
"Apa maksud kamu, Trisha tidak ada di panti?"
Darrel mengerutkan keningnya dengan heran, saat menerima telepon dari Andi yang mengatakan, jika Trisha tidak ada panti.
"Baiklah, biar nanti aku ke rumahnya, kamu langsung pulang saja," ucap Darrel setelah mendengar penjelasan dari Andi, jika Ayu mengatakan, bahwa Trisha sudah pulang sejak pagi.
"Berarti sekarang dia sudah ada di rumahnya, jika dia pulang dari panti sejak pagi," gumamnya, lalu bangun dari kursi kerjanya dan memakai jas yang sebelumnya, disampirkan pada sandaran kursi.
Dia segera keluar dari ruangannya, berpapasan dengan Selly yang tengah menuju ke ruangannya dengan membawa makanan untuk makan siangnya.
"Tuan, anda mau ke mana?" tanya Selly.
"Aku harus pergi dulu," sahut Darrel santai.
"Tapi makanan anda Tuan." Selly menunjuk nampan yang berisi makanan itu, menggunakan isyarat matanya.
"Kamu makan saja," sahut Darrel yang sudah mulai membuka pintu ruangan Arya.
Selly pun hanya diam, berdiri di belakang Darrel yang tengah berbicara pada Arya di ambang pintu ruangan pria itu.
"Kamu tangani dulu masalah kantor, jika tidak ada hal yang penting jangan hubungi aku," ucap Darrel pada Arya.
"Baik Tuan, tapi kalau saya boleh tau, anda mau ke mana?" Arya pun berdiri di balik meja kerjanya itu, saat menyadari kedatangan atasannya itu.
"Aku ada urusan sebentar," ucap Darrel.
"Baiklah Tuan, saya akan mengurus masalah di sini," sahut Arya.
Darrel pun, mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke lift, sambil membenarkan jasnya yang belum terpakai sempurna.
Dia berjalan dengan langkah tegas seperti biasanya, membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, tanpa sambil menyapa, tapi tidak dia hiraukan.
Dia sampai ke basement parkir mobilnya, sopirnya yang selalu berada di sana, segera membukakan pintu mobil itu untuknya.
"Biar aku pergi sendiri saja, Pak Samsul pulanglah," ucap Darrel yang membuka pintu kemudi.
"Baik Tuan," sahut Samsul dengan patuh, lalu menutup kembali pintu mobil penumpang yang sudah dia buka sebelumnya.
__ADS_1
Darrel segera memasuki mobilnya itu dan menjalankan mobilnya itu meninggalkan area kantornya, selama di perjalanan dia sesekali mencoba menghubungi nomor Trisha, tapi masih belum aktif juga.
"Kamu kenapa sih Trish? Apa aku ada buat kesalahannya?" tanyanya pada diri sendiri.
Dia masih belum menyadari, jika menghindarnya Trisha, itu berhubungan dengan dirinya yang sudah mengetahui tentang statusnya itu.
Tak lama kemudian, mobilnya pun sampai di depan rumah Trisha, dia segera menghentikan mobilnya itu dan turun dari mobilnya.
Dia berjalan mendekati pintu rumah yang tertutup rapat itu, lalu mengutuknya secara perlahan, tapi tidak sahutan dari dalam sana.
"Apa dia pergi lagi, tapi ke mana? Dia tidak suka keluar rumah jika tidak ada hal yang penting," gumamnya, lalu mencoba mengintip dari kaca jendela rumah itu.
Namun, gorden rumah itu masih tertutup, hal itu semakin membuatnya heran.
"Apa dia belum sampai? Tapi bagaimana mungkin, kata Andi Bu Ayu mengatakan jika Trisha udah pergi dari panti sejak pagi." Darrel terus bergumam dengan heran.
Dia berjalan mondar-mandir di depan rumah itu, memikirkan tentang Trisha yang tidak bisa ditemuinya.
"Cari siapa Mas?" tanya seorang ibu-ibu yang lewat di depan rumah Trisha.
