
Trisha mulai membuka mata, dia kemudian mendudukkan dirinya, memperhatikan tempatnya terbangun itu. Tempat yang asing, tapi keadaan di sana lebih baik daripada tempat dia disekap sebelumnya.
Saat ini dia tengah berada di sebuah kamar dengan perabotan yang lengkap, kamar itu berukuran lumayan besar, dengan ranjang yang ditempatinya itu cukup nyaman.
"Ini di mana lagi, kenapa orang-orang itu membawaku ke sini?" gumam Trisha dengan bingung.
Saat tengah diliputi oleh pertanyaan dalam pikirannya, suara pintu yang terbuka membuat dia mengalihkan perhatian pada seseorang pria yang mulai memasuki kamar itu.
Dia hanya diam memperhatikan apa yang akan pria itu lakukan, pria itu tidak bicara apa pun, hanya memasang wajah kakunya lalu menyimpan sebuah nampan yang dibawanya.
"Makanlah," ucap pria itu menatap dirinya dengan datarnya.
Trisha tidak bergerak sedikit pun, dia menatap makanan itu dengan waspada, takut jika makanan itu diracuni atau apa pun yang membahayakan dirinya.
"Makanlah, itu tidak diracuni, saat ini bosku masih membutuhkanmu, jadi dia tidak akan meracunimu," ucap Pria itu karena melihat kewaspadaan yang ditunjukkan oleh Trisha.
Akhirnya Trisha pun mulai mengambil makanan itu, lalu memakannya sedikit demi sedikit.
Dia melihat ke arah jendela yang belum tertutup oleh gorden, di luar sudah gelap, itu artinya saat ini sudah malam.
"Jangan berpikir untuk kabur lewat jendela, karena tempat ini berada di lantai 20, kecuali jika kamu memang ingin mati dengan melompat," tutur pria itu berpikiran jika Trisha memikirkan cara untuk kabur.
"Aku tidak berpikiran seperti itu, sbenarnya siapa bos kalian, apa itu adalah Tuan Aji?" tanya Trisha menatap pria di depannya itu dengan serius.
"Nanti juga kamu akan bertemu dengannya jika sudah waktunya," ucap pria itu masih dengan wajah datarnya.
Trisha tidak berbicara lagi, dia menyelesaikan makanannya, lalu meminum air minum yang pria itu bawa tanpa curiga sedikit pun.
"Kalau kamu bersih-bersih pergilah, itu kamar mandinya," ucap pria itu menunjuk sebuah pintu yang berada di depan pintu masuk kamar itu.
Tak lama kemudian, pria itu langsung pun pergi dari sana dengan nampan di tangannya, sedangkan Trisha langsung pergi ke kamar mandi.
Dia membersihkan dirinya, karena beberapa hari tidak membersihkan diri selama dia di tempatnya disekap sebelumnya.
"Aku harus pakai apa?" gumamnya saat sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkari tubuhnya.
Dia kemudian melihat lemari besar, juga meja rias dengan alat make-up yang tersedia di atasnya dengan komplit, tapi yang aneh adalah, semua yang ada di atas meja itu adalah produk-produk make-up yang biasanya dia pakai.
Karena mendengar ada yang akan memasuki kamar itu lagi, Trisha pun kembali memasuki kamar mandi dengan langkah cepatnya.
__ADS_1
Saat dia berada di kamar mandi, seseorang memasuki kamar itu, dia merasa takut, dia berdiri dengan waspada di depan pintu, sambil memegang handel pintu untuk berjaga-jaga, jika orang itu akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kalau kamu mau ganti pakaian, ambillah yang ada di lemari," ucap pria yang tadi memberikan makanan untuknya.
Trisha menghela napas dengan lega, ketika mendengar suara langkah kaki yang pergi lagi dari kamarnya, dia pun segera keluar ketika di luar sudah sepi.
Dia segera membuka lemari yang cukup besar itu dan ternyata di lemari itu banyak baju pakaian wanita dengan lengkap.
"Apa tidak apa-apa kalau aku memakainya? Tapi kalau aku tidak memakainya aku harus memakai apa lagi, baju aku yang sebelumnya sudah benar-benar kotor," gumam Trisha menimbang-nimbang.
