Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Berusaha Tidak Peduli


__ADS_3

Darrel masih teguh dengan pendiriannya, yaitu diam di halaman rumah Trisha, meskipun kini hari telah berubah dari yang semula terang, hingga kini bumi telah dihiasi oleh kegelapan.



Jas yang semula membalut tubuhnya itu, kini sudah terlepas dari badannya, menyisakan kemeja berwarna kream yang bagian tangannya sudah dilipat, hingga sampai ke siku.



"Aku mohon keluarlah Trish, beri aku waktu untuk menjelaskannya," ucap Darrel lagi untuk kesekian kalinya.



Namun, apa yang dilakukan dan dikatakannya itu, tidak mampu membuat hati Trisha goyah, wanita itu juga masih tetap dengan pendiriannya, dia berusaha tidak mengindahkan dirinya.



Trisha yang sedang makan malam di meja makan, berusaha mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya, meski terasa hambar.



"Sampai kapan dia seperti itu, apa dia tidak akan pulang, ini bahkan sudah waktunya makan malam," gumam Trisha yang tidak bisa berbohong, jika dia merasa sedikit khwatir.



"Apa aku keluar aja ya, dan suruh dia untuk pulang?"



"Tapi kalau aku keluar, nanti dia akan berpikiran jika aku berubah pikiran."



Trisha terus berbicara pada dirinya sendiri, karena merasa nafsu makannya tidak ada, dia pun memutuskan untuk mengakhiri makannya itu.



Dia berjalan ke arah ruang depan, kini terdengar hujan turun di luar sana, hati kecilnya ingin agar dia keluar untuk menemui Darrel, tapi akal sehatnya menahannya.



"Sekali kamu menengok, maka kamu tidak akan bisa melangkah lagi Trish, jangan ppedulikan dia," gumamnya sambil mondar-mandir di depan pintu,



"Ingat statusnya Trish, mungkin saja saat ini istrinya sedang menunggunya dengan khawatir di rumah, jika kamu melihatnya lagi ke luar, maka kamu akan lebih menyakiti hati wanita lain, juga hatimu sendiri."


Trisha akhirnya menarik napas sedalam-dalamnya, setelah itu dia pun melangkah menuju ke kamarnya, berusaha untuk tidur.


Dia merebahkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, berusaha memejamkan matanya, tapi sekuat apa pun dia berusaha tidak peduli.


Relung hatinya tidak bisa dibohongi, jika dia khwatir dengan pria itu, apalagi dia dapat mendengar suara hujan yang semakin deras.



"Apa dia sudah menyerah?" tanyanya, lalu mulai turun dari ranjang.



Dia kembali menuju ke ruang depan rumahnya, mencoba mengintip keadaan di luar dengan membuka sedikit gorden yang menutupi kaca jendela rumah itu.



Dilihatnya, Darrel yang ternyata masih ada di sana, dia membiarkan tubuhnya basah oleh guyuran air hujan itu, kepalanya tertunduk.



"Kenapa kamu keras kepala," gumam Trisha menatap Darrel di luar sana.

__ADS_1



Baru saja dia akan kembali menutup gorden itu, tapi tubuh Darrel tiba-tiba saja sudah tergeletak begitu saja, hingga membuat Trisha membelalak.



Dia baru saja akan membuka pintu, tapi setelah sadar itu tidaklah benar, dia pun menghentikan gerakannya.



"Tidak Trish, kamu jangan pernah menarik kata-katamu sendiri."



Trisha mengepalkan tangannya, memerangi dirinya sendiri agar tidak goyah, meskipun rasa sakit, dia rasakan e melihat Darrel yang seperti itu.



"Hubungi Andi, iya hubungi saja dia," ucap Trisha.



Dia baru teringat tentang sopir Darrel itu, dia pun mengambil ponselnya yang dari kemarin tidak dia hidupkan, dari dalam kamarnya.



Setelah itu menghubungi Andi, agar dia bisa datang ke tempatnya dan membawa Darrel yang tidak sadarkan diri itu untuk pulang.



