Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Pernikahan


__ADS_3

"Saya terima nikahnya, Trisha Gianina binti almarhum Harun Purnama dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai." Suara lantang yang berasal dari Darrel itu menjadi pengubah status Trisha.



Kini wanita berusia 25 tahun itu telah resmi menyandang status sebagai seorang istri dari Darrel Shankara, pria yang menyeretnya untuk menjadi orang ketiga, di bahtera pernikahannya.



Pernikahan itu diadakan dengan cara yang teramat sederhana, hanya ada beberapa orang yang Darrel minta untuk menjadi saksi, termasuk orang yang dia percayai yaitu, Romi, Arya, juga Andi.



Darrel memang sengaja mengadakan pernikahan itu, di rumah sewa Trisha karena untuk saat ini tempat itulah yang paling aman dari pengawasan kedua orang-tua Darrel.



"Terima kasih atas waktunya Pak," ucap Darrel mengalami penghulu dan wali hakim juga para saksi yang dia tunjuk untuk memperlancar jalannya janji suci yang sakral itu.


"Sama-sama Tuan, semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yang langgeng," sahut Pak penghulu diamini oleh setiap orang yang hadir di sana.


Setelah beberapa orang itu pergi, kini giliran Romi yang berpamitan terlebih dahulu, meninggalkan Darrel yang masih berada di sana, duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Trisha duduk.



Sementara Arya dan Andi masih berada di sana, mereka masih menunggu perintah dari Darrel selanjutnya


"Ayo kita pergi," ajak Darrel yang sudah kembali berdiri.


"Ke mana?" tanya Trisha, mendongak dan menatapnya dengan heran.


"Ke rumah kita," sahut Darrel sambil berjalan terlebih dahulu.


"Tapi aku masih belum membereskan barang-barangku," ucap Trisha membuat langkah Darrel yang hampir menggapai pintu menjadi terhenti.


"Bereskan yang pentingnya saja dulu, barang-barang yang lainnya, biar nanti saja," ucap Darrel, menatapnya sekilas, setelah itu kembali melanjutkan langkahnya.


Akhirnya Mau tidak mau, Trisha yang saat ini masih mengenakan sebuah kebaya modern dan sederhana itu pun, mengikuti apa yang Darrel katakan.



Dia hanya membawa beberapa barang yang penting saja, setelah itu mengikuti Darrel yang sudah lebih dulu memasuki mobil yang sebelumnya, dipakai oleh Andi menjemput dirinya.



Sementara Arya, dia yakin jika asisten pria itu sudah dia minta untuk kembali ke kantor. Trisha duduk dengan tenang di dalam mobil, melihat ke luar jendela mobil itu, tidak memedulikan Darrel yang tengah sibuk dengan ponselnya.


__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah sampai di depan gerbang sebuah rumah yang pernah mereka datangi sebelumnya.


Kenapa sekarang jadi banyak orang? Pertanyaan yang Trisha utarakan dalam hatinya.


Sekarang di rumah itu jadi da beberapa penjaga yang berada di sekitar rumah itu. Dia tidak tahu, jika itu adalah cara Darrel untuk memperkuat keamanan di rumah itu.


"Ayo turun," ucap Darrel, saat Andi membukakan pintu mobil untuk mereka.



Trisha pun mengikuti Darrel yang sudah lebih dulu turun, dia memperhatikan beberapa berpakaian hitam yang kini sudah menundukkan kepala saat mereka turun.



"Ayo masuklah, biar Andi yang membawa barang-barangmu."


Trisha hanya mengangguk, mendengar ucapan dari pria yang kini sudah berstatus suaminya itu. Dia melangkah mengikuti Darrel memasuki rumah berlantai dua yang cukup luas itu.


"Siapkan makan siang untukku dan Nyonya kalian," ucap Darrel pada kedua Art yang menyambutnya di ruang utama.


"Baik Tuan," sahut Artnya itu sambil menunduk hormat.



"Ayo, istirahatlah terlebih dahulu di kamar," ajak Darrel menatapnya sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya.




