
"Maaf lama," ucap seorang wanita yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan Trisha.
Wanita itu, adalah Zola. Entah apa yang wanita itu inginkan hingga tadi pagi dia menghubungi Trisha, meminta dia untuk bertemu dengannya siang ini.
"Iya tidak apa-apa Nona," sahut Trisha tersenyum ramah.
Meskipun hatinya saat ini tidak tenang, setelah mendapatkan sebuah pesan dari wanita yang tidak lain adalah istri pertama suaminya itu, tapi dia masih bisa mempertahankan sikap tenangnya itu.
"Apa kamu tau kenapa saya meminta untuk bertemu di sini?" tanya Zola menatap Trisha dengan srius.
"Tidak Nona," sahut Trisha menggeleng.
"Aku minta bertemu denganmu, untuk mebahas tentang hubugan kamu dan Darrel," terang Zola.
Trisha menarik napasnya dengan perlahan, dia sudah menduga jika hal itulah yang akan Zola bicarakan dengannya.
"Apa yang ingin anda bahas Nona?" tanya Trisha dengan sikap yang masih tenangnya.
"Apa anda tau tentang hubungan saya dan Tuan Darrel, saya benar-benar minta maaf karena saya telah menjadi orang ketiga di pernikahan kalian—"
"Bukan itu yang mau aku bahas saat ini, tapi tadi pagi Darrel menemuiku, dia meminta aku untuk bicara sesuatu padamu," potong Zola dengan cepat, membuat Trisha tidak melanjutkan ucapannya itu.
Akhirnya Trisha pun diam, tidak berniat untuk menimpali ucapan dari wanita di depannya itu, dia menuggu kata yang akan wanita itu ucapkan itu dengan sabar.
"Sebenarnya hubungan aku dan Darrel tidak seperti yang terlihat di luar."
Kening Trisha mengerut mendengar hal itu, dia pun menatap Zola dengan heran.
"Aku dan Darrel menikah udah hampir tiga tahun, tapi selama itu tidak pernah ada perasaan sama sekali di antara kami, kami menikah hanya mengikuti apa yang orang-tua kami inginkan. Dan sebenarya saat ini kami tengah dalam proses perceraian, tapi kami masih brsikap normal untuk mengelabui kedua orang-tua kami," terang Zola membuat Trisha tak percaya.
"Aku sama Darrel berada di jalan yang berbeda, meskipun kami bersama, tapi kami tidak akan pernah bisa bersatu, kita seperti dua sisi dari magnet, terlihat sama tapi tidak bisa menyatu," sambung Zola lagi.
Trisha masih diam, antara tak percaya dan sedikit terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya itu, dia hanya menatap Zola tanpa reaksi.
"Sekarang tugas aku udah selesai, aku harus pergi dulu, aku masih memiliki kepentingan lain," ucap Zola yang mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Perlu kamu tau, Darrel sepertinya begitu mencintaimu." Setelah mengatakan hal itu Zola pun mulai berbalik akan pergi.
"Terima kasih Nona," ucap Trisha yang sudah berdiri juga, lalu tersenyum ramah pada Zola.
Zola pun kembali menatapnya dan tersenyum, lalu menjawab, "Sama-sama, panggil aku Zola aja, jangan pakai embel-embel seperti itu lagi, aku yakin setelah ini kita akan sering bertemu."
Trisha tersenyum, lalu mengangguk, menatap Zola yang semakin jauh dari posisinya.
"Jadi selama ini aku selalu salah menilai Darrel," gumam Trisha menerawang.
Dia kemudian mengambil tasnya, membayar minuman yang sempat dia pesan namun, belum sempat dia sentuh itu.
__ADS_1
Trisha berniat akan mencari kendaraan umum, tapi baru saja dia beberapa langkah dari restoran itu, sebuah mobil menghentikan langkahnya.
"Mas Andi," panggil Trisha, saat kaca mobil itu terbuka dan ternyata Andi yang ada di dalam sana tengah tersenyum padanya.
"Iya Non, ayo saya anterin," sahut Andi tersenyum.
Trisha pun mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang bagian belakang seperti biasanya.
"Kita langsung ke kantor lagi Non?"
"Iya," sahut Trisha.
"Oh iya Mas, kok bisa tau saya ada di sini?" tanya Trisha.
"Tadi tuan muda nelepon, nyuruh buat saya jemput Nona di sini," terang Andi.
