Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Khawatir


__ADS_3

"Rel, maaf. Tadi tidak seharusnya aku berbicara kasar pada Mama kamu," ucap Trisha saat mereka sudah memasuki kamar mereka.



Darrel yang mendengar hal itu segera berbalik dan menatap Trisha dengan dalam.



"Aku marah bukan karena kamu berbicara pada Mama aku," sahut Darrel membuat Trisha yang semula menunduk, mulai mengangkat wajahnya.



Wanita itu menatap suaminya dengan heran, jika bukan karena dia berbicara seperti itu pada mamanya, terus kenapa pria itu memasang wajah datarnya sepanjang jalan, juga mendiamkannya.



"Terus karena apa dong? Kamu terus diam selama di perjalanan," sahut Trisha masih menatapnya dengan heran.



"Aku marah karena kamu tidak menghindar saat Mama aku nampar kamu ... lihat, bahkan pipi kamu pun sampai merah seperti ini." Darrel mengusap pipi Trisha yang memang masih merah, tercetak cap tangan mamanya.



Mendengar Darrel marah karena menghawatirkannya, membuat dia dengan segera memeluk suaminya, membenamkan wajahnya di dada kokoh itu.



"Aku baik-baik saja tamparan Mama kamu juga tidak terlalu kuat dan tidak terlalu sakit juga," sahut Trisha dalam dekapan suaminya itu.



"Lain kali, kalau ada yang meminta kamu untuk bertemu jangan diladeni, abaikan saja. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa."



Darrel melepaskan pelukan mereka, lalu menatap Trisha dengan raut khawatirnya, dia kemudian menatap pipi wanita si pemilik hatinya itu, lalu mengusapnya dengan hati-hati.



"Iya, nanti aku tidak akan meledeninya," sahut Trisha mengangguk.



"Biar aku kompres dulu pakai es ya pipinya," ucap Darrel yang langsung melepaskan jas yang masih membalut tubuhnya itu, lalu menggulung lengan kemejanya, sampai sikut.



"Tidak usah Rel, ini baik-baik saja kok, kamu sebaiknya mandi dulu gih," ucap Trisha menahan langkah Darrel.



"Aku bisa mandi nanti setelah mengompres pipi kamu, tunggulah sebentar, aku mau ngambil dulu es sama kain untuk ngompresnya."



Melihat Darrel sudah keluar dari kamarnya, Trisha pun hanya pasrah, menuruti apa yang suaminya itu ucapkan, dia menunggu Darrel samil mendudukkan dirinya di sofa.



Ternyata hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, suaminya itu sudah datang dengan semangkuk es batu, juga handuk kecil yang akan dia gunakan untuk mengompres pipinya.



"Ayo menghadap ke sini," ucap Darrel yang sudah duduk di sampingnya.



Trisha pun menurut, dengan membalikkan badannya menghadap ke arah Darrel. Suaminya itu mengompres pipinya dengan telaten dan lembut, sikap Darrel saat berhadapan dengannya berbanding terbalik, jika tengah berada di depan orang lain.



Di depannya pria itu selalu menunjukkan sikap lembut dan penuh kasih sayang, meskipun terkadang sikap diktatornya masih ada, tapi jika di depan orang lain, selalu tegas, juga selalu menunjukkan ekspresi wajah dinginnya.


__ADS_1


Bahkan tadi, dia juga melihat sikap dinginnya itu dia tunjukan pada Merry, wanita yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri.



"Kenapa kamu bersikap setegas itu pada mama kamu, seharusnya kamu tidak perlu setegas itu, meskipun mungkin dia salah, tapi dia tetap orang yang harus kqmu hormati dan sayangi," tutur Trisha.



Darrel menatapnya dengan dalam, tanpa menghentikan kegiatannya itu, tak lama kemudian dia menarik napas dengan dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.



"Sebenarnya aku juga tidak ingin bersikap seperti itu, tapi aku selalu merasa kecewa padanya, karena dia selalu mengikuti apa yang Papa aku katakan, tidak peduli itu salah atau benar, itulah yang membuat aku merasa kecewa."



"Mungkin saja mama kamu melakukan hal itu, karena dia sangat mencintai papa kamu, jadi dia selalu mengikuti apa yang papa kamu inginkan."



"Iya, bahkan dia selalu tutup mata dengan kesalahan-kesalahan yang papa aku lakukan, meskipun itu menyakiti hatinya sendiri."



"Sudahlah jangan membahas tentang mereka, sekarang sebaiknya kita mandi bareng untuk mempersingkat waktu."



Mendengar hal itu Trisha langsung menggelengkan kepala, menolak ajakan dari suaminya itu, dia berpikiran negatif tentang ajakan mandi bersama itu.



