Trisha.
"Trisha, kamu di sini juga?"
"Iya Non, saya lagi berbelanja keperluan wanita biasa," sahut Trisha.
Zola pun mengangguk. "Sama siapa ke sini?" tanya Zola memperhatikan sekitarnya.
"Sama Mas Andi Non, saya pulang kerja mampir dulu ke sini."
"Oh, belanjanya udah belum?" tanya Zola melihat keranjang belanjaan milik Trisha yang sudah terisi.
"Sudah Non," sahut Trisha.
"Kita mampir dulu ke restoran di dekat sini yuk," ajak Zola.
Trisha tidak langsung menjawabnya, dia berpikir belum memberitahu Darrel.
"Nanti kamu suruh Darrel nyusul aja, terus minta Andi buat pulang," sambung Zola seolah tau apa yang tengah dipikirkan Trisha.
"Baiklah kalau gitu Non." Trisha akhirnya mengangguk setuju.
"Sudah aku bilang panggil Zola aja, jangan pakai embel-embel seperti itu, san jangan berbicara kaku seperti itu," sahut Zola.
"Iya baiklah."
"Ayo kita bayar dulu," ajak Zola.
Mereka pun berjalan ke kasir membayar belanjaan mereka itu, setelah selesai barulah keluar, Trisha melakukan apa yang Zola sarankan sebelumnya, dia meminta Andi untuk pulang lebih dulu lalu menghubungi Darrel.
__ADS_1
Setelah selesai menghubungi Darrel mereka pun pergi ke restoran yang Zola katakan dengan menggunakan mobil Zola.
Saat sampai di restoran yang mereka tuju, mereka segera mencari meja yang kosong dan kembali berbincang sambil menunggu Darrel yang katanya akan segera menyusul.
"Gimana hubungan kamu sama Darrel?" tanya Zola.
"Hubungan kami baik."
"Baguslah, tapi aku mau mengatakan suatu hal padamu." Zola menatap Trisha dengan serius,
"Apa?" Trisha pun menatap Zola dengan serius.
Dia penasaran dengan apa yang akan wanita di depannya itu katakan, hingga Zola terlihat serius.
"Kamu harus siap untuk segala kemungkinan yang pasti akan terjadi di depanmu," jawab Zola menghadirkan sebuah kerutan di kening Trisha.
"Maksudnya?"
"Aku yakin saat ini orang-tua Darrel sudah tau tentang hubungan kalian dan mereka pasti tidak akan tinggal diam mengetahui hal itu, jadi aku saranin kamu untuk selalu waspada," terang Zola.
"Apa keluarga Darrel serumit itu?" tanya Trisha.
"Sangat rumit, karena orang-tua Darrel, apalagi papanya tidak akan membiarkan apa pun yang membuatnya tidak senang," sahut Zola lagi.
Trisha hanya mengangguk sebagai respon, dia terus berpikir apakah dia akan bisa menghadapi kedua orang-tua dari pria yang dia cintai itu. Dan entah apa yang akan terjadi padanya kelak.
"Apa kamu tidak pernah memiliki sedikit pun perasaan pada Darrel selama ini?" tanya Trisha karena merasa penasaran.
Dia melihat Zola tidak langsung menjawabnya, tapi dia malah terkekeh, seolah apa yang dia tanyakan itu adalah hal yang lucu.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku dan dia itu adalah dua sisi yang sangat berbeda, meskipun kita memaksa diri kita untuk bersama, tapi semua itu akan percuma," sahut Zola.
"Kenapa? Bukankah menghabiskan waktu bersama selama hampir tiga tahun, kalian juga tinggal satu atap dalam waktu selama itu," ucap Trisha dengan heran.
"Aku tidak akan pernah memiliki perasaan apa pun padanya, karena hatiku sudah dipenuhi oleh cinta lain," sahut Zola sambil tersenyum.
"Dan untuk tinggal satu atap, kita memang satu atap, tapi tidak ada bedanya seperti dua orang yang menempati sebuah rumah kontrakan," sambung Zola sampai terkekeh.
