
Merry yang baru pergi bersama dengan Andi, menemukan sebuah kantong yang berisi vitamin dan foto usg, beserta laporan tentang kehamilan Trisha.
Beberapa hari yang lalu, dia memang baru mengetahui tentang keadaan rumah tangga anaknya, meskipun pada awalnya, Darrel tidak menceritakannya.
Dia segera memberikan apa yang ditemukannya pada anaknya, berharap hal itu bisa menyelesaikan masalah rumah tangga anaknya.
"Dilihat dari usia janin dalam kandungan Trisha, jelas terlihat bahwa anak itu adalah anak kamu, tidak mungkin anak Baryl."
Darrel tidak mendengar apa yang mamanya ucapkan itu, tatapannya terpaku pada foto usg di tangannya.
"Segeralah jemput dia, jangan biarkan kesalahpahaman ini berlarut. Dan jadikan ini pembelajaran untukmu ke depannya, jika kamu harus lebih mempercayai istrimu, daripada omongan orang lain."
"Kepercayaan adalah salah satu pondasi utuhnya sebuah hubungan, jika kepercayaan antara kamu dan istri kamu lemah, maka hanya mendapat guncangan sedikit saja, hubungan itu pasti akan mudah hancur."
Darrel mulai bangun dari meja kerjanya, dia menatap mamanya dengan serius, lalu tersenyum pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Terima kasih Ma, sekarang juga Darrel akan menemuinya dan meminta maaf padanya," ucap Darrel.
__ADS_1
"Iya pergilah, jangan biarkan dia menunggumu terlalu lama," ucap Merry tersenyum juga.
Darrel mulai melangkah dengan langkah lebarnya, lalu pergi meninggalkan mamanya yang masih berada di ruangannya itu.
Dia langsung menjemput Trisha saat itu, tidak ingin membiarkan kesalahpahaman itu berlarut-larut.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, karena dia yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, dia pun menghentikan mobilnya itu, tepat di gerbang panti.
"Permisi," ucap Darrel dengan berteriak sambil membunyikan gerbang itu.
"Trisha mana?" tanya Darrel pada anak itu.
"Oh, Kak Trisha. Bentar saya coba panggilkan dulu, Mas masuk dulu aja, tunggunya di dalam." Anak yang baru duduk di bangku sekolah menengah itu membuka gerbang dan membiarkan Darrel untuk masuk.
Darrel mengangguk dan mulai memasuki pelataran panti, mengikuti langkah anak panti di depannya, seiring dengan langkahnya itu, dalam hati dia berusaha merangkai kata untuk memohon maaf pada istrinya karena secara tidak sadar telah menyakitinya.
Anak panti itu mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian pintu itu pun terbuka dan munculah Ayu yang cukup kaget melihat kehadiran Darrel di sana.
__ADS_1
"Bu, ini ada yang nyariin Kak Trisha," ucap anak itu pada Ayu.
"Iya, kamu pergilah ganti baju dan minta Mbak Nia atau Mbak Titi untuk membuatkan minuman." Ayu membuka pintu lebih lebar.
"Iya, Bu."
Setelah anak asuhnya itu pergi menuju ke sebuah kamar, Ayu beralih menatap Darrel yang masih berdiri di depan pintu.
"Silakan masuk, Tuan," ucap Ayu dengan sopan.
"Terima kasih, Bu." Darrel tersenyum samar dengan mata yang terus bergerak liar, berusaha menemukan keberadaan istrinya yang tidak terlihat batang hidungnya.
Hanya ada beberapa anak yang terlihat tengah bermain di sekitar ruangan itu.
"Silakan duduk, Tuan. Trisha baru saja istirahat, jadi mohon anda menunggu beberapa saat," ucap Ayu dengan sopan.
Darrel hanya menyahutinya dengan anggukan kepala, setelah itu duduk di sofa yang Ayu tunjuk untuknya, disusul oleh Ayu yang juga mendudukkan dirinya dengan berhadapan.
__ADS_1