Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Menikmati Waktu Bersama Setelah Baikan


__ADS_3

"Kamu tidak Ke kantor?" tanya Trisha yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya masih leha-leha di atas ranjangnya.


Tidak seperti biasanya, pria itu udah rapi dengan setelan kerjanya, bahkan terkadang suaminya itu sudah tidak ada lagi di rumahnya.


"Tidak, kamu juga sinilah," sahut Darrel sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


"Aku harus siap-siap Rel," sahut Trisha yang akan berjalan ke arah ruang ganti.


"Aku udah minta izin pada Romi agar kamu libur juga hari ini."


Mendengar apa yang suaminya itu ucapkan, Trisha menghentikan langkahnya dan menatap Darrel dengan sedikit kesal, tidak suka dengan sikap pria itu yang semaunya sendiri.


"Kenapa kamu harus lakuin itu sih," ucap Trisha menunjukan ketidaksukaannya.


"Aku ingin hari ini aja kita bersama, kita 'kan baru baikan," sahut Darrel menatapnya dengan melas, benar-benar tidak cocok untuknya itu.


"Baiklah," sahut Trisha dengan pasrah, karena percuma dia membantah, tidak akan bisa menang.


Trisha pun mendekatinya, dia juga mendudukan dirinya di samping Darrel, pria itu kemudian beringsut semakin mendekatinya, lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Trisha, menarik tangan istrinya ke kepalanya.


Trisha yang mengerti maksud Darrel itu, mengusap rambut hitam milik suaminya dengan lembut, membuat Darrel memejamkan mata, menikmati usapan lembut yang mampu membuatnya tenang itu.


"Apa kamu bisa ceritakan tentang hubunganmu dengan Nona Zola, karena kemarin aku tidak mendengar hal itu dengan rinci darinya," ucap Trisha tanpa menghentikan aktivitasnya itu.


"Aku sama dia memang menikah hanya demi membuat kerja sama antara perusahaan milik orang-tuaku dan orang-tuanya semakin kuat saja," terang Darrel masih memjamkan matanya.


Trisha menatap wajah Darrel yang tengah terpejam itu dengan seksama.


"Beberapa tahun yang lalu perusahaan papaku sempat nyaris gulung tikar, tapi berkat dukungan dari perusahaan milik keluarga Zola, aku yang saat itu sudah diberi tanggung jawab untuk menjalankannya bisa mengatasi hal itu. Karena hal itu juga orang-tuaku dan orang-tua Zola memutuskan untuk pernikahan kami, dan kami tidak diberi pilihan untuk menolak."



"Apa kalian tidak pernah mencoba untuk saling menerima pernikahan itu, bukankah biasanya meskipun pada awalnya tidak saling menintai, tapi seiring dengan berjalannya waktu rasa itu akan hadir."



"Itu tidak berlaku pada kami, dari awal kami memang tidak akan pernah bisa bersatu, buktinya dengan pernikahan kita yang sudah mau tiga tahun aku tidak bisa memiliki perasaan padanya, begitu pun sebaliknya."



Apa yang Darrel ucapkan itu tidak jauh berbeda dari apa yang Zola ucapkan sebelumnya.

__ADS_1



Darrel menghetikan ceritanya itu, dia kemudian menatap Trisha yang masih mengusap kepalanya dengan lembut, sambil menatapnya. Hingga terjadilah saling tatap di antara mereka, Darrel kemudian mengabil tangannya yang masih bergerak lembut di kepalanya.



Dikecupnya dengan lembut tangan itu, tanpa mengalihkan tatapan ke arah lain, masih menatap Trisha dengan dalam.


"Tapi berbeda saat aku bertemu denganmu, aku benar-benar merasakan apa itu cinta pada pandangan pertama," terangnya lagi masih dengan mata yang terpaku pada Trisha.


Mendengar hal itu membuat seulas senyum terbit di bibir ranum istrinya yang selalu membuat dirinya tidak tahan untuk menyerang bibir hangat nan lembut itu.


"Apa dulu kamu pernah jatuh cinta sebelumnya, wanita seperti apa yang kamu cintai dulu?"  tanya Trisha dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya itu.


"Pernah, aku jatuh cinta pada wanita yang dulu satu kampus denganku, wanita yang selalu ceria juga agak ribut," terang Darrel apa adanya.


"Terus kenapa kamu putus, apa kalian tidak direstui?" tanya Trisha dengan penasaran.


