Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Ayu Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Dua bulan kemudian ....



Kini Trisha sudah dapat menjalani hidupnya kembali normal, semenjak kejadian Darrel yang pingsan di halamannya, kini pria itu tidak lagi menampakkan dirinya.


Tidak mendapati Darrel yang mengganggunya lagi, membuat Trisha bernapas lega, dia bisa lebih fokus pada hidupnya lagi, tidak perlu memusingkan masalah pria itu lagi.


"Trish, waktunya makan siang, pergilah untuk makan siang terlebih dulu," ucap Romi yang baru saja keluar dari ruangannya untuk makan siang.


"Oh iya Pak," sahut Trisha menghentikan pekerjaannya, lalu berdiri.


"Ayo kita makan siang bareng, aku sama Rizky akan siang kantin kantor," ajak Romi.


Tak lama setelah dia selesai mengatakan hal itu, Rizky pun keluar dari ruangannya itu, dia tersenyum ramah pada Trisha seperti biasa.


"Baiklah Pak, terima kasih karena sudah mengajak saya juga," ucap Trisha tersenyum.



"Iya, ayo." Romi berjalan memimpin.



Mereka bertiga berjalan menuju ke kantin yang berada di lantai paling bawah di gedung itu, Trisha, Romi, dan Rizky pun duduk di salah satu meja dengan empat kursi yang masih kosong.



"Kalian pesan aja makanannya, kali ini biar aku yang bayar, anggap sebagai ucapan terima kasih karena kalian sudah bekerja keras, akhir-akhir ini untuk mendapatkan tender kemarin," ucap Romi.


"Baiklah kalau gitu kita tidak akan sungkan lagi Pak," sahut Rizky tersenyum, begitu pun dengan Trisha.


Romi memang orang yang cukup santai jika sedang di luar pekerjaan, hal itu membuat Trisha dan Rizky tidak terlalu merasa canggung, ketika mereka berhadapan di luar pekerjaan seperti sekarang.



Trisha dan Rizky pun mulai memesan makanan mereka, selagi menunggu pesanan mereka datang, mereka berbincang ringan seputar rencana kerja mereka.



Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun telah sampai, mereka akhirnya mulai memakan makanan mereka.



Setelah selesai, mereka bertiga pun kembali ke lantai tempat dimana ruangan mereka berada, saat baru saja keluar dari lift, Trisha menghentikan sejenak langkahnya karena melihat Darrel tengah berdiri di depan ruangan Romi.



"Kamu tumben ke sini lagi Rel?" tanya Romi sambil berjalan ke arahnya.



Darrel tidak langsung menyahutinya, dia hanya terseyum tipis dengan tatapan lurus pada Trisha yang berjalan dengan santai menuju ke mejanya.


Dia sudah bisa mengendalikan dirinya yang sempat merasa tidak nyaman dengan kehadiran pria itu. Trisha dapat merasakan tatapan tajam pria itu, seolah mampu menusuk ke dalam matanya.


"Aku mau membahas sesuatu denganmu," sahut Darrel yang sudah mengalihkan tatapannya pada Romi.


"Baiklah, ayo kita bicara di dalam," sahut Romi sambil membuka pintu ruangannya.



Melihat atasannya sudah masuk ke ruangannya, Trisha dan Rizky pun pergi ke tempat mereka masing-masing.


__ADS_1


Trisha kembali mengerjakan tugasnya, tapi di tengah-tengah kesibukannya itu, suara dering yang berasal dari ponselnya, membuat perhatian wanita itu teralihkan.



Dia mengerutkan kening, melihat nomor telepon panti yang menghubunginya, itu merupakan hal yang cukup aneh, karena biasanya Ayu tidak pernah menghubunginya di jam kerja seperti itu.


"Halo," sahut Trisha memilih langsung mengangkat telepon itu daripada bertanya-tanya.


\[Halo Mbak, Bu Ayu masuk rumah sakit Mbak, saya bingung harus apa, jadi menghubungi Mbak.\]



Mendengar apa yang orang diteleponnya itu katakan, juga nada si penelepon yang terdengar panik membuat Trisha pun, ikut ikutan dilanda panik.



"Aku akan segera ke sana, Mbak. Ibu dibawa ke rumah sakit mana?" Trisha membereskan berang-barangnya sambil bangun dari kursinya.