Namun kini, dia memasuki kamar itu dengan perasaan hambar, tidak ada lagi perasaan senang yang sebelumnya dia rasakan, bayangan tentang statusnya yang hanya sebagai orang ketiga membuatnya merasa gamang.



Trisha yang saat ini tengah mematung di depan pintu kamar itu, menatap kosong ke arah ranjang berukuran besar yang ada di depannya, tiba-tiba saja dia merasakan sebuah belitan melingkar di perutnya yang masih terbalut kebaya itu.



*Deg ... deg* ....



Jantungnya berdegup mendapatkan pelukan dari belakang secara tiba-tiba seperti itu, dia dengan segera bergerak melepaskan dirinya dari Darrel.



Dia masih belum siap untuk kontak fisik secara intens dengan pria itu, melihat rekasi Trisha yang seperti itu, membuat tangan Darrel terkepal.

__ADS_1



"Jangan lupakan kesepakatan yang kamu setujui, aku bebas melakukan kontak fisik apa pun padamu, jangan menghindar lagi. Kali ini aku maafkan, tapi bersiaplah untuk nanti malam."



Setelah mengatakan hal itu, Darrel pergi dari kamar itu, dia membanting pintu hingga membuat Trisha tersentak. Secara perlahan Trisha mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, dia beberapa kali menghela napas sedalam-dalamnya.


"Entah kamu emang yang berubah, atau aku yang tidak menyadari sikap aslimu itu Rel," gumam Trisha termenung.


Dia merasa Darrel memiliki dua keperibadian yang jauh berbeda, di mana beberapa bulan yang lalu, saat mereka menjalin hubungan Darrel seolah adalah pria yang baik, lembut, pngertian, juga penuh cinta.


Namun yang ada kini, hanyalah pria yang hanya terobsesi akan dirinya, bukan lagi pria yang terlihat mencintainya seperti dulu.


"Nyonya, Tuan menunggu anda di meja makan, dia meminta anda untuk segera membersihkan diri, pakaian untuk anda sudah tersedia di ruang ganti," ucap Art dari balik pintu kamarnya itu.


"Baiklah!" sahutnya sambil mulai beranjak secara perlahan menuju ke kamar mandi.


...******...


Tidak membutuhkan waktu lama, kini Trisha sudah berjalan menuju ke meja makan, dengan Art bernama Laila yang ternyata masih menunggunya di depan kamar.


"Padahal seharusnya Mbak tidak perlu menunggu aku, aku sudah tau kok letak ruang makan dan dapur di mana," ucap Trisha di tengah-tengah langkahnya pada Laila.


"Saya diminta oleh Tuan, untuk menunggu anda keluar Nyonya," sahut Laila.


Trisha tidak bicara lagi karena kini mereka telah sampai di meja makan, tanpa menunggu perintah Laila segera menarik kursi yang berhadapan dengan Darrel untuk Trisha.


"Terima kasih Mbak," ucap Trisha dengan tersenyum ramah pada Laila.


"Sama-sama Nyonya, kalau gitu saya permisi ke belakang dulu Tuan, Nyonya," pamit Laila dengan sedikit membungkuk.


Trisha mengangguk sebagai respon, tapi Darrel tidak merespon sedikit pun, dia sudah memulai makan siangnya dengan tenang.



Trisha merasa canggung dengan keadaan itu, dia makan dengan orang yang sama juga di tempat yang sama dengan sebelumnya, Namun dengan suasana yang berbeda.


Jika beberapa bulan lalu, mereka makan malam di tempat itu dengan suasana yang hangat, dengan deselingi candaan dari mereka, tapi kini hanya ada keheningan.


"Setelah makan istirahatlah, persiapkan dirimu untuk nanti malam jangan buat aku kecewa," ucap Darrel yang sudah selesai dengan makanannya.


Pria itu mengelap mulutnya dengan tisu yang sudah tersedia, kemudian beranjak dari duduknya. Berjalan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Trisha yang masih belum menyelesaikan makannya.


Nanti malam dia tidak mungkin bisa menghindar lagi, nanti malam siap belum siap, dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Memberikan hak yang memang seharusnya menjadi milik suaminya, meskipun dengan hati yang berat, mengingat hubungan mereka itu.

__ADS_1


__ADS_2