"Iya, orang-tuaku tidak merestui hubungan kita, karena perbedaan status sosial kita, thingga akhirnya dia meninggal karen sebuah kecelakaan."


Trisha menatap perubahan dari raut wajah suaminya itu, entah kenapa dia melihat jika pria itu terlihat sedih saat megatakan tentang kematian mantan pacarya. Dan hal itu membuat dia berpikir jika Darrel sedih karena masih memiliki prasaan pada wanita yang dulu sempat mengisi hari-harinya itu.


"Apa dulu kamu begitu mencintainya?" tanya Trisha menatap dalam mata Darrel, mencari sebuah kebenaran dari kata yang akan suaminya ucapkan itu.


Trisha tersenyum dan berusaha percaya dengan ucapan pria itu, meskipun ada sedikit keraguan dalam hatinya, tentang Darrel yang masih mencitai wanita di masa lalunya itu.


Namun, meskipun Darrel masih memiliki perasaan pada wanita itu, bukankah itu hanya masa lalu dan tidak akan bisa merubah apa pun, karena mantannya itu telah berada di alam yang berbeda, Trisha meyakinkan hatinya untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Kenapa malah melamun?" tanya Darrel kembali memberikan kecupan serta usapan lembut di tangan Trisaha.


"Tidak kenapa-napa kok. Oh iya aku lapar nih, kita sarapan dulu yuk," ajak Trisha yang memang sudah ersa lapar.


Trisha memang tipe orang yang selalu mengutamakan sarapan, jadi prutnya tidak bisa kompromi, jika dia belum sarapan.


"Baiklah ayo," sahut Darrel yang langsung menegakan tubuhnya itu.



Mereka berdua pun mulai berjalan dengan beriringan keluar dari kamarnya, menuju ke meja makan. Laila dan Marni yang melihat Darrel dan Trisha kini sudah tidak perang dingin itu pun menjadi senang.


__ADS_1


"Besok aku harus kerja ya," ucap Trisha pada Darrel di tengah-tengah sarapannya.



"Iya, besok juga aku harus kembali ke kantor, karena kalau aku tidak ke kantor terlalu lama pasti si pak tua pasti curiga padaku," ucap Darrel.


"Pak tua?" sahut Trisha dengan heran.


"Papa aku," sahut Darrel dengan malas.


"Oh iya, bagaimana kalau sampai keluargamu tau tentang pernikahan kita?" tanya Trisha terbesit kekhawatiran dalam benaknya, tentang keluarga dari Darrel ataupun Zola.


"Kamu tenang aja, jika nanti mereka tau, aku pasti akan menjagamu, tidak akan membiarkan mereka mengganggu kita," ucap Darrel menggenggam tangan Trisha yang berada di meja.


"Aku akan melakukan apa pun agar kamu selalu baik-baik saja," sambung Darrel dengan penuh keseriusan.



Trisha kembali tersenyum, mendengar hal itu, dia pun mengusap tangan Darrel yang masih menggenggam tangannya itu dengan lembut.


"Iya, aku percaya padamu," sahut Trisha.


Darrel pun ikut tersenyum karena hal itu, setelah itu mereka pun melanjutkan kembali sarapan mereka, hingga mereka pun menyelesaikan sarapannya itu.


Mereka pun kembali ke kamar sesuai dengan permintaan Darrel yang ingin terus menempel pada Trisha.


"Hari ini aku ingin kita menghabiskan waktu bersama," ucap Darrel saat mereka telah selesai makan.


"Tapi tidak seperti ini juga kali Rel," sahut Trisha memutar matanya malas karena sikap suaminya itu.


"Emang kenapa, kita harus memanfaatkan waktu libur kita sebaik mungkin, karena mulai besok kita akan sibuk lagi dan jarang ketemu." Darrel terus mendusel pada dada Trisha.


"Tapi 'kan setiap minggunya kita bisa libur," sahut Trisha.


"Tetap saja itu beda Sayang."


"Tapi aku sulit bergerak, jika kamu seperti ini terus," keluh Trisha.


"Maka kamu diam saja, janngan bergerak, cukup usap-usap kepalaku, biar aku bisa tidur lagi dengan tenang," sahut Darrel memejamkan matanya.


Trisha akhirnya tidak punya kata untuk menyahuti setiap kata dari suaminya itu lagi, dia hanya pasrah membiarkan Darrel tetap dalam posisinya itu.

__ADS_1


Sementara Darrel, kini sudah mulai memejamkan mata menikmati pelukannya pada Trisha yang dapat menenangkan dirinya.


     


__ADS_2