Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Menemui


__ADS_3

Setelah perdebatan batin yang cukup lama, akhirnya kini Trisha sudah berdiri di depan lobby sebuah perusahaan yang cukup besar, bahkan lebih besar dari perusahaan tempatnya bekerja.



Dia menatap bangunan yang menjulang, mencapai cakrawala itu, dengan berusaha membulatkan tekad dan meneguhkan hatinya, jika apa yang dilakukannya ini sudah benar.



"Ayo Trish, kamu pasti bisa, hanya berbicara saja," gumamnya pada dirinya sendiri.



Shans Grup, adalah sebuah perusahaan yang cukup besar dan kini sudah memiliki beberapa cabang di berbagai kota.



Perusahaan yang bergerak di bidang real estate itu, sudah semakin melonjak naik selama beberapa tahun ini, meskipun beberapa tahun ke belakang, perusahaan itu hampir saja jatuh, tapi berkat usaha dan kerja keras pria yang kini menduduki kursi pemimpin di sana, perusahaan itu bisa bangkit lagi.



"Permisi, saya mau bertemu dengan Tuan Darrel, apa beliau sedang tidak sibuk?" tanya Trisha pada resepsionis dengan bahasa formalnya.


"Dengan Mbak siapa ya?" tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Saya Trisha."



"Baik, akan saya coba tanyakan pada sekertaris Tuan Darrel terlebih dahulu," ucap Resepsionis itu.



"Baiklah." Trisha mengangguk dengan memasang senyum ramahnya.



Sementara itu, Selly yang saat ini tengah berada di meja kerjanya, segera menerima telepon saat telepon di mejanya itu berbunyi.



"Iya halo," sahut Selly saat mengangkat telepon itu.



\[Halo sekertaris Selly, ini ada tamu yang ingin menemui Tuan Darrel, apa Tuan Darrel sedang ada di tempat?\]



"Siapa?" tanya Selly dengan heran, karena seingatnya, hari ini tidak ada jadwal Darrel akan menemui tamu.



\[Orang yang mau bertemu sama Tuan Darrel namanya Trisha.\]



Mendengar nama itu Selly merasa tidak asing, dia terdiam memikirkan nama itu, beberapa saat kemudian dia ingat, jika beberapa bulan yang lalu orang yang bernama itu, beberapa kali mengantarkan sarapan untuk atasannya.



"Suruh tunggu dulu, biar coba saya tanyakan dulu pada Tuan Darrel, apakah dia sibuk atau tidak."



Setelah mengatakan hal itu, Selly segera bangun dari kursinya, dia menyimpan gagang telepon itu tanpa menutup panggilannya.


Selly mengetuk pintu ruangan atasannya dan langsung masuk, setelah mendapatkan sahutan dari Darrel yang memintanya untuk masuk.


"Maaf Tuan, di bawah ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap Selly yang kini sudah berdiri di depan meja kerja Darrel.


"Bilang aku sedang sibuk, tidak menerima tamu yang tidak memiliki kepentingan," sahut Darrel tanpa melihat ke arahnya.



"Baiklah, kalau begitu saya akan mengatakan pada Resepsionis di bawah agar meminta wanita bernama Trisha itu untuk pergi," sahut Selly menunduk, lalu berbalik hendak pergi dari sana.


__ADS_1


"Tunggu! Siapa tadi kamu bilang yang mau ketemu denganku itu?" tanya Darrel membuat Selly menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap ke arahnya.



"Orang yang mencari anda, seorang wanita bernama Trisha," sahut Selly memperjelas.



"Kenapa tidak bilang dari tadi, suruh orang itu untuk ke sini," sahut Darrel dengan cepat.



"Baik Tuan," sahut Selly, sambil melanjutkan niatnya meninggalkan ruangan itu.



Setelah sampai di meja kerjanya, dia pun mengambil kembali telepon yang masih tersambung itu, mengatakan sesuai dengan apa yang atasannya ucapkan.



"Suruh dia langsung ke sini saja, Tuan Darrel sedang tidak sibuk," ucap Selly setelah itu mematikan teleponnya itu.


...*******...


"Kata sekertarisnya Tuan Darrel, anda sudah bisa ke ruangannya, beliau sedang tidak sibuk," terang Resepsionis itu.



"Baiklah, kalau boleh tau di mana ruangannya?" tanya Trisha.