"Tidak, aku nanti saja mandinya, kalau kita mandi bareng nanti yang ada bukannya mempersingkat waktu, malah memperlambat waktu," gerutu Trisha.



Tak lama kemudian, terdengar tawa nyaring dari Darrel dengan apa yang diucapkannya itu, dan hal itu sontak membuat Trisha menatapnya dengan bingung.




Trisha jadi malu sendiri karena telah berpikiran terlalu banyak tentang ajakan suaminya itu, hingga tanpa terasa wajahnya terasa panas karena malu.



"Sudahlah ayo, aku cuma ingin kita mandi bareng aja, kamu bisa mandi pakai bathub dan aku mandi pakai shower," ucap Darrel yang segera bangun dari tempat duduknya.



"Ayolah Trish, kamu tidak ingin suami kamu ini meninggal karena kelaparan bukan? Apalagi tadi aku sampai lupa makan siang," ajak Darrel karena Trisha masih tidak bergerak.



"Kenapa kamu tidak makan siang?" tanya Trisha dengan kaget mendengar apa yang Darrel ucapkan itu.



"Aku benar-benar sibuk seharian ini, karena tidak ingin sampai pulang telat, akhirnya aku membereskan semua pertemuan," ucap Darrel dengan santai.


"Kenapa tidak kamu tunda dulu beberapa menit untuk makan sih Rel, jangan dibiasakan sampai telat makan seperti itu, nanti kamu sakit lagi," omel Trisha yang sudah mulai bergerak menuju ke kamar mandi.


"Sakit juga tidak apa-apa, karena sekarang ada kamu yang akan merawat aku," sahut Darrel dengan santai.


"Tapi lebih baik menjaga daripada mengobati, ya udah cepat mandi, kita harus segera makan," tutur Trisha yang langsung dituruti oleh Darrel.



Mereka pun mandi bersama, sesuai dengan apa yang direncanakan, setelah mandi mereka langsung menuju ke meja makan.



"Apa saja yang mama aku katakan tadi?" tanya Darrel di sela-sela makannya.


__ADS_1


"Mama kamu hanya minta aku buat jauhi kamu," sahut Trisha sambil fokus pada makanannya.



"Terus apa jawaban kamu?" tanya Darrel dengan wajah penasarannya.



"Tentu saja aku menolaknya, karena aku merasa tidak ada alasan untuk meninggalkanmu, kapan lagi kan, jadi istri dari pria kaya raya," sahut Trisha dengan terkekeh.



"Jadi kamu bertahan bukan karena mencintaiku, tapi karena harta yang aku miliki saat ini hemmm?"



"Cinta sih, tapi karena kamu kaya juga," sahut Trisha dengan santai.



Mendengar hal itu, Darrel hanya tersenyum, karena dia tahu, Trisha mengatakan hal itu hanya asal bicara saja. Pria itu tahu, jika alasan istrinya menolak untuk pergi darinya bukan karena harta semata.



Kalaupun seandainya, Trisha bertahan dengannya hanya karena harta yang dimilikinya, dia pasti sudah menghambur-hamburkan uang dari kartu yang dia kasih.



Namun, hingga saat ini dia belum mendapatkan notifikasi pengeluaran sepeser pun dari kartu yang diberikannya, karena dia yakin wanita di depannya itu, selalu membeli keperluan pribadinya, menggunakan gajinya sendiri.



"Tapi meskipun itu benar, kamu bertahan di sampingku hanya karena harta saja, itu berarti aku harus bekerja lebih keras lagi agar bisa mendapatkan harta lebih banyak lagi, agar kamu bisa selalu ada di sampingku," timpal Darrel.



"Maka bekerja keraslah Rel," sahut Trisha tersenyum lebar.



"Oke Sayang, aku akan bekerja keras untuk kita dan anak-anak kita kelak," sahut Darrel dengan penuh semangat.



Mendengar Darrel menyebut-nyebut anak, membuat Trisha menatap suaminya dengan dalam.



"Kenapa?" tanya Darrel karena menyadari Trisha yang terus menatapnya.



"Apa kamu ingin segera memiliki anak?" tanya Trisha menatapnya dengan serius.



Darrel tersenyum mendengar hal itu, lalu menggenggam tangan Trisha yang berada di atas meja.



"Tentu saja, tapi aku hanya ingin memiliki anak ketika kamu sudah siap saja," sahut Darrel.



Trisha tersenyum mendengar hal itu, dia senang karena Darrel menghargai dirinya, juga menghargai keputusannya.



"Terima kasih Rel," ucap Trisha.



"Sama-sama, selesaikan makannya, masih ada hal yang harus kita kerjakan lagi," sahut Darrel mengedipkan sebelah mata.


__ADS_1


Trisha tersenyum karena tahu, kerjaan apa yang harus mereka kerjakan malam ini.


__ADS_2