Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Kejahilan Darrel


__ADS_3

Setelah puas berkeliling dan makan siang di rumah itu, Darrel mengantarkan Trisha pulang ke rumahnya karena sudah sore.


    "Kamu beneran tidak mau tinggal di sana dari sekarang saja?" tanya Darrel kepada Trisha.


     "Tidak, aku mau di rumah sewaku saja, lagian status kita belum resmi menjadi suami istri, jadi kurang pantas rasanya, kalau aku tinggal di sana saat statusku yang masih sebagai pacarmu," sahut Trisha.


     "Ya udah kita nikah dalam waktu dekat ini saja ya," Kata Darrel enteng.


   "Emang kamu pikir nikah itu gampang, lagian aku juga belum mengenal keluargamu dan orang-tuamu, belum minta restu dari mereka juga," terang Trisha.


    "Kamu itu nikahnya sama aku, kenapa harus kenal sama keluarga dan minta restu dari mereka," sahut Darrel.


   "Keluargamu 'kan nanti juga akan jadi keluarga aku juga, jadi aku ingin mereka mengenalku terlebih dahulu dan restu orang-tua adalah hal yang utama," ucap Trisha.


    "Orang-tuaku adalah orang yang tidak akan peduli tentang kehidupanku, karena yang mereka pedulikan hanya terus menambah pundi-pundi kekayaannya saja," ucap Darrel terdapat pancaran kebencian dari matanya itu, saat membahas tentang keluarganya.


    "Mereka seperti itu karena ingin memberikan lmu kebahagiaan, mereka ingin mencukupi semua kebutuhanmu, agar kamu bisa hidup dengan nyaman,," ucap Trisha menatapnya.


     Darrel tersenyum pahit mendengar hal itu, dia menertawakan dirinya yang tidak cukup beruntung memiliki keluarga yang tidak pernah peduli padanya.


   "Seandainya seperti itu, mungkin saat ini, aku sudah hidup bahagia dengan kehidupanku," ucap Darrel fokus ke jalan di depannya.


    "Jadi sekarang kau tidak bahagia?" tanya Trisha menatap wajah Darrel yang terlihat berbeda dari bisanya saat membahas tentang orang-tuanya itu.


     "Tentu saja sekarang aku bahagia, aku bahagia karena ada kamu di kehidupanku ini. Dan hanya kamulah alasan kebahagiaanku saat ini," ucap Darrel dengan sungguh-sungguh.


     "Tris, sebaiknya kita menikah secepatnya ya." Darrel menatapnya dengan serius.


    "Kenapa harus cepat-cepat, sih Rel, kita jalani saja dulu seperti ini jangan memutuskan hal dengan cara terburu-buru itu tidak akan baik," sahut Trisha.


    "Aku hanya takut kamu akan pergi dari hidupku," ucap Darrel dengan ekspresi sedihnya.


    "Aku bisa pergi ke mana Rel, kamu 'kan tau sendiri, aku tidak punya siapa pun lagi dan hanya di sinilah tempat yang aku tau," sahut Trisha terkekeh mendengar perkataan Darrel.


    "Aku hanya takut kamu akan pergi dari hidupku, apa kamu bisa berjanji untuk tetap di sampingku dan percaya padaku. Walau apa pun yang akan terjadi nanti," ucap Darrel.


     Dia menghentikan mobilnya dan membalikkan tubuhnya menghadap ke Trisha, lali memegang tangan Trisha dengan lembut.

__ADS_1


     "Aku tidak akan pergi ke mana pun percayalah," ucap Trisha dengan yakin, dia tidak tahu apa yang sedang menunggu di depannya.


   "Aku harap apa yang kamu ucapkan itu, tidak pernah kamu ingkari," ucap Darrel menatapnya dengan intens,


       Dia tiba-tiba saja, memeluk Trisha dan membenamkan wajahnya, di ceruk leher wanita kesayangannya itu.


     Darrel menghirup aroma wangi vanila dari tubuh Trisha dengan dalam dan itu, selalu membuatnya merasa nyaman,


     Berbanding terbalik dengan Trisha yang selalu merasa, sedikit tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Darrel kepadanya itu. Trisha pun sedikit berontak, berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Darrel.


    "Biarkan seperti ini sebentar saja!" lirih Darrel, semakin mengeratkan pelukannya kepada Trisha.


      Akhirnya Trisha pun pasrah dengan apa yang Darrel lakukan itu, dia mencoba berpikir positif, mungkin saat ini Darrel sedang banyak pikiran, hingga dia membutuhkan ketenangan dengan cara seperti itu.


   Setelah merasa puas, Darrel pun mulai melepaskan pelukannya, dia kembali menjauhkan tubuhnya dari Trisha, lalu menatap Trisha dan merapikan rambutnya ke belakang telinga si empunya.