"Cari yang punya rumah ini Bu," sahut Darrel.
"Oh dia belum kelihatan kembali Bu?" tanya Darrel.
"Belum Mas," sahut ibu-ibu itu.
"Oh gitu ya," ucap Darrel mengangguk.
"Iya Mas, ya udah kalau gitu saya permisi dulu Mas," pamit ibu-ibu itu.
Darrel hanya mengangguk, melihat kepergian ibu-ibu itu, memasuki rumahnya yang tidak terlalu besar.
Darrel memutuskan untuk menunggunya, di teras rumah itu, dia duduk di teras karena tidak ada kursi yang bisa dijadikannya alas untuk duduk.
Menunggu dengan sabar, berharap orang yang di tanggunya segera datang, dia melihat jam di pergelangan tangannya, kini sudah lewat dari jam istirahat, bahkan dia belum sempat makan apa pun dari pagi.
Perutnya yang terus berbunyi, meminta untuk diisi, tidak dia hiraukan, pria itu ingin menunggu wanita pujaannya di sana, karena takut, begitu dia pergi wanita itu datang.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain, wanita yang tengah ditunggu oleh Darrel, kini tengah berdiam diri di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumahnya.
"Aku masih butuh waktu untuk tidak menemuimu Rel," gumamnya, lalu berbalik menjauh kembali dari rumahnya.
Dia membawa kantong kresek yang berisi beberapa makanan yang baru saja dibelinya dari toko swalayan yang tidak jauh dari rumahnya.
Trisha belum siap untuk bertemu dengan Darrel, dia butuh sedikit waktu lagi untuk membulatkan tekadnya, dia tidak ingin goyah lagi pada pria itu.
Menghindari masalah, memang bukanlah solusi yang tepat, tapi kita juga perlu menghidar dari masalah itu, untuk menyiapkan hati dan mental kita agar bisa menghadapi masalah itu dan bisa menjalaninya dengan baik.
Trisha terus berjalan, hingga tanpa terasa dia sudah berjalan cukup jauh dari rumahnya. Dan hal itu membuat kakinya terasa pegal, dia pun memutuskan untuk duduk di sebuah bangku.
Saat tengah menunduk melihat kakinya, ekor matanya melihat ada sebuah botol di samping kepalanya itu.
"Pak Romi," ucapnya saat mendongak dan melihat Romi yang ternyata tengah berdiri di sampingnya dengan botol minuman yang dia sodorkan.
Pria itu masih rapi dengan pakaian formalnya, seperti biasa yang selalu dia lihat saat di kantor.
"Ini ambillah, kamu terlihat kelelahan," ucap Romi.
"Terima kasih Pak," ucap Trisha sambil tersenyum, lalu mengambil air minum itu.
"Silakan duduk Pak," ucap Trisha menggeserkan tubuhnya, memberi ruang agar Romi bisa duduk di bangku yang sama dengannya.
Romi pun, mendudukkan dirinya di samping Trisha, dia mulai membuka minuman yang dibawanya, lalu menegaknya hingga habis setengah botol.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Romi tanpa melihat ke arahnya.
"Saya baru saja beli beberapa makanan Pak, karena bosen di rumah, jadi pergi jalan-jalan dulu," sahut Trisha. "Kalau Pak Romi, kenapa ada di sini, bukankah ini masih jam kerja," sambung Trisha menatap atasannya itu.
"Aku habis makan siang dengan klien sambil membahas masalah pekerjaan di restoran yang tidak jauh dari sini," sahut Romi.
"Apa Pak Rizky tidak ikut Pak?" tanya Trisha mencari keberadaan asistennya yang biasanya selalu ikut ke mana pun Romi pergi.
"Aku memintanya untuk kembali ke kantor terlebih dahulu karena aku ingin santai dulu sejenak."
Trisha pun manggut-manggut dengan penjelasan dari bosbya itu, dia kemudian membuka minuman yang Romi berikan itu dan meminumnya.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka, mereka sama-sama diam dengan pikiran mereka.