Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Kemarahan Darrel.


__ADS_3

Darrel saat ini tengah dalam perjalanan, menuju ke tempat yang telah Aji sebutkan, dia benar-benar tidak sabar untuk menemui Trisha.



Begitu sampai di sebuah bangunan yang cukup jauh dari jalan raya, juga jauh dari pemukiman, dia segera turun dari mobilnya.



Dia segera meminta para anak buahnya untuk memasuki ruangan itu, dia membuka pintu yang sudah usang itu dengan cara menendangnya, hingga menimbulkan suara keributan.



"Apa yang kalian lakukan, mau apa kalian ke sini?" tanya salah seorang pria yang menjadi penyekap Trisha sebelumnya.



Tanpa menjawab ucapan dari pria itu sebelumnya, Darrel pun segera melayangkan tinjunya, pada pria itu dengan sekuan tenaga, hingga membuat pria itu terjungkal ke belakang.



"Di mana istriku!" Darrel berjongkok di depan pria itu lalu mencengkram kerah baju pria itu.


Tatapan tajamnya yang menusuk membuat pria yang kini berada di bawah kendalinya itu menatapnya dengan takut.


"Siapa kalian?" tanya teman-temannya yang berdiri tidak jauh dari posisi Darrel.



Darrel memberikan isyarat pada anak buahnya itu untuk menghajar kedua pria itu, sedangkan dirinya berhadapan dengan pria yang saat masih tidak membuka mulutnya.



"Ampun Tuan, kami benar-benar tidak tau di mana nona itu sekarang, karena tadi ada orang yang menjemputnya," ucapa pria itu pada akhirnya, karena sudah tidak kuat dengan penyiksaan yang Darrel lakukan itu.



"Katakan dengan jujur!" hardik Darrel mendudukkan pria itu.



"Kami benar-benar tidak tau Tuan, tadi memang ada surhan lain dari yang menyuruh kami sebelumnya, untuk membawa nona itu pergi dari sini."



Darrel menatap pria di belakangnya yang telah babak belur itu dengan tajam, dia kemudian memberikan isyarat lagi pada salah satu anak buahnya untuk memeriksa setiap sudut bangunan itu.



"Kalau kalian sampai berbohong aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan tangan dan kaki kalian!" ancam Darrel menghempaskan tubuh pria yang sudah lemah itu ke lantai.



Tak lama kemudian, anak buahnya kembali ke ruangan itu dengan tangan kosong.



"Maaf Tuan, tapi saya tidak menemukan keberadaan Nyonya di sini, sepertinya mereka tidak berbohong," terang pengawalnya itu, membuat dia kesal.



"S\*al, pasti si pak tua itu telah memindahkan dia sebelumnya, kalian bawa mereka ke rumah si pak tua itu," ucap Darrel dengan kesal.



Dia kemudian pergi dari bangunan itu dengan penuh dengan kemarahan, memikirkan jika dia telah dibohongi oleh papanya itu.

__ADS_1



Selama di perjalanan ke rumah Aji, Darrel hanya menatap tajam ke arah depannya, tangannya terkepal dengan kuat, pertanda amarah yang kian memuncak.



Seandainya pria yang saat ini dia hadapi bukanlah papa kandungnya, mungkin dari dulu dia sudah memberikan pelajaran pada pria paruh baya itu.



Namun, tentu saja dia tidak dapat melakukan hal itu, karena bagaimana pun, darah lebih kental dari air, ikatan antara dirinya dan pria yang selalu berlaku seenaknya itu tidak dapat diputuskan sesuka hati.



Ada darah yang sama mengalir dalam diri mereka, hingga itu menjadi penghalang antara dirinya dan papanya, apalagi mamanya sudah mewanti-wanti agar dia, tidak sampai menyakiti pria itu.



"Tuan kita sudah sampai," ucap pengawalnya yang menjalankan mobil itu.



"Seret mereka kehadapannya!' Darrel pun segera turun dari mobil, dia melangkah dengan langkah tegasnya memasuki rumah yang menjadi tempatnya menghabiskan masa kecil itu.



Di dalam sana, ternyata tidak hanya ada papanya saja, tapi juga ada seorang wanita dan pria yang hanya lebih tua satu tahun darinya.



Dia menatap keluarga yang saat ini, terlihat tengah berbincang hangat itu. Padahal baru saja beberapa jam dia membawa mamanya keluar dari rumah itu, tapi kini, papanya sudah membiarkan istri siri juga anaknya untuk menempati rumah itu.