"Hah maksudnya?" Trisha menatapnya dengan bingung.
"Nanti kamu bisa pergi ke rumah itu, agar kamu tau kehidupan aku dan Darrel selama ini," sahut Zola.
Trisha pun mengangguk paham, akhirnya mereka pun memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu, sambil menunggu Darrel yang belum juga datang.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu bisa setuju untuk berpisah dengan Darrel, bukankah itu akan membuat kamu juga dalam masalah?"
"Aku tentu saja meminta imbalan yang memuaskan untuk itu, juga meminta Darrel mematikan keamananku, jadi ketika nanti orang-tuaku tau, aku tidak perlu merasa khawatir lagi."
"Semoga saja nanti kamu tidak kenapa-napa, dan kamu juga bisa bersatu dengan orang yang kamu cintai itu tanpa ada halangan lagi," doa Trisha dengan tulus.
"Itu jugalah yang selalu aku harapkan," sahut Zola.
"Apa sebelumnya, kalian tidak pernah terpikirkan untuk berpisah?" tanya Trisha.
"Aku tentu saja terpikir ke sana, tapi kemarin-kemarin suami kamu itu belum bisa berpikir dengan baik, jadi hanya diam dengan keadaan itu, tapi semenjak kenal dengan kamu sepertinya dia mulai berpikir untuk menyerang valik," sahut Zola.
" Apa nanti dia tidak akan kenapa-napa, jika sampai dia menentang orang-tuanya?"
Kekhawatiran Trisha masih sama, dia takut jika Darrel akan kenapa-napa karena telah menentang orang-tuanya seperti itu.
"Asal kamu berada di sampingnya, aku yakin dia akan bisa melewati masalah apa pun yang datang padanya."
"Kenapa kamu begitu yakin jika dengan aku berada di sampingnya, dia akan baik-baik saja."
"Karena aku yakin, kamu adalah sumber kelemanhannya juga sumber kekuatannya, jadi kamu harus menguatkan dirimu, agar kamu tidak menjadi sumber kelemanhannya saja."
Zola mengatakan hal itu dengan serius, dia sengaja mengatakan hal itu pada Trisha, agar wanita itu bisa jaga-jaga untuk setiap kemungkinan yang akan hadir dalam hidupnya dan Darrel.
Meskipun dia tidak tahu keseluruhan apa yang terjadi, pada mantan Darrel dulu, tapi dia tahu secara garis besar apa yang Aji lakukan agar wanita yang sempat singgah di hati Darrel itu untuk pergi dari kehidupannya.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan dari sekarang, aku mengatakan hal itu agar kamu tidak kaget atau khawatir jika nanti terjadi sesuatu padamu," ucap Zola karena melihat Trisha yang jadi melamun.
"Aku hanya takut, jika kehadiranku ini hanya akan menjadi beban untuk Darrel nantinya," sahut Trisha.
"Kamu tidak akan pernah jadi beban!"
Zola dan Trisha langsung menengok ke asal suara itu berada, ternyata Darrel yang entah sejak kapan sudah berdiri di jarak beberapa langkah dari meja tempat mereka duduk.
"Kamu mengatakan hal buruk apa pada istriku?" tanya Darrel pada Zola sambil berjalan.
"Tidak ada, siapa yang mengatakan hal buruk, jangan berpikiran buruk," sahut Zola memutar matanya.
"Dia ngomong apa aja ke kamu, sampai kamu bicara seperti itu?" Darrel mendudukkan dirinya di samping Trisha.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya takut saja jika orang-tuamu tau tentang kita, aku malah akan jadi beban untukmu," ucap Trisha.
"Kamu tidak akan pernah jadi beban, biarkan saja mereka tau, karena cepat atau lambat mereka pasti memang akan tau, kamu tenang saja, jangan berpikiran macam-macam," ucap Darrel menatapnya dan menggenggam tangannya itu.
__ADS_1
Zola sengaja menyibukkan dirinya dengan ponselnya, tidak menatap pasangan yang kini tengah saling menatap penuh cinta itu.