Setelah tahu di mana alamat rumah sakit tempat Ayu, dia pun mematikan teleponnya, lalu bergegas menujuk ke ruangan Romi.



Tok ... tok



Setelah mendapat sahutan dari atasannya itu, dia segera memasuki ruangan itu, tidak memedulikan lagi keberadaan Darrel di dalam sana, kini tatapannya hanya fokus pada Romi.



"Maaf Pak, saya boleh izin untuk pulang lebih dulu?" izin Trisha berdiri di depan sofa, tempat Darrel dan Romi tengah duduk.




"Ibu saya masuk rumah sakit, saya harus pergi untuk melihatnya," sahut Trisha.



"Baiklah, kamu boleh pergi," sahut Romi.



"Syukurlah, terima kasih Pak. Kalau begitu saya permisi dulu Pak," ucap Trisha sambil menunduk hormat.



"Apa perlu aku minta orang untuk anterin kamu?" tawar Romi.



Trisha segera menggeleng, menolak tawaran dari atasannya itu.


"Tidak perlu Pak, makasih untuk tawarannya, saya bisa naik kendaraan umum saja," tolak Trisha dengan cara halus dan tersenyum ramah pada Romi.


"Baiklah, kalau begitu kamu hati-hatilah," ucap Romi.



"Iya sekali lagi terima kasih Pak, atas pengertian Pak Romi," ucap Trisha menundukkan kepalanya, lalu dia pun segera undur diri dari ruangan itu.


__ADS_1


Setelah kepergiannya, Romi menatap Darrel yang masih menatap ke arah pintu ruangannya itu, dimana Trisha menghilang.



"Apa kamu benar-benar harus melakukan itu? Bukankah itu hanya akan membuatnya semakin membencimu," ucap Romi, kembali membuka suara menyadarkan Darrel dari lamunannya itu.



Darrel mengalihkan pandangan padanya, dia kemudian menghela napas sedalam-dalamnya.



"Aku tidak punya pilihan lain, jika memang dengan cara membenciku bisa membuatnya tetap di sisiku, itu lebih baik. Daripada dia semakin menjauh dariku," ucap Darrel dengan menerawang.


...******...


Trisha kini telah sampai di rumah sakit, dia segera memasuki ruangan tempat Ayu terbaring, masih tidak sadarkan diri.



Di ruangan itu, ada Art yang menjaga Ayu yang masih belum sadarkan diri. Trisha duduk di pinggir ranjang, dia menatap Ibu panti itu dengan seksama.



"Mbak, kenapa Ibu bisa sampai seperti ini?" tanya Trisha pada Art yang ada di panti.



"Mbak juga tidak tau, tadi setelah menerima telepon, tiba-tiba saja Bu Ayu langsung pingsan," terang Art itu.



"Apa Mbak tau, itu telepon dari siapa?"tanya Trisha tanpa mengalihkan perhatiannya dari Ayu.



" Saya kurang tau juga Mbak Trish, tadi saya tidak berada di dekat Bu Ayu saat dia menerima telepon."



Trisha hanya mengangguk paham dengan jawaban dari Art itu, dia menggenggam tangan Ayu, berharap ibunya itu baik-baik saja.


"Siapa yang jaga panti Mbak?" tanya Trisha yang teringat dengan anak-anak di sana.


"Ada Mbak Nia yang jaga panti dan anak-anak Mbak," sahut Titi— Art di panti.



"Mbak kembalilah dulu ke panti, takutnya Mbak Nia kerepotan ngurus anak-anak sendirian, apalagi kalau anak-anak tau Ibu masuk rumah sakit, mereka pasti bakal khawatir," terang Trisha.



"Mbak Trisha, tidak apa-apa gitu kalo saya tinggal?" tanya Titi dengan ragu.



"Tidak apa-apa Mbak, kasihan anak-anak pasti nunggu kabar tentang Ibu, nanti Mbak bilang saja ke mereka kalau Ibu tidak kenapa-napa, biar mereka tidak khawatir," terang Trisha.



"Baiklah, kalau gitu biar Mbak pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa, Mbak Trisha langsung hubungi panti saja ya," ucap Titi.



"Iya pasti Mbak," sahut Trisha mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2