Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Ketahuan Aji


__ADS_3

Brak ....


Suara gaduh yang berasal dari meja yang digebrak itu membuat suasana tegang di ruangan itu kian menjadi, Aji masih menatap tiap lembar foto yang kini tengah berserakan di atas meja itu dengan tajam.


Kilatan amarah jelas terlihat di wajahnya yang sudah terdapat sedikit tanda lanjut usia itu, hingga membuat wanita yang selalu setia menemaninya menunduk takut, tak berani untuk menatapnya.



"Beraninya dia melakukan hal memalukan ini di belakangku, dia benar-benar sudah tidak menganggap aku!" geram Aji menatap tajam satu per satu foto Trisha yang diambilnya dari kejauhan.



"Saat ini wanita itu tinggal di rumah yang sepertinya tuan muda siapkan khusus untuknya," terang anak buahnya.



"Dia bahkan menyiapkan rumah untuk wanita murahan itu, benar-benar akan tidak tau diri!"



Merry hanya diam, dia hanya sesekali melihat ke arah meja yang terdapat foto seorang wanita yang diduga kekasih gelap anaknya itu, juga ada beberapa foto Darrel yang keluar masuk rumah itu saat pagi dan malam.



"Terus ikuti apa saja yang dia lakukan lagi, jika kamu sampai melihat mereka berdua mengurus tentang pernikahan segera halangi mereka dengan cara apa pun!" perintah Aji pada anak buahnya yang dia perintahkan untuk mengawasi Darrel.



Aji tidak tahu saja, jika sebenarnya Darrel sudah berjalan di depannya, dia masih menganggap Darrel dan Trisha belum menikah, karena menurut pengawasan anak buahnya, tidak ada yang mengetahui hal itu.


"Baik Tuan," sahut anak buahnya itu dengan patuh.


"Tapi Pa, jangan sampai mencelakakan Darrel," ucap Merry yang menghawatirkan anaknya itu.


"Kamu tidak perlu ikut campur, cukup diam saja di rumah, aku tau apa yang harus lakukan pada anak pembangkang seperti itu!" desis Aji sambil beranjak dari duduknya.



"Antarkan aku ke rumah Nindya, bisa pecah kepalaku berada di sini terus," ucap Aji pada orang kepercayaannya yang selalu mengikuti ke mana pun dia pergi.



Orang kepercayaannya yang merupakan seorang tuna wicara itu pun menuduk sebagai jawaban, lalu mengikuti Aji pergi dari sana.



Meskipun pria yang umurnya jauh lebih dari Darrel itu memiliki kekurangan, tapi dia orang yang pandai dalam bidang akademis, juga beladiri, hingga dia bisa menjadi tangan kanan Aji saat ini.



Merry yang melihat kepergian suaminya itu hanya dapat menangis dalam diam, meskipun sudah puluhan tahun dia diperlakukan seperti ini oleh suaminya, tapi tetap saja itu tidak membuat hatinya lebih kuat.



"Sampai kapan kamu akan seperti ini Pa, kamu menyalahkan Darrel atas apa yang dia lakukan, sedangkan kamu sendiri pun melakukan hal itu, bahkan sampai puluhan tahun, kamu sendiri pun tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk anakmu!" lirih Merry lalu mengusap air matanya itu.



"Aku harus menemui Darrel dan bicara lagi padanya," gumamnya lalu bangkit dari tempat duduknya.


__ADS_1


Dia mengambil tasnya terlebih dahulu, setelah itu kembali menuruni tangga rumahnya dan keluar menemui sopir.



"Antarkan saya ke perusahaan," ucap Merry pada sopirnya itu.



"Baik Nyonya," sahut sopirnya itu.



Dalam perjalanan itu Merry hanya diam, fokus melihat ke arah jalanan, hingga hanya membutuhkan waktu 30 menit mobil yang membawanya itu pun telah sampai di depan lobby perusahaan milik suaminya yang saat ini sudah diajalankan oleh Darrel.



"Selamat siang Nyonya," sapa para karyan dan karyawati yang berpapasan dengannya.



