
\[*Temui saya di restoran ... jam lima sore, jangan sampai Darrel tau*.\]
Isi pesan yang diterimanya di tengah-tengah kegiatannya itu, membuat dia bertanya-bertanya, tentang siapa yang mengirimkan pesan itu.
"Apa ini orang-tua Darrel?" tanya Trisha karena melihat nama Darrel dibawa-bawa dalam pesan itu.
Trisha memilih mengabaikan pesan itu terlebih dahulu, lalu kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan, karena tidak akan lama lagi waktu pulang akan segera tiba.
Setelah beberapa jam berkutat dengan berkas dan layar komputer, kini tibalah saatnya untuk pulang kerja, dia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku terlebih dahulu karena seharian duduk.
"Anda akan pulang sekarang Pak?" tanya Trisha yang melihat Romi keluar dari ruangannya.
"Iya, kamu belum mau pulang?" Roni menghentikan langkahnya di depan meja Trisha.
"Saya sebentar lagi Pak, beres-beres dulu," sahut Trisha.
"Baiklah, kalau gitu aku duluan," pamit Romi.
"Iya Pak." Trisha menunduk hormat sebagai jawaban.
Trisha pun memutuskan mengikuti apa yang ada di pesan itu, dia berencana untuk menemui orang yang mengirimkan pesan padanya.
Namun, sebelum itu dia sudah mengirimkan pesan pada Andi terlebih dahulu, jika dia akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, jadi meminta sopirnya itu untuk tidak menjemputnya.
Selama dalam perjalanan ke tempat yang tertera di pesan itu, dia terus berpikir, bagaimana bisa orang yang mengirimkan pesan padanya itu tahu nomor teleponnya.
Akhirnya, kini dia telah sampai di tempat yang sesuai dengan yang ada di pesan itu, dia pun turun dari taksi yang ditumpangi, lalu berjalan memasuki restoran itu tanpa ragu.
Begitu sampai di dalam, dia memindai setiap sudut di restoran itu, mencari orang yang mengirimkan pesan padanya, hingga matanya menangkap sososk wanita yang lebih muda dari Ayu, tengah duduk sambil melihat ke arah lain.
"Selamat sore Nyonya," sapa Trisha dengan tenang, juga sopan.
Mendengar sapaan darinya itu, Merry yang semula melihat ke arah lain, langsung mengalihkan perhatian padanya yang sudah berdiri di depan meja yang didudukinya.
Trisha dapat melihat, tatapan menilai dari Merry yang menatapnya dari atas sampai bawah itu dengan intens, meskipun sedikit tidak nyaman tapi dia berusaha bersikap biasa saja.
"Duduklah," ucap Merry masih dengan wajah kalemnya.
__ADS_1
Meskipun umurnya sudah menginjak lebih dari kepala lima, tapi itu tidak terlalu kentara, dengan penampilan yang masih terlihat elegan.
Trisha pun mengangguk, dia duduk di kursi yang ada di depan Merry, setelah Trisha duduk, wanita yang tidak lain adalah mertuanya itu mulai memanggil pelayan dan memesan minuman.
"Pesanlah," ucap Merry pada Trisha.
"Maaf, tapi saya tidak bisa lama berada di sini," sahut Trisha dengan berani.
Dia memang tidak berniat lama, karena dia yakin Andi sudah mengatakan jika dia tidak menjemputnya pada Darrel dan dia yakin, suaminya itu akan segera menghubunginya.
"Baiklah, itu dulu saja," sahut Merry beralih pada pelayan yang masih menunggu di samping mejanya.
Setelah pelayan yang selesai mencatat minuman pesanannya itu, Merry kembali menatap Trisha dengan intens.
"Jika kamu memang tidak bisa lama-lama, maka aku akan langsung berbicara pada intinya ... jauhi anak saya," ucap Merry dengan serius.
Trisha hanya tersenyum samar mendengar hal itu, sesuai dengan apa yang diperkirakan olehnya, jika maksud dari Merry menghubunginya untuk mengatakan hal itu.
Dulu dia sering melihat adegan ini di sebuah film, kini dia mengalaminya secara langsung, apa wanita di depannya itu juga akan menyodorkan uang padanya, agar dia mau menjauhi suaminya.
"Tidak ada alasan kamu bilang, bukankah kamu tau status anak saya saat ini apa!" tekan Merry.
