Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Siapa Kamu!


__ADS_3

Trisha segera mendudukkan dirinya, ketika dia sadar, jika ada sebuah tangan yang berada di perutnya itu.



Dia langsung melompat dari ranjang, menatap pria yang semula tengah terlelap dengan tenang di ranjang yang dia duduki juga dengan wajah bingung dan tak mengerti.



"Si–siapa kamu!" Trisha melayangkan tatapan waspada pada pria itu.



"Aku adalah Baryl, kamu ingatkan dulu kita sering bermain bersama dan kamu selalu memanggilku Kak Ryl," terang pria yang tidak lain adalah Baryl, sambil duduk di ranjang dengan menatap Trisha.



Trisha hanya diam, dia mecoba memikirkan apa yang Baryl ucapkan, hingga dia pun mengingat sekilas tentang masa kecilnya yang tengah bermain dengan seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya.



"Tidak apa-apa kalau kamu belum mengingat aku, aku memaklumulinya karena kita sudah lama tidak bertemu," ucap Baryl beranjak dari ranjang, mendekati Trisha yang tengah menatapnya dengan waspada.



Melihat Baryl yang berjalan le arahnya, Trisha pun menggeser tubuhnya, berusaha menghindar dari pria yang menurutnya asing itu.



Baryl tidak suka dengan apa yang Trisha lakukan itu, terlihat wajahnya berubah sekilas, tapi hanya beberapa detik, sudah kembali seperti sebelumnya.



"Kamu sebaiknya segera membersihkan diri, setengah jam lagi aku akan kembali, membawakan sarapan untuk kita." Baryl kembali tersenyum pada Trisha, seolah tidak ada apa pun.



Namun, Trisha tidak mengindahkannya, dia memalingkan wajah ke sampingnya, menghindar dari tatapan intens Baryl itu.



"Baiklah, kalau gitu aku keluar dulu."



Setelah pria itu pergi dari kamarnya, meninggalkan Trisha yang mulai tersadar dengan keadaannya.



Dia melihat lagi ke arah ranjang dan melihat ke tubuhnya, memindai dari atas sampai bawah, dan dia kemudian bernapas lega karena tidak ada keanehan yang terjadi padanya itu.



"Apa maksud pria itu mengurung aku di sini, apa dia orang suruhan Tuan Aji juga, tapi apa yang dilakukannya tadi, kenapa dia tidur bersama denganku di ranjang yang sama."



"Aku berharap, dia tidak melakukan hal apa pun padaku."



Trisha terus bermonolog pada dirinya sendiri, dia mengira-ngira tentang apa yang saat ini terjadi padanya.



Semakin dipikirkan, rasanya semakin membuat kepala pusing, dia pun memutuskan untuk segera membersihkan diri, sebelum pria aneh itu kembali ke sana.

__ADS_1



Sesuai dengan apa yang Baryl ucapkan sebelumnya, dia sudah datang lagi ke kamar itu dengan sebuah nampan yang terisi oleh makanan dan minuman untuk sarapan mereka.



Tidak hanya dia yang datang, tapi anak buahnya pun mengikutinya di belakang dengan nampan yang juga dibawa olehnya.



"Ayo kita sarapan Sha," ucapnya pada Trisha yang baru saja keluar dari kamar mandi.



Trisha menatap tak suka pada Baryl yang main nyelonong aja ke kamar itu, beruntung saat ini dia langsung memakai pakaian di kamar mandi, jika tidak maka pria aneh itu akan melihat tubuhnya.



"Sebenarnya apa maksud kamu menahan aku seperti ini di sini?" tanya Trisha duduk di pinggir ranjang.



"Ayo makanlah Sha, jangan buat aku marah!" tekan Baryl yang kini tatapan matanya sudah berubah, tidak selembut sebelumnya.



Pria dengan sengaja mengabaikan pertanyaan yang Trisha layangkan itu, dengan berbicara hal yang lain lagi.



"Aku tidak akan memakan makanan itu, kamu bisa saja meracuni makanan itu," sahut Trisha sambil memalingkan wajahnya.