    "Kayaknya menghirup aroma tubuhmu seperti tadi, akan menjadi kebiasaanku di saat lagi banyak pikiran, karena dengan melakukan hal seperti itu, benar-benar bisa membuat aku tenang kembali," ucap Darrel terkekeh.


     Mendengar hal itu, Trisha tentu saja sedikit tidak senang, karena dia selalu tidak nyaman, banyak melakukan kontak fisik seperti itu.


     Meskipun saat ini, status Darrel adalah pacarnya, tapi bagi dirinya itu tidak terlalu baik, berbeda jika status mereka sudah menikah, mau seperti apa pun mereka, itu tidak ada masalah lagi.


   "Tris kamu sengaja ya manyun seperti itu, kode pengen dicium ya," ucap Darrel menaik turunkan alisnya.


     


        Tuk ....


   "Selalu saja sembarangan kalau bicara."


      Lagi-lagi Trisha menjitak kepala Darrel tanpa aba-aba, hingga Darrel tidak bisa menghindar.


     "Lagi-lagi kamu KDRT Tris, gimana kalau aku hilang ingatan karena sering kamu jitak seperti itu," gerutu Darrel sambil mengusap keningnya.


    "Makanya, kalau bicara jangan sembarangan terus, bikin risih tau," sahut Trisha dengan kesal.


   "Siapa yang sembarangan, aku 'kan cuma bilang ciuman belum bilang—"

__ADS_1


    Perkataan Darrel terpotong karena Trisha menatapnya dengan tajam, tapi hal itu malah membuat pria itu semakin gemas pada pacarnya, hingga ingin terus menggoda wanita itu.


    "Bercanda Trisha sayang, pacarku yang baik hati dan tidak sombong, jangan dianggap serius kali," sahut Darrel cengengesan.


    "Sudah sana pulang, sudah sore mau hujan juga kayaknya," ucap Trisha yang langsung bergerak turun dari mobilnya.


     "Aku tidak ditawarin dulu masuk gitu, Siapa tau pas hujan, kamu kedinginan biar bisa aku angetin," goda Darrel lagi.


     Entah kenapa, semakin Trisha kesal karena perkataannya, itu semakin terlihat menggemaskan menurutnya.


   "Emang kamu pikir aku makanan apa, sampe harus diangetin segala!" decak Trisha, lalu menutup pintu mobilnya.


  "Kamu 'kan emang makanan, makanan yang hanya bisa aku makan, tapi sayang sekarang belum bisa aku makan, kalau seandainya sudah bisa, aku pasti akan habisin kamu," ucap Darrel dengan memasang wajah menyebalka.


Dia segera menghidupkan mobil, lalu segera menjalankan kendaraan roda empat itu, sebelum kena amuk pacarnya. Pria itu kembali tersenyum, saat melihat Trisha yang kesal karena ulahnya.


    "Ya ampun sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu, perasaan saat pertama kali ketemu, dia terlihat dingin dan kaku, tapi kenapa sekarang dia jadi berubah seperti itu!" gerutu Trisha.


"Apa dia masih orang yang sama dengan orang yang pertama kali kutemui, saat di panti dulu?" Trisha menggelengkan kepala, melihat kelakuan Darrel yang sangat jauh berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu.


   Trisha masuk ke rumahnya ,dia segera merebahkan tubuhnya di tempat tidu, pikirannya kembali pada saat tadi Darrel melamarnya.


Apakah keputusannya menerima lamaran dari Darrel, itu adalah keputusan yang tepat, mengingat mereka belum lama berpacaran dan dia pun belum tahu, semua tentang pria itu.


   


  Trisha mengambil pigura foto dia dan almarhum kedua orang-tuanya, mengusap wajah ayah dan ibunya yang sedang tersenyum di foto itu.


 


    "Seandainya kalian masih ada di sini saat ini, kalian pasti akan memberikan Trisha solusi dan nasehat, tentang apa yang harus aku ambil untuk masa depanku ini."


Tanpa terasa air mata mulai jatuh ke pipinya, bibir mungkin tersenyum tapi tidak dengan hatinya, Trisha merindukan masa-masa saat dirinya digendong oleh ayahnya dan dimarahi ibunya karena dia ceroboh, hingga membuatnya terluka.


    Kehilangan orang tua saat dia masih kecil, terkadang membuat dia iri kepada mereka yang masih bisa bersama dengan orang tua mereka, hingga mereka dewasa.


Bercerita kepada ibu tentang yang telah terjadi kepadanya, atau meminta pendapat untuk setiap keputusan yang akan dia ambil, tapi sayang itu hanya angan Trisha.

__ADS_1


Karena yang ada saat ini, dia hanya bisa memendam perasaannya sendiri, mencari jalan keluar dari masalahnya itu, sendiri tidak ada yang membantu mencari solusi dan menasihatinya, tentang keputusan yang harus diambilnya.


   


__ADS_2