"Ya saya tau, Darrel adalah pria yang sudah memiliki istri." Trisha manggut-manggut.
"Apakah alasan itu tidak cukup! Seharusnya sebagai seorang wanita kamu bisa mengerti, apa yang akan istrinya rasakan jika mengetahui tentang hubungan terlarang kalian, apa kamu senang berbahagia di atas kesedihan wanita lain?" cerca Merry.
Trisha menatap Merry dengan santai, lalu berucap, "Apa anda benar-benar ibunya?"
"Apa maksudmu?" Merry menatap Trisha tajam, karena merasa tersinggung dengan apa yang diucapkannya itu.
"Anda bahkan tidak tau bagaimana perasaan anak anda sendiri."
"Jangan lancang kamu ya, jangan mentang-mentang saat ini Darrel berada di pihakmu, hingga kamu bisa bersikap seenaknya!" bentak Merry.
"Maaf jika anda tersinggung, tapi jika anda benar-benar ibunya Darrel, anda pasti tau apa yang dia rasakan dan yang dia inginkan, anda tidak akan menganggapnya boneka yang bisa anda dan suami anda gerakan sesuka hati kalian—"
*Plakkkkk*....
__ADS_1
Trisha tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena sebuah tamparan yang Merry layangkan padanya itu.
Dia kemudian mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk karena tamparan yang diterimanya, lalu dia menatap Merry dengan berani, tidak ada raut khawatir atau takut sedikit pun.
Setelah mendengar apa yang Zola ucapkan beberapa waktu lalu, dia sudah mempersiapkan dirinya untuk hal-hal semacam ini, bahkan untuk yang lebih dari ini.
Seperti apa yang dia ucapkan pula sebelumnya, jika dia tidak ingin menjadi kelemahan untuk Darrel, tapi dia juga ingin menjadi kekuatan untuk suaminya, agar dia bisa sama-sama memperjuangkan cinta mereka.
"Apa anda tersinggung dengan ucapan saya Nyonya, atau anda merasa tertampar atas apa yang saya katakan ini." Trisha menyunggingkan bibirnya.
"Untuk permintaan anda itu, saya tekankan pada anda, jika saya tidak pernah menurutinya, karena jika bukan Darrel sendiri yang menginginkan saya untuk pergi. Maka saya tidak akan pernah pergi, saya akan tetap berada di sampingnya!" tegas Trisha yang sudah berdiri di depannya.
Dia masih menatap Merry yang sudah berdiri dari tadi dengan berani, hingga dia merasakan tangannya digenggaman oleh sebuah tangan besar.
Trisha menoleh ke sampingnya, ternyata kini Darrel sudah berdiri di sampingnya, menatap Merry dengan tatapan kecewa yang terpancar jelas di mata tajamnya itu.
"Bukankah Darrel sudah bilang, jangan usik Trisha," ucap Darrel pada Merry yang tatapannya sudah sedikit melembut.
"Ayo kita pergi," ajak Darrel berbalik dan menarik tangan Trisha.
"Mama melakukan ini demi kebaikannya, karena jika sampai Papa kamu sendiri yang turun tangan, maka kamu pasti tau apa yang akan terjadi padanya!"
Mendengar ucapan mamanya itu, Darrel menghentikan langkahnya, tangannya mengepal dengan kuat.
"Aku tidak seperti dulu lagi, aku tidak akan tinggal diam jika dia benar-benar mengusik kami, berhentilah mengusik kami. sebelum aku benar-benar kecewa pada Mama," sahut Darrel tanpa berbalik.
Dia kemudian melanjutkan langkahnya, meninggalkan restoran itu dengan Trisha yang masih digandengnya.
Trisha menatap punggung Darrel itu dengan menggigit bibir bawahnya, dia berpikir apakah pria itu mendengar ucapannya tadi yang sempat tidak sopan pada mamanya.
Dia yakin jika suaminya itu pasti marah padanya, karena walau bagaimanapun dia telah berkata kasar pada wanita yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya.
"Masuk!" perintah Darrel dengan nada dingin, sambil membuka pintu penumpang.
Trisha pun masuk ke dalam mobil dengan patuh, karena tidak ingin membuat Darrel semakin marah padanya.
Setelah Trisha duduk dengan nyaman di kursi penumpang, Darrel pun menutup pintu mobil dan langsung memutari mobil itu, dia duduk di balik setir dan langsung menjalankan kendaraan beroda empat itu.
__ADS_1