Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Kecewa.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Trisha saat ini masih diam di panti, dia belum kepikiran untuk pulang ke rumah atau lebih tepatnya, hati kecilnya berharap jika Darrel akan datang dan meminta dia untuk pulang.


Setelah berpikir selama beberapa hari, dia sudah dapat berpikir dengan jernih, jika mungkin dia harus menjelaskan lebih detail tentang kejadian antara dirinya dan Baryl agar kesalahpahaman itu tidak berkelanjutan.


Pagi ini, Trisha tengah menemani anak-anak yang berusia empat tahun dan tiga tahun bermain di teras rumah, dia memperhatikan setiap anak yang tengah bermain itu dengan pikiran tenangnya, hingga ketenangannya itu terganggu oleh sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang panti.


"Mas Andi," panggil Trisha saat melihat Andi turun dari mobilnya.


Trisha pun berjalan menuju ke gerbang, mendekati Andi dengan sesekali melihat ke arah mobil, apakah Darrel ada di sana, ikut bersama Andi atau tidak.


Namun, ternyata harapan itu hanya sebatas angannya saja, dia sama sekali tidak melihat keberadaan pria itu di dalam sana.


Trisha tidak langsung berpikir buruk, dia mencoba berpikir positif, jika mungkin saja, Darrel sengaja meminta Andi untuk pergi ke sana, sekalian untuk menjemputnya.


"Non ini tas Non, kata Tuan di dalamnya sudah ada barang-barang pribadi Non," ucap Andi begitu Trisha membuka gerbang.


"Apa Darrel tidak meminta saya untuk pulang Mas?" tanya Trisha yang sebenarnya berharap akan hal itu.


"Tidak Non," sahut Andi menggeleng.


"Apa ada hal serius yang dia katakan?" tanya Trisha lagi.


"Tidak ada Non," sahut Andi menggelengkan kembali kepalanya.


"Baiklah, ayo masuk dulu Mas," tawar Trisha, berusaha tersenyum meski hatinya kecewa.


"Tidak perlu Non, saya mau langsung pamit dulu, karena tadi Nyonya berpesan agar saya tidak lama di sininya, karena beliau mau pergi," ucap Andi.


"Nyonya?" Trisha menatap Andi dengan heran.


"Iya Nyonya Merry." Angguk Andi.


"Apakah Nyonya Merry ada di rumah?" tanya Trisha.


"Iya, Nyonya udah cukup lama tinggal di rumah," terang Andi.


"Oh ya udah kalau gitu, Mas Andi hati-hati ya di jalannya," ucap Trisha berusaha tersenyum meskipun hatinya merasa kecewa karena apa yang diharapkannya tidak menjadi nyata.


"Iya Non, saya permisi dulu kalau gitu Non," pamit Andi yang langsung pergi.

__ADS_1


Trisha pun kembali menutup gerbang, lalu melangkah kembali mendekati anak-anak yang masih bermain di teras, seiring dengan langkanya, kekecewaan dalam hatinya semakin terasa.


"Ternyata kamu benar-benar tidak memiliki sedikit pun kepercayaan lagi padaku Rel." Trisha duduk di lantai teras seperti sebelumnya sambil termenung.


"Kakak kenapa?" tanya seorang akan berusia empat tahun mendekatinya yang tengah melamun itu.


Trisha pun tersadar dari lamunannya, dia kemudian menatap anak perempuan yang bertanya padanya lalu tersenyum pada anak itu.


"Tidak kenapa-napa, kakak hanya sedikit pusing aja, kita mainnya di dalam lagi yuk," ajak Trisha pada anak itu.


"Baiklah ayo," sahut anak-anak yang hanya berjumlah tiga orang itu.


Trisha pun tersenyum dan menggandeng salah satu anak itu, memasuki rumah. Sebenarnya tadi dia bukan hanya alasan saja, mengatakan jika dia pusing.


Dia benar-benar merasa pusing lagi, akhir-akhir ini dia memang seringkali merasa pusing dan hanya dia abaikan.


"Aku baru ingat kenapa tadi tidak menanyakan vitamin sama obat pereda mual dan pusing yang dari rumah sakit itu, pada Mas Andi," gumam Trisha mulai mendudukkan dirinya di sofa.