Baryl yang tersinggung dengan apa yang dikatakannya itu, tanpa aba-aba langsung melemparkan gelas yang ada di atas nampan ke lantai, hingga menimbulkan suara nyaring dari gelas itu.




Tidak ada lagi kelembutan yang pria itu tunjukkan padanya seperti beberapa menit yang lalu, kini yang ada hanya sebuah tatapan mata penuh amarah.



"Jangan menguji kesabaranku, atau aku aku melakukan hal tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya!" peringat Baryl penuh penekanan.



Trisha mematung di tempatnya, dia tidak ingin sampai pria itu bersikap nekat dan melakukan hal kejam padanya, dia harus bertahan sebelum ada kesempatan untuk pergi dari penjara itu.



"Cepat minta maaf pada Tuan, dan segeralah makan ini!" Anak buahnya memberikan nampan berisi makanan itu dengan kasar padanya.



"Maaf," ucap Trisha menatap Baryl.



Tiba-tiba saja, raut wajah pria itu langsung berubah. Kembali ke raut sebelumnya, penuh kelembutan saat menatapnya.



"Tidak apa-apa, aku tau kamu hanya sedikit waspada, kamu tenang saja, aku tidak akan mungkin meracunimu."

__ADS_1



Entah kenapa melihat senyuman, serta mendengar ucapan pria itu membuat Trisha merinding, dia beranggapan jika Baryl sedikit tidak normal.



"Beresin pecahan gelas itu, jangan sampai kaki Trisha terluka," ucap pria itu sambil mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang berada di dekat jendela.



"Baik Tuan," sahut anak buahnya itu mengangguk patuh. Pria itu pun, keluar dari kamar itu.



"Ayo makanlah," ucap Baryl dengan nada lembut, serta senyuman yang masih terpatri di bibirnya itu.



"Iya," sahut Trisha menatapnya sekilas, lalu mulai menyuapkan makanan di piringnya sedik demi sedikit.



"Setelah sarapan aku akan pergi, kamu tunggu aku di sini ya, nanti aku pasti akan pulang lagi," ucap Baryl di sela-sela makanannya.



Trisha hanya berdeham dan mengangguk samar, sebagai sahutan dari ucapan pria di depannya itu.



"Kak Ryl, apa aku boleh keluar dari kamar ini? aku benar-benar merasa bosan di sini terus," ucap Trisha berusaha berbicara, siapa tahu pria di depannya itu mengizinkan dirinya untuk keluar dari kamar itu.



"Nanti kalau sudah waktunya kamu bisa keluar dari kamar, sabar aja ya. Untuk beberapa saat ini kamu sebaiknya menghabiskan waktu di kamar ini."



Trisha berdecak dengan sedikit kesal, percuma saja dia tadi berbicara dengan nada yang manis, bertujuan untuk membujuk pria itu, tapi ternyata tidak membuahkan hasil.



Akhirnya Trisha pun memilih diam kembali, dia memfokuskan dirinya pada makanannya, dia akan membiarkan pria itu lengah dulu terhadapnya, setelah ada kesempatan maka dia harus segera melarikan diri dari penjara itu.



Anak buahnya sudah kembali memasuki kamar itu, dengan segelas air yang baru untuk Baryl.



"Ini minuman anda Tuan," sahut pria itu.



"Terima kasih," sahut Baryl masih dengan tatapan yang hanya tertuju pada Trisha.



Menyadari dia terus ditatap seperti iru, tentu saja Trisha merasa tidak nyaman, meskipun wanita itu berusaha untuk tidak melihat ke arah Baryl, tapi dia dapat merasakan tatapan menusuk di depannya itu.



"Kaku begitu saya permisi dulu Tuan," pamit anak buahnya yang ternyata sudah membereskan piring kotor juga mengelap lantai yang basah.


"Terima kasih," ucap Trisha pada pria itu.

__ADS_1


"Sama-sama Nona."


Setelah itu, anak buah dari Baryl pun pergi kembali dari kamar itu, sementara Trisha sibuk menyuapkan makanannya.


__ADS_2