Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Diculik.


__ADS_3

"Rel, aku pulangnya agak telat ya, mau nemenin dulu Pak Romi bertemu klien, karena Pak Rizky lagi tidak masuk kerja," ucap Trisha pada Darrel melalui sambungan teleponnya.



\[Baiklah, nanti kalau sudah mau pulang, segera kasih tau ya.\]



"Iya Rel, udah dulu ya, ada yang harus aku kerjakan lagi."



Setelah itu, sambungan telepon antara Trisha dan suaminya itu terputus, dia kembali melanjutkan pekerjaannya, memeriksa berkas yang akan mereka gunakan untuk pembahan dengan klien nanti.



Seleng beberapa menit, Romi keluar dari ruangannya, Trisha pun segera berdiri.



"Sudah siap semuanya Trish?" tanya Romi berhenti di depan meja kerja Trisha.



"Sudah Pak, apa kita akan berangkat sekarang?" sahut Trisha.



"Iya ayo."



"Baiklah Pak."



Trisha pun mulai membereskan berkas yang akan dibawanya, kemudian dia memasukkan berkas itu, ke tas kerja, lalu mengikuti langkah Romi yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.



Romi mengendarai mobilnya sendiri menuju ke tempat dia dan kliennya telah membuat janji, di sebuah restoran, Romi memilih ruangan privasi untuk pertemuan itu.



Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya, mereka pun telah sampai, mereka segera menuju ke ruangan yang telah direservari sebelumnya oleh Triha. Dan ketika sampai di sana, ternyata klien mereka sudah sampai lebih dulu.



"Terima kasih sudah menunggu Tuan, apa anda sudah memesan makanan?" ucap Romi tersenyum ramah, dia mendudukkan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan keliennya.



"Belum Tuan, saya juga baru saja sampai," sahut kliennya tak kalah ramah.



"Baiklah, kalau gitu mau langsung ke pembahasan atau pesan makanan dulu?" tanya Romi.



"Sebaiknya kita membahas dulu masalah pekerjaannya Tuan, agar lebih santai saat makannya," sahut kliennya lagi.



"Baiklah jika begitu," sahut Romi.



Romi dan keliennya pun memailai pembahasan tentang keunggulan masing-masing dari perusahaan mereka, hingga satu jam lamanya.



Setelah dirasa selesai, membahas masalah pekerjaan, mereka melanjutkan acara mereka itu, dengan makan malam bersama dan sesekali berbincang santai.



"Pak, saya permisi ke toilet dulu ya," pamit Trisha sambil berdiri dan menunduk.



Dia telah menghabiskan makanannya, itu sebabnya dia memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.


__ADS_1


"Iya silakan," sahut Romi mengangguk.



"Permisi semuanya," pamit Trisha lagi pada klien Romi.



Setelah itu Trisha pun mulai pergi dari ruangan itu, menuju ke toilet yang berada di luar ruangan itu, dia pergi ke toilet untuk merapikan riasanya, jadi tidak membutuhkan waktu lama, urusannya itu pun selesai.



Trisha berjalan dengan santai di lorong restoran yang sepi itu, saat tengah asyik berjalan, tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dari belakang, dan badannya di seret paksa ke arah yang sepi.



"Hemmmpt, hemmmmpt."



Trisha terus meronta sekuat tenaga untuk terlepas dari pria berbadan kekar itu, karena rontaannya itu, tas selempang miliknya itu pun terjatuh.



Di bagian belakang restoran itu terparkir sebuah mini bus berwarna hitam, kedua pria yang menyeretnya itu, segera memasukkan dia ke mobil itu dan segera pergi dari sana.



"Lepaskan aku!" teriak Trisha saat bekapan di mulutnya dilepaskan.



"Diam! Cepat sutikan itu. Agar dia bisa diam," ucap salah satu pria itu pada temannya yang tengah memasukkan cairan ke dalam suntikan.



"Tidak lepaskan aku!" Trisha terus meronta lagi saat pria itu akan menyuntikkan sesuatu padanya.



Namun, pria lainnya memegangi tubuhnya agar dia diam, setelah itu seorang pria lainnya memasangkan lakban pada tangannya juga pada mulutnya, hingga Trisha sulit untuk bergerak.



Trisha yang semula bisa bergerak, semakin lama semakin lemah, matanya kiam sulit untuk terbuka, hingga kesadarannya pun telah tertelan habis.


Sementara itu di restoran, Romi merasa heran karena Trisha sudah cukup lama pergi, tapi dia belum juga kembali.