Darrel mendorong salah satu pria yang tengah diseret oleh anak buahnya, tepat ke hadapan Aji, hingga membuat perhatian ketiga orang itu teralihkan padanya.



Aji kemudian mengalihkan pandangan ke arah Darrel, dia menatap Darrel dengan tajam, sedangkan Baryl dan mamanya menatapnya dengan sengit.



"Di mana Trisha?" Darrel bertanya dengan penuh penekanan, juga tatapan tajamnya.



Aji berdiri dari sofa tempatnya duduk, disusul oleh Baryl dan mamanya, mereka menatap bingung ke arah Darrel.



"Apa maksud kamu, bukankah aku sudah mengatakannya tadi." Aji menatapnya dengan raut tak mengerti.



"Jangan main-main lagi, kesabaranku sudah habis, katakan di mana Trisha sekarang, atau aku akan membuat anak kesayanganmu ini mendekap di penjara!" murka Darrel.



"Aku benar-benar tidak tau di mana dia!" tekan Aji.



Mendengar hal itu, Darrel menginjak punggung pria di hadapannya itu, hingga pria yang semula terduduk itu menjadi tengkurap.



"Katakan dengan jelas apa yang tadi kamu katakan, jika kamu sampai berani mempermainkan aku, maka aku akan mengirimmu ke penjara, tanpa tangan dan kaki!" ancam Darrel pada pria itu.

__ADS_1



'Ta–tadi, ada tiga orang pria yang mengatakan jika dia diperintahkan oleh Tuan, untuk membawa nona itu, mereka juga memberikan uang sisa pembayaran sebelumnya," terang pria itu dengan gelagapan karena takut.



"Apa!" sahut Aji dengan wajah bingungnya.



"Jangan mengelak lagi, katakan sekarang atau aku akan mengantarkan anakmu ke kantor polisi sekarang juga!" tekan Darrel lagi menatap Aji yang masih menatapnya dengan wajah bingungnya.



"Aku tidak pernah meminta hal itu pada mereka, aku juga belum menghubungi mereka lagi," bantah Aji.



Darrel menatap pria yang kini berada di belakang sofa yang Aji duduki sebelumnya, pria kepercayaan Aji yang bekerja sama dengannya menganggukkan kepala.



Darrel mengerti, jika itu adalah isyarat, pria itu meyakini jika apa yang Aji katakan itu, adalah kebenarannya.



"Mungkin saja, wanita itu membuat masalah dengan orang lain, atau wanita itu pergi dengan pria lain, siapa yang tau."



Darrel segera menatap Baryl dengan tajam, dia tidak terima dengan apa yang pria itu katakan.



"Jangan sembarangan bicara, kamu hanya orang asing di sini, tidak punya hak untuk bersuara," sinis Darrel pada Baryl.



Dia tentu saja tidak terima, karena pria itu menjelek-jelekan Trisha tanpa alasan.



"Aku hanya berpendapat, siapa tau aja wanita itu menjadi simpanan pria lain, hingga istri dari si pria itu mengetahuinya dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan pelajaran padanya."



Darrel semakin murka mendengar hal itu, akhirnya dia pun berjalan dengan cepat ke arah Baryl dan tanpa aba-aba.


Buk … buk


Dua pukulan segera dia layangkan pada wajah Baryl, hingga pria itu terpental ke sofa di belakangnya, dengan sudut bibir memar juga sedikit berdarah.


"Darrel berhenti!" teriak Aji sambil menarik tubuh Darrel yang siap untuk menyerang Baryl kembali.



"Lepas! Aku harus membuat mulutnya tertutup rapat agar dia tidak sembarangan bicara!" geram Darrel mencoba melepaskan dirinya dari Aji.


"Aku tidak melakukan apa yang kamu pikirkan, terserah kamu percaya atau tidak, tapi kamu jangan melampiaskan kemarahanmu pada orang yang tidak bersalah. Jadi daripada kamu membuat keributan di sini, sebaiknya kamu pergi dari sini!"


Aji melepaskan Darrel, dia berbicara dengan tegas lalu menunjuk ke arah pintu rumahnya itu.


"Ingat satu hal, kalau sampai aku menemukan bukti jika kamu dalang dari semua ini, maka kali ini aku benar-benar tidak akan memberikanmu tenang lagi!" ancam Darrel dengan tatapan permusuhannya.


Setelah mengatakan hal itu, Darrel pergi dengan perasaan kacaunya, antara kesal, marah, juga khwatir tentang keberadaan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2