Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?"


Trisha saat ini tengah berada di depan meja Romi yang saat ini masih sibuk dengan pekerjaannya.



"Nanti malam kamu bisa menemani aku ke acara perjamuan untuk membahas masalah kerja sama dengan Tuan Agito," ucap Romi.



"Klien baru kita yang dari Jepang?" tanya Trisha, menatap atasannya dengan heran.



"Iya, Tuan Agito mengundang kita untuk makan malam bersama, sekaligus membahas masalah kerja sama kita lebih lanjut lagi," terang Romi.



"Tapi bukannya biasanya, Pak Rizky yang menemani anda jika ada pertemuan malam."



"Rizky nanti tidak bisa, karena dia ada acara dengan keluarganya yang tidak bisa dia tinggal."



Mendengar hal itu, Trisha pun mengangguk paham, dia berpikir, bukankah di rumah pun dia pasti akan bosan, karena Darrel memang jarang pulang.


"Baiklah Pak, saya akan menemani Bapak," sahut Trisha.


"Baguslah, nanti kamu tidak perlu pulang dulu, jam enam kita berangkat, tidak nyaman jika kita datang belakangan ke tempatnya," ucap Romi.



"Baiklah Pak, apa ada yang perlu saya siapkan lagi Pak?"


"Tidak ada, karena sebelumnya kita sudah mempersiapkan segalanya, nanti kita hanya perlu membahas kelanjutan dari rapat sebelumnya saja."


"Baiklah kalau begitu, saya kembali ke meja saya dulu Pak," pamit Trisha menundukkan kepalanya.



"Iya," sahut Romi.



Trisha pun mulai melangkah pergi, kembali ke mejanya, dia duduk dan memfokuskan kembali pekerjaannya.


Kini dia sudah mulai tenang, karena Darrel telah menepati janjinya, yaitu dengan membiarkan panti tempatnya tumbuh itu tetap ditempati.


Namun, pria itu jarang pulang, semenjak pernikahan mereka yang kini sudah berjalan genap dua bulan, dapat terhitung berapa kali pria itu pulang.


"Terkadang aku merasa, jika aku ini hanya sebagai tempatnya untuk melampiaskan hasr*atnya saja," gumam Trisha yang tanpa sadar memikirkan tentang suaminya itu.


"Ya ampun Trish, apa yang kamu lakukan, fokuslah bekerja, jangan malah ngelamun," ucap Trisha menggelengkan kepala, setelah sadar jika dia tengah melamun di saat bekerja.


Apa yang dilakukannya itu, tanpa dia sadari diperhatikan oleh seseorang yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.


"Kenapa Trish?"


"Eh Pak Rizky. Tidak kenapa-napa Pak," sahut Trisha tersenyum lebar pada rekan kerjanya yang tengah menatapnya dengan heran itu.


"Lagi ngelamun ya?" tanya Rizky.



"Jeheh, dikit Pak. Oh iya kata Pak Romi, Pak Rizky nanti ada acara keluarga, acara apa kalau boleh tau Pak, tumben banget Pak Rizky sampai tidak bisa menemani Pak Romi."

__ADS_1



Trisha tahu, jika pria yang saat ini tengah berdiri di depannya, adalah orang yang totalitas dalam bekerja, dia biasanya tidak pernah mengatakan tidak, jika Romi memintanya untuk melakukan pertemuan.


"Sebenarnya nanti malam aku ada rencana mau ngelamar pacar aku, tapi kamu jangan bilang-bilang dulu ke Pak Romi ya, karena ini baru lamaran antara aku sama dia aja, belum lamaran antar keluarga," sahut Rizky yang terlihat sedikit malu-malu.


Trisha pun tersenyum mendengar hal itu, dia ikut senang dengan kabar itu.


"Wah selamat ya Pak, semoga nanti rencananya lancar, kalau lancar aku tunggu teraktirannya ya," canda Trisha yang langsung dijawab kekehan oleh Rizky.


"Sip, nanti aku traktir, kalau semuanya berjalan sesuai dengan harapan, tenang aja," sahut Rizky, mengacungkan jari jempolnya.


Trisha pun tersenyum sambil mengangguk, mendengar apa yang pria yang usianya sudah 29 tahun itu ucapkan.


"Ya udah aku ke ruangan Pak Romi dulu ya, mau ngasih ini," sambung Rizky, menunjukkan file yang dibawanya itu.