"Halo Andi," ucap Trisha saat panggilannya itu mendapatkan jawaban.



\[Iya Non, ada yang bisa saya bantu?\]




\[Apa! Baiklah saya akan segera ke sana.\]



Trisha keluar dari rumahnya, membawa serta payung, lalu berdiri di depan Darrel yang tengah pingsan itu, menatapnya dengan lamat.



"Kita tidak akan bisa bersama Rel, selain karena kamu sudah memiliki kehidupan lain, kita juga berada di sisi dunia yang berbeda," gumamnya sambil menatap wajah pucat yang kini tengah memejamkan matanya itu.



Sekuat apa pun, dia berusaha tidak peduli, tapi hatinya tetap tidak bisa dibohongi, dia masih sangat peduli pada pria itu.



"Aku harap ini yang pertama dan terakhir, kamu melakukan kesalahan seperti ini Rel, hiduplah dengan baik, aku tau kamu adalah pria yang baik."



Pedih, tentu saja. Baru kali ini dia dapat merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, menikmati manisnya mendapatkan perhatian dari lawan jenis.



Namun, ternyata hal itu seperti mimpi, mimpi yang hanya datang saat dia tertidur, mimpi yang hanya terasa manis sesaat, semunya kembali seperti sebelumnya, saat dia terbangun.


__ADS_1


"Aku kira aku bisa sekeras itu padamu, tapi ternyata kali ini aku kalah, tapi ke depannya aku tidak akan kalah lagi, ini adalah kepedulianku sebagai sesama," gumamnya lagi, berusaha tersenyum.



Trisha mulai mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, saat mendengar suara mobil yang berhenti di depannya.



"Non Trisha, kenapa dengan Tuan muda?" tanya Andi saat melihat Darrel.



"Kamu bantu aku bawa dia ke mobil, setelah itu bawalah dia ke rumah sakit," sahut Trisha tanpa menjawab pertanyaan Andi.



"Baiklah Non," sahut Andi.



Mereka pun mulai mengangkat tubuh lemah Darrel dan membawanya ke mobil, kini Andi dan Trisha pun sama-sama basah karena mereka terpaksa tidak memakai payung saat membawa Darrel ke mobil.



Meski dengan sedikit kesusahan karena bobot Darrel yang cukup berat, tapi mereka berhasil membawa Darrel ke dalam mobil.



"Kamu segeralah bawa dia ke rumah sakit," ucap Trisha saat berhasil memasukkan Darrel ke dalam mobil yang Andi bawa.



"Baik Non, Non Trisha tidak ikut ke rumah sakit?" tanya Andi dijawab gelengan oleh Trisha.



"Tidak, pergilah sendiri, jika dia bangun nanti, jangan katakan kalau aku yang membantunya dan menghubungimu, katakan saja kalau kamu dibantu dan dihubungi oleh tetangga di sini," terang Trisha sambil menutup pintu mobil itu.



"Baiklah Non," sahut Andi meskipun dengan sedikit kejanggalan di hatinya.



"Kalau begitu saya permaisi dulu Non, mau langsung bawa tuan muda untuk ke rumah sakit," pamit Andi.



"Iya pergilah, kamu hati-hati menyetirnya."



Trisha menatap mobil yang membawa Darrel menjauh dari kediamannya itu dengan lamat, di bawah hujan yang masih terus mengguyur tubuhnya.


Melarutkan air mata yang sebenarnya sudah turun dari tadi di pipi, dia sebenarnya tidak ingin menangis karena hal itu lagi.


Namun ternyata air mata tidak bisa bohong, dikala hatinya tengah merasa tidak baik-baik aja, maka setiap buliran itu akan turun sebagai tanda, jika dia tidak sekuat itu.



Saat merasa hawa dingin semakin menusuk sampai ke tulangnya, tubuhnya pun sudah mulai bergetar menahan dingin, dia pun memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya.



Dia tidak boleh sakit, karena besok dia harus kembali bekerja, mulai dari besok dia harus menjalani hidup seperti sebelumnya, ditemani oleh kesedirian.


"Kamu pasti baik-baik saja Rel."

__ADS_1


__ADS_2