"Baiklah, karena sekarang sudah malam, kalau begitu kita pamit terlebih dahulu Tuan," ucap kliennya sambil bangun dari kursi.



"Iya,Tuan terima kasih atas waktunya," sahut Romi yang ikut berdiri, mereka pun bersalaman dan kliennya pun pergi dari sana.



"Ke mana Trisha, kenapa lama ya, apa dia kenapa-napa," gumam Romi sambil berusaha menghubungi Trisha.



"Kenapa tidak diangkat juga," gumamnya lagi, lalu mencoba keluar dari ruangan itu, dia berjalan ke arah toilet sambil terus berusaha menghubungi Trisha.



Romi berdiri di depan lorong toilet, dia pun menghentikan seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet.



"Mbak maaf, di dalam masih ada orang tidak, soalnya teman saya dari tadi ke toilet belum kembali lagi?" tanya Romi.



"Tidak ada Mas, di sana hanya ada saya saja,"sahut wanita itu.



" Baiklah terima kasih," sahut Romi.



Suara dering di ponselnya yang masih digenggam itu membuat dia segera melihat siapa yang meneleponnya, dia pun segera mengangkat teleponnya, saat melihat nama Darrel yang tertera di layar benda pipih itu.

__ADS_1



\[Rom, kalian udah beres belum, kenapa Trisha tidak mengangkat teleponnya?\] cerca Darrel dari balik telepon saat Romi mengangkat teleponnya itu.



"Kami sudah selesai Rel, tapi sekarang Trisha tidak ada."



\[Tidak ada gimana maksudnya?\]



"Tadi dia pamit ke toilet, tapi karena lama tidak kembali juga, aku mencoba meneleponnya tidak dijawab, aku juga udah nanyain pada pengunjung yang dari toilet juga, tapi dia bilang tidak ada siapa pun di sana," terang Romi.



\[Kamu tunggulah di sana, aku akan menyusul ke sana.\]



"Baiklah kalau gitu, aku akan mencoba melihat dari rekaman cctv."



Setelah itu panggilan antara mereka berdua pun terputus, Romi segera mencari pelayan di restoran itu, lalu meminta pihak keamanan untuk mengizinkannya memeriksa cctv.



Tidak membutuhkan waktu yang lama, Darrel pun telah sampai di restoran itu, dia bertemu dengan Romi yang sudah menunggunya di depan restoran.



"Ini rekaman cctv dari jujung lorong toilet," ucap Romi saat Darrel mendekat, memperlihatkan ponselnya.



Darrel melihat rekaman itu dengan seksama, melihat apa yang terjadi pad Trisha.



"Dan ini, salah satu pelayan di sini tidak sengaja menemukan tas Trisha di belakang restoran ini, kemungkinan ini jatuh karena Trisha berusaha melawan," terang Romi menyerahkan tas Trisha padanya yang masih diam.



"Aku akan berusaha mencarinya," ucap Darrel.



"Apa kamu tidak akan mencoba melaporkan ini pada polisi?" tanya Romi.



"Tidak, aku yakin dengan melakukan hal itu malah akan membuat keselamatannya terancam, seperti kejadian beberapa tahun yang lalu," ucap Darrel.



Romi pun mengangguk, dia ingat kejadian ini tidak jauh beda dengan kejadian beberapa tahun lalu, terhadap mantan pacar Darrel.



"Terus bagaimana kamu menemukan Trisha, tanpa bantuan polisi, itu pasti akan memakan waktu yang lama," ucap Romi.



"Aku punya cara aku sendiri, sekarang sebaiknya kamu pulanglah, aku akan meminta beberapa anak buahku untuk membantu," ucap Darrel.



"Baiklah, semoga kamu cepat menemukannya," ucap Romi menepuk pundak Darrel.



Meskipun sebenarnya dia ingin membantu, tapi melihat Darrel sepertinya tidak ingin dia terlibat, dia pun memilih untuk mengalah, Romi hanya akan menunggu kabar selanjutnya dari Darrel saja.



Dia yakin kali ini Darrel sudah mempersiapkan segalanya, dia sudah belajar dari masa lalu jadi dia tidak terlihat tegang, meskipun raut khawatir tidak dapat dia sembunyikan.



Mereka akhirnya berpisah, Darrel pergi ke rumahnya menemui anak buahnya untuk mencari tahu ke mana perginya mobil yang membawa Trisha itu.

__ADS_1



Dia juga mencoba menghubungi orang kepercayaan papanya untuk mengawasi pergerakan papanya, lalu memberikan dia kabar jika dia menemukan hal yang berhubungan dengan Trisha.


__ADS_2