"Iya Pak," ucap Trisha mengangguk.


Setelah Rizky telah masuk ke dalam ruangan atasannya itu, Trisha pun kini benar-benar memfokuskan dirinya pada pekerjaannya.


...******...


Sesuai dengan apa yang Romi rencanakan, kini mereka baru saja menginjakkan kakinya disebuah restoran mewah.


Tidak terlalu banyak orang yang mengunjungi restoran itu saat ini, wajar saja, karena restoran itu memang khusus untuk orang-orang yang rela menghabiskan banyak uang hanya untuk satu porsi makanan di sana.


"Ayo kita duduk di sana saja, di sana terlihat lebih tenang," ajak Romi menujuk meja yang berada di dekat dinding.



Tempat yang memang cukup tenang, cocok untuk bersantai sambil membahas masalah pekerjaan.



"Baik Pak," ucap Trisha mengangguk patuh.




"Asisten Tuan Agito bilang, jika mereka sudah sampai di parkiran," ucap Trisha, begitu selesai menghubungi asisten kliennya.



"Baiklah, kalau gitu sebentar lagi mereka sampai," sahut Romi mengangguk paham.



Ternyata benar saja, tak lama kemudian orang yang mereka tunggu itu kini telah berada di restoran, kedua orang yang terlihat seumuran Romi itu tengah berjalan menuju ke arah mereka.



"Selamat malam Tuan Agito."



Romi menyapa dengan bahasa Jepang sambil berdiri lalu membungkuk 30 derajat. Umumnya untuk memberi salam.



Trisha pun mengikuti hal yang sama dengan apa yang atasannya itu lakukan.



"Selamat malam juga Tuan Romi, maaf membuat anda menunggu," sahut Agito, dengan bahasa Jepangnya, diikuti oleh asistennya juga.


Romi pun meminta kliennya itu untuk duduk di sofa yang berada di seberang tempat duduk yang Trisha dan Romi tempati.

__ADS_1


Agito dan asistennya itu pun duduk, berhadapan dengan Trisha dan Romi.


Mereka pun memulai pembahasan tentang kerja sama antar perusahaan itu, hingga tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat.



"Sebaiknya, kita memesan makan malam sekarang, karena saat ini sudah malam," ucap Romi, karena dari tadi mereka belum memsan makanan.



"Sebenarnya saya sudah meminta kenalan saya untuk bergabung juga, apa tidak masalah jika kita menunggunya sebentar lagi Tuan?" ucap Agito.



"Tentu tidak masalah Tuan," sahut Romi dengan ramah.



"Dia sepertinya terjebak macet, karena tadi dia mengatakan jika dia sudah dalam perjalanan," ucap Agito lagi.



"Tidak apa-apa Tuan, kita bisa menunggunya sambil menunggu makanan kita datang," sahut Romi dengan ramah.



Baru saja, Agito akan menyahutinya, dari arah yang tidak jauh dari posisi mereka, pasangan yang terlihat sangat serasi tengah berjalan ke arah mereka.



Agito yang menyadari kedatangannya, itu pun berdiri tersenyum pada kedua pasangan yang tengah memasang senyumnya juga ke arahnya.



"Maaf telat, Tuan Agito. Kami terjebak macet." Suara bariton yang sangat Trisha kenal itu pun, membuatnya mematung dengan tatapan lurus pada pasangan itu.



Dia memperhatikan, penampilan wanita yang kini tengah menggandeng tangan pria yang tidak lain adalah suaminya itu dengan mesra.



Dia memindai Zolla dari atas sampai bawah, benar-benar terlihat cantik juga elegan, barang-barang yang melekat di tubuhnya, dia yakin itu adalah barang-barang yang mahal.



"Hai Rom, kamu di sini juga?" sapa Darrel pada Romi dan beralih menatap Trisha yang masih duduk dengan kaku.



"Iya, kebetulan aku baru saja selesai membahas masalah pekerjaan bersama Tuan Agito." Romi tersenyum pada Darrel dan Zolla.



"Oh kalian sudah saling kenal ternyata," ucap Agito membuat perhatian Darrel dan Romi beralih padanya.



"Iya Tuan, kebetulan kami adalah teman," sahut Romi.



"Baguslah kalau gitu, ayo sekarang kita duduk," ajak Agito pada Darrel dan Zolla.



"Terima kasih Tuan," ucap Darrel membungkuk hormat.

__ADS_1


__ADS_2