Akhirnya setelah beberapa saat menimbang, dia pun mulai mengambil pakaian itu satu per satu, lalu segera mengenakannya.
"Kebetulan banget, baju-baju ini begitu pas," gumam Trisha melihat bayangan dirinya di cermin ketika sudah berpakaian lengkap.
Trisha mengitari area kamar itu, hingga dia menghentikan langkahnya tepat di depan jendela yang menampilkan langit yang hitam pekat.
Trisha berpikir, bagaimana jika Darrel tidak dapat menemukannya, jangankan pria itu, dia pun saat ini tidak tahu berada di mana, meskipun dia yakin jika saat ini dia masih berada di kota yang sama.
Namun, pasti akan sulit untuk suaminya itu menemukan keberadaannya, apalagi tidak ada petunjuk sama sekali.
"Bagaimana kabar Ibu dan anak-anak, Ibu pasti akan khawatir karena aku tidak menghubunginya selama beberapa hari ini?" gumam Trisha dengan tatapan kosong pada pekatnya langit.
Dia berharap, keluarganya selalu baik-baik saja dan suaminya bisa menemukan keberadaannya.
Beberapa detik kemudian, dia tiba-tiba saja merasa mengantuk, hingga beberapa kali menguap.
"Kenapa aku ngantuk banget ya, padahal aku baru saja bangun," gumam Trisha yang merasa matanya semakin berat.
__ADS_1
Dia pun akhirnya berjalan ke arah ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya, baru saja kepalanya menyentuh bantal, dia langsung tertidur dengan begitu nyenyak.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Dan masuklah pria yang mengantarkan makanan untuknya dengan seorang pria lain yang mengikutinya di belakangnya.
"Dia sudah tertidur Tuan, saya sudah memastikan dia meminum minuman yang sudah saya kasih obat tidur di dalamnya," terang pria yang mengantarkan makanan itu.
"Bagus, kamu memang selalu bisa diandalkan, sekarang kamu pergilah. Aku ingin istirahat," ucap pria itu dengan tersenyum, sambil menatap Trisha yang telah tenang itu.
"Baik Tuan, selamat istirahat," sahut anak buahnya itu sambi menunduk hormat.
Pria itu pergi meninggalkan kamar itu, meninggalkan pria yang menyekap Trisha bersama Trisha berdua di dalam kamar itu.
Setelah anak buahnya pergi, pria itu mendekati ranjang, lalu secara perlahan naik ke atas ranjang dan duduk di samping Trisha yang tidak terusik sedikit pun dengan kehadirannya.
"Akhirnya aku bisa bersama lagi denganmu Sha, kenapa kamu bohong. Kamu bilang kamu mau menikah dan hidup bersama denganku, tapi kenapa kamu malah menikah dengan pria lain," ucap pria itu menatap Trisha dengan sedih.
Tangannya terulur, lalu menyentuh pipi Trisha, bergerak dengan perlahan, mengusap pipi, hidung, kening dan terakhir menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Trisha itu.
"Tapi aku senang, karena kita memang ditakdirkan untuk bersama Sha, kamu kini berada di sampingku, kamu akan bersama denganku selamanya."
"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi, di dekatku adalah tempat yang paling cocok untukmu."
Pria itu terus bermonolog, dengan tatapan memuja yang terpancar jelas di mata hitamnya yang pekat itu, seutas senyum terus tersungging wajahnya yang cukup tampan itu.
"Selamat istirahat sayang, akhirnya setelah bertahun-tahun, kini kita bisa bersama juga," ucap pria itu sambil membenarkan selimut yang sebelumnya Trisha tindih dengan badannya.
Setelah selesai menyelimuti tubuh Trisha, pria itu pun kembali bergerak, merebahkan tubuhnya di samping Trisha dengan mengahadap ke arahnya.
"Kamu semakin cantik Sha, dari dulu kamu selalu cantik, itulah kenapa aku tidak bisa melupakanmu, samp6 sekarang."
Pria itu terus berbicara sambil tersenyum pada Trisha, meskipun Trisha tidak akan menyahutinya karena tengah berada dibawah reaksi obat tidur yang anak buahnya masukan pada minuman wanita di depannya itu.
__ADS_1
Pria itu pun mulai memejamkan matanya, lalu dengan sengaja menyimpan tangannya di perut Trisha yang terbalut oleh selimut itu.