Dia memijat keningnya dengan perlahan, berusaha meringankan rasa pening yang dirasakannya itu.


Beberapa hari yang lalu, Trisha melupakan vitamin yang dokter berikan untuknya, dia yakin jika kantung yang berisi laporan sama obat-obatan itu ketinggalan di mobil.


Saat ini di sana hanya dia dan Nia yang menjaga anak-anak, karena Ayu sama Titi pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan mingguan mereka.


"Baiklah Mbak, Mbak Trisha gak enak badan lagi ya, kenapa tidak ke klinik aja untuk diperiksa Mbak," ucap Nia mendekatinya yang masih duduk di sofa.


"Tidak perlu Mbak, akhir-akhir ini badan aku emang kurang fit aja," sahut Trisha tersenyum.


"Mungkin karena Mbak Trisha sibuk kerja terus, ya udah kalau gitu Mbak istirahat saja, biar anak-anak aku yang ngawasin," sahut Nia.


Trisha pun mengangguk dan tersenyum, dia kemudian mulai beranjak dari sofa dan mulai melangkah menuju ke kamarnya, tidak lupa juga tas yang belum dia simpan, sekalian dia bawa untuk disimpan ke kamarnya.


Bug....


Belum sempat sampai ke kamarnya Trisha sudah tergeletak di tengah-tengah antara ruang tamu dan kamarnya, hingga membuat Nia yang mendengarnya kaget.


Nia berjalan dengan cepat, mendekati tubuh Trisha yang sudah tidak sadarkan diri itu.


"Mbak Trisha," panggil Nia mengguncang tubuh Trisha berusaha membangunnya.

__ADS_1


"Mbak bangun Mbak," panggilnya lagi.


Untung saja tidak lama kemudian Ayu dan Titi pun pulang, mereka juga kaget melihat Nia yang tengah berusaha membangunkan Trisha.


"Kenapa Trisha?" tanya Ayu menyimpan belanjaannya dengan sembarangan dan mendekati tubuh Trisha.


"Tadi katanya pusing, jadi berencana untuk pergi ke kamar, tapi tiba-tiba saja pingsan," terang Nia.q


"Ayo kita bawa dulu ke kamarnya, setelah itu kita panggilkan dokter untuk memeriksa," ucap Ayu.


"Iya ayo Bu," sahut Nia dan Titi serempak.


Mereka bertiga pun mulai mengangkat tubuh Trisha menuju ke kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang hanya cukup untuk dirinya.


"Mbak Titi tolong ambilkan minyak angin ya, Mbak Nia tolong telepon dokter yang biasa," pinta Ayu pada kedua orang yang selalu membantunya itu.


"Baik Bu," sahut Titi dan Nia langsung berjalan keluar dari kamar Trisha itu.


Ayu menggosok telapak Trisha untuk membantu Trisha agar cepat tersadar, anak-anak yang mendengar mereka ribut itu pun mengintip dari pintu kamar Trisha.


Menyadari keberadaan anak-anaknya itu, Ayu pun melihat ke arah anak-anak lalu tersenyum pada mereka.


"Kalian main dulu di ruang tv ya, jangan keluar, Ibu mau rawat dulu Kakak kalian," ucap Ayu pada ketiga anaknya itu.


"Iya Bu, tapi Kakak kenapa Bu?" tanya salah seorang anak.


"Kakak lagi sakit, jadi jangan diganggu dulu ya," ucap Ayu lagi dengan nada lembutnya.


"Baiklah Bu, kita akan main di ruang tv," sahut anak-anak itu dengan patuh.


Setelah anak-anak itu pergi, Ayu kembali menatap wajah Trisha yang tenang itu, dia terus menggosok tangannya.


"Kamu kenapa sih Nak, apa yang sebenernya terjadi padamu."


"Bu ini minyak anginnya," ucap Titi menyerahkan minyak angin padanya.


"Apakah Nia bisa menghubungi dokternya?" tanya Ayu sambil bergerak mengoleskan minyak angin itu ke hidup Trisha.


"Sudah Bu, dokternya akan langsung ke sini," jawab Titi.

__ADS_1


"Syukurlah, semoga Trisha tidak kenapa-napa," ucap Ayu penuh harap.


__ADS_2