Trisha pun mengangguk paham, sepertinya Zola memberitahukan alamat tempat mereka bertemu itu pada suaminya.
"Makasih ya Mas," ucap Trisha saat turun dari mobil dan menutup pintunya.
"Iya Non."
Trisha pun berjalan memasuki kantor itu, dia tersenyum ramah pada karyawan yang berpapasan dengannya.
Saat akan memasuki lift, langkahnya terhenti, tepat di belakang segerombolan karyawati yang terdengar tengah menyebut-nyebut namanya itu.
"Liat tuh, Tuan Darrel sama istrinya makin sering unggah foto mesra mereka di media sosialnya, apa menurutmu Tuan Darrel sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Trisha?"
"Sepertinya sih tidak, tapi akhir-akhir ini kalian suka lihat tidak sih, kalau Trisha selalu diantar jemput sama mobil, apa menurut kalian dia sekarang sudah memiliki orang yang menjadi bekingan barunya ya."
"Pasti sih, menurutku, mungkin sekarang Tuan Darrel sudah tau, wajah asli dia, hingga akhirnya dia kembali berbaikan lagi sama istrinya. Aku sudah nebak sih, kalau ujung-ujungnya bakal kayak gini, orang kaya seperti Tuan Darrel itu, mana bisa bersanding dengan wanita yang bahkan asal-usulmya saja tidak jelas."
__ADS_1
Trisha yang mendengar hal itu hanya menggelengkan kepala, dia menyilangkan tangannya di perut, menatap sebagian orang yang saat ini tengah berdiri di lorong dekat lift sambil bergosip ria itu.
Salah satu dari mereka yang berbalik dan menyadari kehadirannya, segera mengikuti perut teman di sampingnya, hingga mereka semua pun berbalik dan sadar akan kehadirannya.
"Kenapa diam, apa kalian punya berita baru lagi tentang aku, aku salut ya sama kalian, bahkan kalian tau banyak tentang aku yang aku sendiri pun tidak tau lho," ucap Trisha dengan santai.
"Ayo jelaskan lagi, apa aja yang kalian tau tentang aku, aku punya bekingan, atau aku jadi simpanan, pria kaya atau om-om." Trisha berbicara masih dengan ekspresi santainya.
"Ah iya, kamu belum tau ya Lis, kabar terbaru tentang aku apa," ucap Trisha sambil menatap wanita bernama Lisa yang selalu mencari tahu tentang keburukannya itu.
"Sayang banget kamu ketinggalan berita Lis, mau aku kasih tau tidak — kalian penasaran tidak?" tanyanya lalu menatap satu per satu, para karyawati itu yang kini hanya membisu.
Mereka yang awalnya berbicara banyak hal tentang Trisha, kini hanya diam setelah berhadapan dengan orang yang mereka bicarakan, secara langsung itu.
Tidak ada satu pun yang kembali bersuara, hanya diam dengan wajah yang terlihat menahan malu, karena kepergok.
"Aku kasih tau ya aku sekarang adalah istri kedua dari pengusaha kaya raya," ucap Trisha terang-terangan.
Trisha melangkah mendekati Lisa yang tengah menatapnya dengan angkuh, dia lalu berbisik tepat di samping telinga wanita yang jauh lebih tua darinya itu.
"Dan pria yang menjadi suamiku adalah pria yang kalian bahas itu." Setelah mengatakan hal itu Trisha menjauh dari Lisa lalu tersenyum manis.
"Sekarang kamu sebarkan ya pada mereka," kekeh Trisha.
Setelah mengatakan hal itu, dia kemudian berbalik dan menekan tombol lift, setelah lift itu terbuka, dia pun segera memasukinya, melayangkan tatapan menantang pada Lisa yang menatapnya tajam.
Selama ini dia memang selalu diam dan berusaha menutup mata dan telinga setiap kali mendengar atau melihat banyak orang yang secara terang-terangan atau di belakangnya, selalu menjelekkannya.
Namun kini, dia memberanikan diri untuk membalas ucapan mereka itu, berharap hal itu bisa membuat mereka yang selalu menjelekkannya bungkam.
Awalnya dia diam karena dia ingin fokus bekerja, tapi ternyata, diamnya itu malah membuat orang yang membencinya semakin senang, dan dijadikan senjata untuk terus menyerangnya, meski terkadang tidak secara terang-terangan.
__ADS_1