Merry menyahuti setiap karyawan yang menyapanya itu dengan sebuah senyuman tipis saja, sambil terus berjalan dengan elegan menuju ke lift.



Dia sengaja memasuki lift yang khusus untuk Darrel dan para petinggi diperusahaan itu.



Tak membutuhkan waktu lama kini lift itu pun berhenti di lantai tujuannya, dia pun segera keluar dari lift itu.



"Apa Darrel ada di ruangannya?" tanyanya pada Selly yang tengah serius di meja kerjanya.



"Siang Nyonya, tuan muda ada di dalam Nyonya," ucap Selly.


Tanpa menyahutinya terlebih dahulu, Merry pun langsung menuju ke ruangan tempat Darrel bekerja. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu lalu masuk, saat mendapat sahutan dari anaknya.



"Gimana kabar kamu Nak?" sapa Merry langsung mendudukkan dirinya di sofa.



"Baik," sahut Darrel melihat mamanya sekilas.


Dia kemudian mengambil gagang telepon yang ada di mejanya itu, lalu menghubungi Selly untuk membuatkan minuman untuk Merry.


"Ada apa mama ke sini?" tanya Darrel menyandar pada sandaran kursinya, mengabaikan sejenak pekerjaannya.


"Apa sekarang bahkan mama perlu alasan untuk menemuimu," sahut Merry dengan nada sedihnya.



"Jangan basa-basi Ma, aku tau maksud kedatangan Mama ke sini karena ada alasannya, apa si pak tua itu yang menyuruh Mama untuk ke sini," ucap Darrel dengan santai.


"Mama ke sini hanya ingin bertanya, apakah kamu masih memiliki hubungan dengan wanita itu?" tanya Merry menatap dalam mata Darrel.


"Ada atau tidaknya hubungan aku dengannya, tidak ada hubungannya dengan Mama atau si pak tua itu," sahut Darrel.

__ADS_1



"Tapi papa kamu sudah tau jika wanita itu tinggal di rumah yang kamu beli." sahut Merry.


"Lagi dan lagi pak tua itu mengawasiku," cebik Darrel tersenyum miring.


"Kamu tau 'kan kalau Papa kamu sudah membenci sesuatu, dia tidak akan melepaskan apa yang dia benci itu," ucap Merry.



Belum sempat Darrel menyahutinya, pintu ruangannya itu diketuk, hingga membuat dia dam terlebih dahulu, membiarkan Selly menyajikan minuman di meja yang ada di depan mamanya.



"Terima kasih," ucap Merry dengan wajah datarnya pada Selly.



"Sama-sama, kalau begitu saya pergi dulu Nyonya, Tuan," pamit Selly.



"Pergilah," sahut Darrel.



Setelah Selly menghilang dari balik pintu ruangannya, itu Darrel pun menatap mamanya.



"Aku memang sengaja menyiapkan rumah untuknya, bahkan aku kadang tianggal di sana," terang Darrel dengan santai.



"Kamu tidak memikirkan perasaan Zola?"



"Zola tidak mempermasalahkan itu," sahutnya lagi dengan santai.



"Tapi dia pasti sakit hati dengan hal ini," ucap Merry menatap tak percaya pada anaknya itu.



"Kenapa Mama masih bertahan di samping Papa, meskipun pria itu tidak pernah menghargai Mama?"



Bungkam, Merry selalu bungkam setiap Darrel menanyakan hal itu, karena dia sendiri pun tidak tahu jawaban pasti untuk pertanyaan itu.



"Aku tekankan sekali lagi Ma, aku mencintai Trisha, jika kalian memang masih membutuhkan aku ada di hadapan kalian, maka jangan usik kehidupanku!" tekan Darrel.



"Tapi kamu tau 'kan, cinta kamu itu bisa saja menghancurkan kehidupan orang lain, apa kamu tidak ingat dengan apa yang terjadi beberapa tahun lalu," sahut Merry.


__ADS_1


"Maka jika dia melakukan hal yang sama pada Trisha, aku berjanji akan menghancurkan perusahaan yang selalu dia banggakan ini!" ancam Darrel dengan kilatan amarah dari sorot matanya.


__ADS_2