"Anda tinggal naik ke lift, lantai tempat ruangan ceo ada di lantai paling atas," terang Resepsionis itu.



"Baiklah, terima kasih."




Tidak membutuhkan waktu lama, kini dia pun telah sampai di lantai yang ditujunya, saat lift terbuka seorang wanita dengan pakaian formalnya tengah menyambutnya dengan ramah.



"Selamat siang Nona, saya Selly sekertaris Tuan Darrel," sambut Selly begitu Trisha melangkah keluar dari lift.



"Selamat siang Bu Selly, maaf mengganggu waktunya, apa Tuan Darrel sedang tidak sibuk?" tanya Trisha masih dengan ramah.



"Tidak Nona, mari saya antar ke ruangan Tuan Darrel," sambung Selly sambil mempersilakan Trisha untuk mengikutinya.



"Baiklah terima kasih Bu Selly," sahut Trisha menunduk, lalu mulai mengikuti langkah Selly.



Selly berjalan dengan anggun, menuju ke sebuah pintu yang terdapat, papan yang bertuliskan **Chief Executive Officer** yang menempel di pintu ruangan dengan pintu yang tinggi dan besar itu.



Selly mengetuk pintu seperti biasa dan baru masuk saat sudah mendapatkan sahutan dari si empunya ruangan itu.



"Mari Non," ajak Selly sambil membuka pintu ruangan itu dengan lebar, agar dia mudah untuk masuk.


Trisha mengangguk dengan ramah dan kembali mengikuti Selly memasuki ruangan itu, saat masuk dia langsung dihadapkan dengan Darrel yang kini tengah serius dengan sebuah file di tangannya.


"Tuan, tamu anda sudah datang," ucap Selly, membuat Darrel secara perlahan mengangkat kepalanya.


__ADS_1


Pria itu meletakan file yang dari tadi dilihatnya, menatap Trisha dengan tatapan menusuknya, dia kemudian memberikan isyarat pada Selly agar keluar dari sana menggunakan isyarat tangannya.



"Saya permisi Tuan, Nona," ucap Selly menunduk, lalu berbalik pergi dari sana.



Trisha masih berdiri di depan meja kerja Darrel itu, masih dengan tatapan lurusnya pada pria yang kini juga tengah menatapnya tajam.



"Duduklah," perintah Darrel.



Trisha pun menurut, dia duduk bersebrangan dengan Darrel.



"Apa yang membawamu sampai ke sini?" tanya Darrel, pura-pura tidak tahu.



"Saya yakin anda pasti tau, maksud dari kedatangan saya ini," ucap Trisha to the point.



"Untuk membahas masalah panti," ucap Darrel dengan santai.



"Apa maksud semua ini, saya yakin anda sengaja melakukan hal ini untuk menggertak saya."



"Aku tau kamu pasti cukup pintar untuk memahami situasinya," ucap Darrel sambil terkekeh.



"Apa syarat anda, supaya anda bisa merubah keputusan itu?" tanya Trisha masih dengan nada lemah, tidak dengan tatapannya.



Darrell tidak langsung menjawabnya, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam laci mejanya, lalu menyimpan apa yang diambilnya itu ke depan Trisha



"Itu adalah sertifikat tanah yang saat ini ditempati oleh panti itu," ucap Darrel menatapnya dengan serius.



Trisha mengambil file yang berisi sertifikat itu, melihatnya dengan seksama, setelah itu kembali menatapnya, dengan penuh tanya.



"Apa maksdunya ini?"



"Sertifikat tanah itu akan aku alihkan menjadi atas namamu, asal kamu mau menjadi istriku."



Trisha menghela napas sedalam-dalamnya, dia merasa direndahkan oleh Darrel, apa ini sikap asli pria yang beberapa bulan lalu dia cintai itu.



"Maaf Anda harus kecewa, saya tidak akan mau ditukar dengan sebidak tanah itu, permisi."



Tanpa pikir panjang Trisha bangun dari kursi itu, dia merasa percuma datang ke sini, pria yamg di depannya itu, bukan lagi pria yang sama dengan pria beberapa bulan lalu.



"Jika kamu pergi dari sini begitu saja, maka aku pastikan di kota ini kamu tidak akan mendapat tempat yang layak untuk kalian!"

__ADS_1


__ADS_2